November 14, 2013

Semangat Pagi


Sejak bangun pagi ndak terasa semangat begitu menggebu karena lanjutan kemarin, dimana terjadi beberapa peristiwa yang membangun, mengejutkan, juga menggugah sehingga menimbulkan semangat maju seolah aku terlempar pada posisi umur 24 tahun. Dimana saatku berada di persimpangan jalan, baru punya pacar, kuliah sudah selesai, tetapi belum lulus, sementara masih ingin mengabdikan di kegiatan mahasiswa untuk menimba ilmu lebih banyak. Bersamaan dengan semangat karena secara fisik yang sedang mengarah ke kondisi prima.  Pekerjaan banyak, potensi lebar luas di depan mata, tinggal diputuskan kapan, dan mau apa.

Wow.....

Rasa batin seperti ini tumbuh sejak kuputuskan untuk keluar dari kerutinan kantor dan menemui sahabat lama yang selama inipun tidak kuhubungi.

Terutama sejak jumat lalu dimana ternyata rasa berada di ujung tanduk karena dalam hitungan detik aku bisa terlempar dan keluar dari lingkungan kantor yang selama hampir empat tahun ini membesarkanku belajar pertambangan. Apalagi hal ini sudah kubicarakan dengan pasangan dan anak, dan kamipun sudah melakukan hitungan bila saat itu terjadi. Dan menarik serta ndak dapat dikatakan kebetulan karena memang hal ini sudah aku yakini terjadi dalam hidupku belakangan ini. 

Babe dari kantor lama lewat sekretarisnya menghubungiku jumat kemarin untuk pertemuan hari selasa kemarin, dan luar biasa beliau menjelaskan kondisi dan meminta saya stay calm dan membumi saja. Sementara bertemu dengan rekan sahabat dari kantor lama yang baru bergabung di kantor baru menebarkan semangat sebab mengingatkanku untuk siap-siap refresh dan terjun ke dunia baru dan nyata yang exciting

Luar biasa.

Bertemu teman lama yang juga aktif bodybuilding kelihatan kurus membuatku takjub karena ternyata dia pindah aliran dengan telah melakukan olah raga lari selama 1 jam untuk target enam sampai tujuh km. Dilakukan beberapa kali dalam seminggu untuk mengejar sport cardio nya.  Sementara selama empat bulan lebih katanya, dia melakukan diet no carbo at all. Wow. Sharingnya adalah ndak makan nasi, mie, roti, gorengan, kue juga apapun yang mengandung gula.  Wuih apa bisa tuh?

Jadilah Rabu kemarin saya mulai olah raga 45 menit, dan berupaya ndak karbo.  Olah raga 45 menit, dapet 5,4 km dan 400 kal, mantabs.... Ternyata sampai malem, kepala mulai sakit, kayak migrain. Jadilah kuminta coklat hangat. Ternyata inget anjuran dokter Cindy kalo memang biasa karbo ya makan aja, tapi ndak berlebihan. Dan benar, setelah coklat hangat, sakitnya kepala langsung hilang.

Berikutnya, dengan bertemunya aku dengan sobat lama, yang tadinya kukhawatirkan akan minta akses project ke tempatku bekerja. Sudah langsung kujawab, maafkan saya sebab sudah ndak punya wewenang.  Ternyata dia curcol sebab pekerjaan dia untuk mendanai projectnya sebenarnya sudah memperoleh investor sejak awal tahun. Alhamdulilah...., nah ini yang mau ditanyakan. Bagaimana dana investor tersebut masuk sebab masih dari luar negeri. Nah ini suatu tantangan buatku. Dan ternyata godaan, ujian, serta akses yang selama ini kutinggalkan, mau ndak mau musti dibangun kembali. Maka kutelponlah beberapa rekan untuk menyambung cobaan ini.

Betapa ternyata Gusti Allah memberikan jalanNya untukku. Dan benarlah,seolah ada bagian dari badanku yang merespons aktif dan positif. Seolah jalan yang tadinya jalan kecil setapak, musti menyeberangi kali kecil creek, ternyata di seberang kali tersebut ada jalan beraspal, lebar 4 jalur, dua arah, lengkap dengan lampu jalanan,serta kiri kanan sudah ada trotoar dan jalan khusus sepeda. Wow.... Memang Gusti Allah ini luar biasa..... Menunjukkan jalan indah dan tepat pada saatNya.

Ditambah, sejak kemarin sudah tiga CD sharing N21 ku dengarkan, makin terbakarlah semangat ini. Seolah jalan lebar, terang sinarNya, dan matahari menyinari dengan indah seolah pagi jam 7, dengan hangat yang sangat lama terasa. Boleh dikatakan rasa di badan ini seolah kembali pada usia 20-an atau awal 30-an. 

Wow..... Siap menyambut

Dimana dalam salah satu CD-nya dikatakan pak Jo Simatupang, kalo mau semangat, KERJA, sebab dengan bekerja kita akan makin SEMANGAT. Dan kalo sudah semangat akan MENULAR.  Wow....

Kalo MENUNGGU, maka akan MATI. Doug Wead mengatakan, delay is death.

Monggo...


Jakarta 12:05; 4Nop2013

November 13, 2013

Pencucian Uang

 Pencucian uang (Inggris:Money Laundering) adalah suatu upaya perbuatan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang/dana atau Harta Kekayaan hasil tindak pidana melalui berbagai transaksi keuangan agar uang atau Harta Kekayaan tersebut tampak seolah-olah berasal dari kegiatan yang sah/legal.

Tergelitik dari definisi di atas, sebab ditekankan beberapa hal yakni:
1.    upaya perbuatan
2.    untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul
3.    uang /dana atau harta kekayaan
4.    hasil tindak pidana (korupsi??)
5.    melalui transaksi keuangan
6.    agar tampak seolah-olah berasal dari kegiatan sah/legal
Menarik di sini saya komentari adalah bahwa bagaimana dengan tindakan BIASA tetapi dianggap sebagai menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul (yang bila dicari-cari sih pasti ada aja).
Sementara uang/dana atau harta kekayaan bisa diperoleh, bisa diberi, bisa juga diwariskan, bisa dipinjamkan (dalam masa tertentu).  Bila dicari asal-usulnya. Lalu akan dicurigai KENAPA diberi, bertransaksi, diwariskan, dipinjamkan.
Paling menarik di sini, sebab manusia pada umumnya diisi dengan iri dan dengki bila melihat sesamanya atau bahkan saudaranya, atau sahabatnya memperoleh rezeki yang lebih darinya. Jadi yang ada adalah praduga bersalah. TOLONG BUKTIKAN KAMU TIDAK BERSALAH. Dan ini berbanding terbalik dengan pernyataan oleh petugas pengawas manapun yang jelas-jelas tindakannyapun MENUDUH seperti ini.
Transaksi keuangan. Sebab dianggap bahwa semua kejadian atau kesepakatan selalu diakhiri dengan tindakan komersial yang selalu melibatkan uang. Bagaimana dengan barter? yang benar-benar tidak perlu sesuai dengan nilai uang melainkan nilai kebutuhan saja.  A memiliki kambing, ingin sepeda; ingin bertukar dengan B yang memiliki sepeda tapi membutuhkan kambing. Apa iya perlu mengkonversi dulu kambing seharga X dan sepeda seharga Y, lalu siapa yang perlu menambah dengan uang karena kurang? Wah repot sekali.
Agar tampak seolah-olah kejadian/perbuatan atau tindakan tersebut adalah kegiatan yang sah/legal. Bukankah pentingnya kegiatan tersebut sah dan legal karena adanya penglihatan manusia pada sesamanya yang tidak percaya satu sama lain. Sementara penciptaan cap sah dan cap legal karena adanya pihak lain yang menyatakan bahwa keduanya membuat kesepakatan benar. Yang bila kita runut kembali, hal ini karena adanya "KETIDAKPERCAYAAN" satu dengan yang lain? Lalu ditambahkan kata "seolah-olah", yang bila kita gali lebih lanjut, ternyata apapun tindakan, perbuatan, kejadian, bila kita tidak percaya ya tidak akan dipercaya. Baik bila memang melakukan sumpah pun, yan tidak akan dipercaya. Titik.

Membaca komentar saya yang sedemikian nyinyir, mungkin saja membuat anda, sahabat saya bertanya kenapa sih nih anak tiba-tiba mengomentari definisi Pencucian Uang , yang biasanya dihubungkan dengan tindak pidana (korupsi??). Lho ini kan benar?
Apanya yang benar? pagi ini saya bertemu dengan teman sahabat lama saya yang bertanya. Bro, kenapa sih negara kita yang katanya membutuhkan investasi untuk kemakmuran bersama, tetapi saat ada investor kok dananya ndak bisa masuk ke Indonesia? Bahkan kalo sampai di Indonesia, malah dikembalikan ke luar negeri? Apa ndak ada mekanismenya?

Monggo.... siapa tau ada sahabat yang begitu mengerti dapat menjelaskan pada saya hamba sahaya yang sederhana dan bodoh ini.....

Jakarta 11:23; 13Nop2013

November 08, 2013

Saat ini di tempat ini (be here now)


Ternyata betapa baru kusadari kalo aku ini sungguh beruntung. Hampir pasti dapat dikatakan bahwa aku memang bahagia sebagaimana yang aku mau dan apa adanya.
Coba saja perhatikan, apa yang membuatku ndak bahagia:
·         kalo orang bertanya apa kamu punya pekerjaan? Punya (tanpa tapi..). Sebab ukuran orang bila memiliki pekerjaan, maka terjamin "dapur" bakal terus ngebul. Anak istri ndak kelaparan. Kalo mengikuti "pikiran orang" yang maunya stabil dan tidak goyah... Justru pengalamanku diberkahi Gusti Allah untuk boleh mengalami berbagai macam pekerjaan, berbagai macam peran, kadang memimpin di depan, kadang diasingkan di belakang gudang, kapan waktu didengar omongannya selayaknya sabdo pandito ratu, kapan waktu apapun yang saya ucapkan dicerca habis-habisan, dianggap perongrong perusahaan, ndak becus. Kapan waktu boleh membantu dan kontribusi, lain waktu justru diminta untuk minggir. Menarik sekali, aneka ragam, dikenal, dicerca, dicela, juga diperlukan. Wuih...kumplit. Menyesal? ya jelas ndak dong. Wong ini yang membuatku tetap bersyukur, kalopun mendapat peran, itu semua berkah yang kapan waktu diberikan, dipellihara, kapan waktu lagi diminta tanpa perlu penjelasan. Justru saat ini adalah pengalaman baru dari suatu penugasan, dimana masuk sebagai orang terhormat, tetapi saat ini dikucilkan. Bahkan semakin menarik dan membuat saya bersyukur sebab tiap saat saya merasa bisa "dieksekusi, ditembak mati" perannya sehingga terdorong keluar atau justru (amit2) dikasuskan. Ada rasa ser-ser'an. Seru, asyik kan... Mau yang gimana lagi? Mau apa lagi..?
·         Kalo gitu punya keluarga dong ya? Punya dong (juga tanpa tapi...). Puji Tuhan alhamdulilah sehat semua. Tadi pagi kupandangi istriku, betapa dulu aku mendapatkannya ndak gampang tuh. Bahkan saat kuingat aku ingin jadi pacarnya, betapa dia rela melepaskan pacarnya untuk mau menerimaku. Luar biasa berkah Gusti Allah lewat pasanganku ini, termasuk anak-anak kami yang berkah kami bersama, juga keluarga besar yang saling mendukung dan menyayangi.  Saat anakku paling gede kuliah di luar kota, betapa kusadari bahwa kemilik'anku pada anakku ternyata juga sekaligus kerelaan keikhlasan pada melepas dia untuk lebih maju, berkembang sekaligus mendoakan agar semakin merasa dekat dengan Gusti Allah, yang memang selalu melindungi dan memberkatinya. Tidak terasa pula, anakku kedua telah berangkat SMA, waduh sudah besar. Mandiri pula seperti kakaknya. Tidak terasa air mata ini berlinang, saatku dan istriku melihat kakak beradik bertiga dengan adiknya yang terkecil saling mendukung, mengajari, menjaga dan bahkan saling mengayomi, sekaligus mengingat. Seperti anakku SMA saling bertanya pelajaran pada yang kuliah, demikian pula anakku terbesar bertanya gadget pada adiknya. Juga saat anakku yg besar mengajari adikknya yang kecil untuk berenang, demikian pula adiknya yang kecil kalo membeli donat selalu tiga, satu untuknya, satu untuk mas kedua, dan satu untuk  mas yang besar. Juga anakku yang kedua juga membacakan bacaan untuk ulangan adiknya yang kecil. Dan istriku yang belakangan ini semakin mandiri, dan keluar warnanya. Seakan menutupku yang memang ndak mau aktif di gereja dan lingkungan. Nah, mau apa lagi? Kurang apa lagi? Bukankah banyak hal yang membuatku bahagia....
·         Sehatkah? Sempat kemarin 3 hari sakit kampung menyerangku, diare, yang luar biasa banget deh rasanya. Menarik lagi, ternyata istriku juga mengalami hal yang sama. Lucunya adalah perkiraanku terjadi penyebabnya adalah makanan sejak pagi setelah misa, tapi kok (amit2) anak-anak sehat? Cuma aku dan istri yang kena? Ya itu tadi, wong jowo itu untung terus. Untung cuma tiga hari, untung cuma aku dan istri, untung sekarang sudah sembuh (berangsur pulih). Kalo ditelusur, kayaknya badan fana ku ini self healing. Jadi kemrungsung hatiku ini yang sudah berlangsung beberapa lama ini, terkubur di alam bawah sadar, muncul dan diingatkan berbentuk sakit perut. Yang ternyata aku butuh sabar, butuh orang lain, yakni istriku dan dokter (ahlinya), juga beruntung adanya anak-anak yang sehat. Kurang apa lagi? Bukankah sudah buanyak sekali alasan untuk merasa bahagia kan?
·         Punya tempat tinggal? Punya, menariknya kami masih diperkenankan tinggal bersama dengan mertua. Bukankah ini berkah. Mana ditambah lagi anak-anak kami benar-benar-benar dianggapnya cucu sendiri. Kalo mau dikatakan taken for granted, ya inilah aku. Mana terpikir kami menikah dan boleh tinggal bareng berkeluarga? Sempat suatu waktu istri ingin ikut menata rumah dan merombak beberapa bagian, dan akhirnya rumah kami yang di luar kota kami putuskan untuk renovasi. Jadi, minta apalagi, kurang apa?
·         Kendaraan? Wah ini mah apalagi namanya kalo bukan berkah. Cita-cita zaman kecil pengin punya motor harleh sudah terwujud, pingin yg antikpun sudah terwujud. Ditambah lagi anak-anakku justru sekarang ketularan memelihara baik vespa maupun si harleh tersebut. Mau ditambah lagi, saat ini untuk keperluan sehari-hari, ada mobil kantor, untuk keluarga juga sudah ada. Bahkan ada kendaraan kedua bila ingin lebih luas.  Bis lah yaau.... Masih kurang, saat ini sedang membangun mobil kuno yang memang kutunggu dan ditunggu pula oleh kedua anakku. Mesin menggelegar, langka, sudah repaint, pokoknya seru deh. Mau apa lagi? Kurang apa? Jelaskan, kenapa kusebut ini bahagia. 
·         Hobi lain, menyenangi musik, maka kupunya alat-alat musik mulai dari piano istriku, gitar bolong, gitar listrik ada, lengkap dengan efek gitarnya, ada flute juga, ada klarinet serius, saxophone ini yang terakhir aku mainkan, jenis alto, jenis tenor dan terakhir baritone yang jarang dan aneh buat dimainkan. Dulu sempat belajar trumpet, beruntung saat ini diteruskan anakku yang kedua, dan sudah menjalaninya hampir empat tahun dan sudah mengikuti pertunjukkan sampai ke mancanegara.  Alat lain seperti cajon, bongo, keyboard yang bisa bersuara organ.  Dan yang terakhir ini buat latihan anakku untuk jadi organis di gereja.  Hobiku yang lain adalah foto, yang juga diteruskan oleh kedua anakku yang besar. Untuk olah raga, diteruskan oleh anakku yang pertama, dengan menjadi atlit baseball dan softball, dan sudah mewakili Jakarta junior serta mewakili klub sampai ke Filipina dan Manado, sementara untukku belum pernah singgah sekalipun ke kedua tempat tersebut.  Hayo kurang apa, opo ndak dikatakan berlebih berkelimpahan berkahNya sang Gusti...
Melihat dan menelaah hal-hal juga kejadian serta pengalaman tersebut di atas, maka kalo ku memutuskan untuk bahagia kalo ini atau itu yang belum tercapai, maka hal tersebut adalah suatu penghindaran, suatu pengejaran juga suatu kenistaan sekaligus kesia-siaan.
Betul bahwa dalam perkataan orang saleh, penting dan bijak menyebutkan bahwa You are happy, as is. Perhatikan, bukannya you were happy atau you will be happy. Ndak perlu syarat-syarat apa-apa lainnya.  Apa adanya.....
Monggo sahabat, telusur hidupmu apa yang sudah ada disekitarmu. Bukan apa yang seharusnya disekitarmu. Atau apa yang belum ada disekitarmu.


Jakarta 12:37, 7Nop2013

Penjara Kebahagiaan oleh Romo J. Sudrijanta


September 16, 2013
Oleh Romo J. Sudrijanta
“Jikalau seorang datang kepadaku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.” (Lukas 14:26,33)

Setiap orang tidak ingin hidup menderita, tetapi faktanya hanya sedikit orang yang hidup sungguh-sungguh bahagia. Mengapa? Karena kebanyakan orang memiliki delusi atau pandangan keliru tentang kebahagiaan yang justru menghalangi orang untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya.
Sekalipun orang merasa bahagia, selama kebahagiaan tersebut tidak bebas dari ego dan kelekatan, maka kebahagiaan tersebut sesungguhnya adalah penjara. Kebahagiaan seperti itu adalah bentuk lain dari ketidakbahagiaan. Tidak semua orang bisa melihat fakta tersebut karena delusi yang membuat orang tidak bisa melihat penjara sebagai bahaya.

Berikut adalah beberapa contoh delusi tentang kebahagiaan.

Pertama, Anda tak bisa bahagia tanpa hal-hal yang Anda anggap sangat berharga, karena Anda melekat pada hal-hal itu. Itu jelas saat Anda merasa takut kehilangan sesuatu atau seseorang yang Anda cintai. Itu juga jelas saat Anda merasa tidak bahagia karena Anda merasa tidak memiliki sesuatu seperti orang lain miliki, yang membuat Anda suka membanding-bandingkan dan iri hati.

Faktanya, tidak pernah satu detik pun Anda tak memiliki semua yang Anda perlukan untuk bahagia. Anda sudah memiliki kondisi-kondisi yang lebih dari cukup untuk bahagia. Alasan Anda tidak bahagia adalah karena Anda berfokus pada apa yang tidak Anda miliki, bukan pada apa yang Anda miliki sekarang. Selain itu, sekalipun Anda memiliki hal-hal yang membuat Anda bahagia, Anda melekat pada hal-hal tersebut yang membuat Anda justru merasa tidak bahagia.

Kedua, kebahagiaan akan datang bila Anda bisa mengubah situasi Anda sekarang dan orang-orang di sekitar Anda. Delusi ini sangat jelas seperti dalam kasus berikut ini. Ada sepasang suami isteri yang bertahun-tahun tidak berhenti hidup dalam konflik dan pertengkaran. Masing-masing mengharapkan pasangannya berubah, tetapi tidak pernah berubah. Kondisi itu membuat mereka masing-masing makin tidak bahagia.

Faktanya, perubahan hidup di luar tidak akan mengubah penderitaan Anda kalau pandangan keliru di kepala Anda tidak berubah. Sesungguhnya, segala sesuatu tidak ada yang tetap. Segala sesuatu berubah setiap saat, baik fenomena fisik maupun batin. Dalam kasus suami isteri di atas, mereka sesungguhnya sudah  mengalami perubahan setiap hari setiap saat, hanya mereka tidak melihatnya karena mereka melihat melalui tabir pengalaman masa lampau yang tidak pernah berubah.

Ketiga, apabila Anda bebas berkeinginan, Anda akan bahagia. Anda merasa bahagia kalau keinginan Anda terpuaskan. Lalu Anda beranggapan bahwa semakin banyak keinginan terpenuhi, Anda akan semakin bahagia. Delusi ini banyak meracuni orang sejak mereka berusia muda dan sering dibawa-bawa sampai tua.

Faktanya semakin banyak keinginan dan kelekatan, semakin membuat Anda menderita. Semakin sedikit keinginan dan kelekatan, semakin kebahagiaan bertambah. Sesungguhnya, keinginan dan kelekatan hanya mendatangkan kenikmatan, tetapi kenikmatan bukanlah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Keempat, kebahagiaan itu ada di masa depan. Delusi ini menjadi jelas dalam pengalaman hidup orang tua berikut ini. Ada seorang yang sudah sangat tua bercerita bahwa seluruh hidupnya adalah penderitaan. “Dulu saat muda, saya berpikir saya akan bahagia kalau sudah selesai sekolah. Setelah selesai sekolah, saya berpikir akan bahagia kalau sudah kerja. Setelah mapan bekerja, saya berpikir akan bahagia kalau kawin dan berkeluarga. Setelah berkeluarga, saya makin tidak bahagia. Dan kini saat saya tua mendekati ajal, saya berharap akan bahagia di surga nanti setelah kematian tiba.” Orang tua ini tidak jera-jera hidup menderita.

Faktanya, sekarang dan di sini, dari saat ke saat, Anda sudah bahagia, tetapi Anda tidak mengetahuinya karena pandangan yang keliru yang membuat Anda terperangkap dalam rasa tidak puas, cemas, takut, konflik, dan tidak bahagia. Karena Anda tidak melihat kebahagiaan di masa sekarang, Anda mengira kebahagiaan hanya ada di masa depan. Kalau kebahagiaan tidak tercapai sekarang di dunia ini, Anda berkhayal ada kebahagiaan nanti setelah selesai hidup di dunia.

Kelima, tidak ada kebahagiaan tanpa perjuangan yang keras. Karena kebahagiaan ada di masa depan, maka Anda harus berjuang untuk meraihnya, seperti pepatah mengatakan, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Faktanya, kebahagiaan yang sesungguhnya tidak bisa dicapai dengan pergulatan oleh ego atau si aku. Semakin Anda dengan kekuatan ego Anda berupaya untuk mencari dan meraih kebahagiaan, semakin jauh kebahagiaan Anda dapatkan. Kebahagiaan yang sesungguhnya tidak pernah bisa dicapai atau diraih dengan daya upaya oleh ego, tetapi ia akan datang dengan sendirinya ketika seluruh pergulatan oleh si ego dilepaskan. Kebahagiaan sesungguhnya adalah hidup Anda sendiri ketika ego Anda berakhir.
Semua delusi tentang kebahagiaan membuat kita mencari kebahagiaan di luar seperti hadirnya pasangan hidup, keluarga, pekerjaan yang baik, harta milik, kedudukan, pengetahuan, pengakuan diri, pujian, ketenaran, dst. Delusi yang sama membuat kita percaya bahwa bahwa kebenaran, Tuhan, Surga, Nirvana, Moksha berada jauh di masa depan dan sekarang kita hanya mampu berharap untuk menjumpainya di masa depan.

Betapa malangnya orang tidak mengenal apa yang paling dekat dan mencari kebahagiaan jauh di luar, mengembara dari penjara delusi yang satu ke penjara delusi yang lain. Kapankah orang dibebaskan dari penjara ketidaktahuan?

Carilah apa saja yang membuat hidup Anda menjadi lebih sejahtera, tetapi jangan berpikir bahwa Anda menjadi lebih bahagia karenanya. Kalau Anda berkeinginan untuk memiliki mobil Jaguar atau mempunyai 10 rumah lagi, misalnya, mengapa tidak? Tetapi jangan berharap Anda akan lebih bahagia dengan memilikinya, karena kebahagiaan yang sesungguhnya tidak terkait dengan objek-objek yang bisa Anda miliki.

Apakah Anda menderita sekarang? Mungkin Anda berkata, “Saya merasa baik-baik saja. Saya tidak menderita.” Pernahkah Anda bermimpi menjadi bahagia? Pernahkan Anda ingin bahagia? Pada moment Anda bermimpi atau mengingini kebahagiaan, pada moment itulah Anda menderita.

Mengapa Anda bermimpi dan mencari kebahagiaan? Kalau Anda sekarang pada moment ini bahagia, Anda tidak akan tergoda untuk bermimpi dan mencari kebahagiaan. Karena sekarang, pada moment ini Anda tidak bahagia, maka Anda bermimpi dan mencari kebahagiaan. Jadi, mana lebih penting, mencari kebahagiaan di luar dan tidak pernah mendapat, atau mengakhiri penderitaan batin Anda sendiri, sekarang juga?

Apa akar sebab dari penderitaan manusia? Inilah hukum kebenaran pertama. Di mana ada kelekatan, di sana ada ketidakbahagiaan; di mana tidak ada kelekatan, ketidakbahagiaan juga tigak ada. Hukum kebenaran yang kedua adalah sama dengan yang pertama. Di mana ada keakuan, di sana ada penderitaan; di mana tidak ada keakuan, penderitaan juga tidak ada.

Kelekatan dan keakuan atau ego Anda itulah yang membuat Anda menderita dan tidak bahagia. Tidak ada kelekatan tanpa ego, tidak ada ego tanpa kelekatan. Keduanya sesungguhnya tidak berbeda. Anda tidak bisa bebas kelekatan tanpa bebas ego, atau bebas ego tanpa bebas kelekatan.

Bagaimana caranya bebas dari kelekatan dan keakuan? Apakah harus membuang objek-objek yang kita lekati? Bukan. Bukan dengan membuang objek-objek yang Anda lekati. Cukup melepaskan “kelekatan” pada apa yang Anda miliki, termasuk kelekatan pada “keakuan” yang membentuk  hidup Anda sendiri.
Pertanyaan lebih lanjut adalah bagaimana melepaskan kelekatan-kelekatan dan keakuan ini? Caranya adalah dengan ngonangi atau mengetahui munculnya kelekatan dan keakuan dari moment ke moment, dan melihat kelekatan dan keakuan sebagai apa adanya, yaitu sebagai penjara yang menutup Anda dari kebahagiaan yang sesungguhnya.

Di satu pihak, pasangan hidup, keluarga, harta milik memberi Anda gairah dan kenikmatan, tapi di sisi lain memberi Anda kekhawatiran, kegelisahan, kecemasan, rasa takut, dan ketidakbahagiaan. Kelekatan pada pasangan hidup atau keluarga adalah penjara. Kelekatan pada harta kekayaan adalah penjara. Kelekatan pada keakuan Anda adalah penjara.

Kalau Anda “membenci” dalam arti berhenti melekat pada bapa atau ibu Anda, isteri atau suami Anda, anak-anak atau keluarga Anda, serta “melepaskan diri dari segala harta milik”, terlebih keakuan Anda, sekarang juga Anda akan keluar dari cengkeraman bahaya. Lalu Anda akan memperoleh ganjaran 100 kali lipat dan memperoleh kehidupan kekal, dalam pengertian Anda menemukan kembali kebahagiaan yang tiada tara sekarang juga.


Bisakah penderitaan dan ketidakbahagiaan Anda berakhir sekarang?  Bisakah kelekatan dan keakuan Anda berakhir sekarang juga?*

Terima kasih Romo Sudrijanta, betapa Romo sudah membukakan mataku luar biasa. Gusti Allah mberkati Romo selalu. Amin. 

Pilihan dan Kelekatan



Berikut ini kutipan dari jawaban Romo Sudrijanta atas pertanyaan dari peserta Meditasinya:

Menikah atau tidak menikah adalah pilihan seperti halnya kita memilih untuk bekerja mandiri atau bekerja sebagai karyawan. Bedanya, pilihan menikah atau tidak menikah merupakan pilihan hidup yang lebih fundamental dibanding memilih pekerjaan.

Apakah kecenderungan untuk “membiarkan segalanya mengalir” tidak lain merupakan ekspresi dari ketidakberdayaan menentukan “pilihan arah” atau merupakan suatu “sikap batin” yang terbuka terhadap semua kemungkinan?

Apakah pilihan-pilihan kita lebih ditentukan oleh kelekatan kita (nafsu, kesenangan, ketakutan, dst) atau oleh sikap lepas bebas? Adalah sangat penting untuk mengolah batin hingga kita mencapai sikap lepas bebas. Dalam keadaan lepas bebas, tentukan “pilihan arah” (menikah atau tidak menikah) dan laksanakan pilihan tersebut apapun bayarannya.

Menarik dalam membaca sekelumit jawaban Romo Sudri dalam menjawab kegalauan salah satu peserta Meditasi Tanpa Objek-nya.  Galau yang diantar oleh rasa ingin kejelasan, kestabilan, kebaikan, peningkatan, tapi tidak ingin melakukan upaya sebab pengalaman peserta, saat melakukan upaya hanya akan membuahkan keraguan apakah nanti pilihannya benar?

Jadi keraguan ini seolah penghindaran akan penerimaan paket atas suatu pilihan.  Ilustrasinya adalah membeli mobil baru.  Saat masih merupakan keinginan, aku berandai-andai aku akan bahagia kalo bisa membeli mobil Toyota Alphard*) tersebut. Kubayangkan saat pertama bisa membelinya betapa membanggakannya? 
Akan kupamerkan pada pasangan, pada anak-anakku, pada sobat dan temanku, biar saja orang yang membenciku semakin benci sebab akhirnya mobil tersebut menjadi milikku. Dan saat ku bisa memperolehnya, betapa senang dan bangganya hatiku.  Saat menjalankan dan bermobil didalamnyapun terasa orang lain akan memandang dengan iri karena menginginkan kenyamanannya.  Dan beberapa saat kemudian, mulailah aku menghadapi kenyataan, bahwa spare-partnya mahal, saat kedua spion mobil ini dicopot paksa oleh sekelompok anak muda di sekitaran Semanggi Senayan. Berikutnya, saat mobil ini tersenggol gerobak penjual kaki lima, di sebelah kiri atas ban. Maka luka lecetlah mobil kesayangan. 
Ditambah, bensinnya yang tergolong boros.  Hua ha ha ha ....

Malah, dulu bapakku pernah menyampaikan, beli mobil gampang, tapi memakai dan memeliharanya dengan bijak itu yang sulit. Tapi kalo kamu sudah melampaunya maka mudahlah kamu menjalaninya. 
Monggo....


Jakarta 13:03, 7Nop2013

Menembus Diri



Membaca tulisan Romo Sudrijanta tertanggal 6 Oktober 2008, yang berjudul "Menembus Hakekat Diri yang Tak-Berhakekat" dengan secuplik sebagai berikut:

Ada sesuatu di dalam diriku yang secara sempurna tidak melekat, halus dan lembut. Ia tidak dikotori oleh apapun. Ia seperti danau yang dalam yang tanpa tepi dan tanpa dasar. Pikiran dan perasaan adalah seperti gelombang air di permukaan. Di bawah permukaan, tidak ada riak gelombang. Segala sesuatu diam. Sekali gelombang berhenti dan air menjadi tenang, kita bisa melihat gerak yang mahaluas dan sadar apa yang hidup di sana. Itu adalah gambaran Diri Sejati yang kita sadari saat kita terlepas dari segala proyeksi dan kemelekatan.
Betapa membaca kutipan ini menjadi teringatku pada salah satu resolusi awal tahun 2013, setelahku bersama dengan keluarga menyepi di Losari, sebuah desa di Magelang.  Sebab dari pengendapanku karena pengalaman roller coaster 3 tahun belakangan ini, yang tertinggal dan sangat menggangguku adalah begitu mudahnya aku goyah baik pikiran dan perasaan karena gelombang laut. Dan benarlah ternyata gelombang laut ini merupakan penampilan luar, dan tampak luar dari semua yang boleh ditangkap oleh panca indera plus. 

Dimana menjelang akhir tahun ku akhirnya melakukan dan mengambil keputusan untuk "berserah diri" padaNya Sang Maha Pencipta,"Ya Gusti Allah, ku serahkan diri, pikiran, mental juga rasaku pada Mu. Karena Engkaulah Maha Tahu dan Maha Kasih pada seluruh umatMu."

Sehingga muncullah keinginanku untuk belajar menyelam, dan sudah kusampaikan pada pak Made, dan rencananya adalah April 2013, tetapi pada kenyataannya waktu pembelajaran tersebut tidak terjadi. Karena aku memasuki masa isolasi dan pengucilan. 

Ingatku saat ditanya pak Made, sahabatku, kenapa pengin belajar menyelam pak? Kujawab: karena selama ini kalo saya naik kapal, menjadi takut melihat dan merasakan gelombang baik kecil maupun besar, merasa terombang-ambing. Dan menurut saya kalo bisa menyelam, diving, di dalam laut tersebut sebenarnya tenang, hanya arus yang tidak terlihat.  Tetapi ganasnya ombak yang bergelora tidak lah tampak dan terasa. Melainkan derasnya arus yang tidak terasa. 

Saat ini setelah hampir 6 bulan lebih ku diisolasi, dengan berbagai gelombang besar dan kecil yang dilakui, maka berkah sebab dalam 2 bulan terakhir aku memutuskan untuk berenang ke dalam. Menyelam. Diving. Yang terasa adalah tenang, dengan menemukan diri. Dan mempersatukan arus air dengan gairah dalamku.

Diperkuat dengan sudah 3 hari kulihat anakku terkecil yang mulai belajar menyelam di kolam renang. Dan tampaknya menyenangkan.  Oooo ternyata ini tho maksud belajar nyilem ini? Menyelam...  

Terima kasih Gusti....


Jakarta 15:19, 7Nop2013

Nafas dan Pikiran



Baru belakangan setelah mendapat serangan penyakit diare yang menuntunku untuk istirahat membuatku secara tidak sengaja mendengar nafasku sendiri saat berbaring di tempat tidur. 

Setelah capek tiduran lebih dari enam jam ternyata mata ini sudah ndak mau kompromi untuk memejamkan beristirahat bareng dengan otak yang mulai nggeratak mau menilai, membandingkan, mencari, menganalisa, membongkar atau bahkan mempertanyakan. Waduh, ternyata membuat istirahat badan fana ini ndak mudah ya.

Benar kata orang-orang tua bahwa banyak pikiran adalah sumbernya penyakit. Mulai dari penyakit bersandiwara, berandai-andai, berimajinasi, lalu kemudian turun ke hati menurunkan iri, dengki lalu membenci dan kemudian dendam dan kalo sudah kesumat maka jadilah ini sumber penyakit. Ya jelas banyak lah jenisnya, tergantung, mau yang mana.

Belajar dari salah satu bapak therapis yang pernah saya temui di training pak Rhenald Khasali, yakni pak Bobby Laluyan menyampaikan hasil pengalaman dan teorinya membagi dalam beberapa penyakit psikosomatis:

·         Pertama:  Conflict Syndrome, nah ini menarik sebab paling banyak dan umum ditemukan diantara kita, he he he, saya pun ada. Monggo diperiksa bersama barengan ya. Konflik ini terjadi karena adanya pertentangan antara rasio, pikiran, logika, atau menurut hitungan kita adalah wajarnya, mustinya dan seterus; yang dipertentangkan dengan hati, rasa, roso, atau apapun yang ada dalam bathin, suara hati dan seterusnya.

o   Menjadi seru misalnya, lho kalo saya yang duluan masuk ke perusahaan, mustinya teman A yang masuk belakangan kan belum ditawarin untuk naik pangkat dong. Kok bisa-bisanya saya dilewatin? Ini yang ndak bener mana yak? saya yang ndak potensia? prosedurnya yang ndak jelas, atasannya yang pilih kasih atau A main dukun pake kecubung kasian yak? Wah ndak bener nih.... Lalu kepikiran terus, mencari terus, membandingkan terus, membongkar cari sana sini tapi ndak tanya ke official bagaimana agar saya menjadi potensial, melainkan bergunjing bergosip. Wah cocok deh.... Maka konfliklah bathin dengan rasio.

o   Bagian badan yang diserang adalah: mulai dari kepala, bisa migrain sebelah, sakit kepala belakang, pusing atau kliyengan; leher, bisa terjadi leher tegang, dikira karena asam urat atau kolesterol naik; dada, bisa terjadi dada sakit sebelah kiri atau kanan, atau sesak nafas, atau malah dikira ini ada serangan jantung; perut, bisa terjadi mulas-mulas buang air, sebentar-sebentar pipis, atau justru mulas tambah mual. Atau bisa terjadi kombinasi dari beberapa ini. Monggo diperiksa lagi mana kebiasaan kalo kena stimulan sesuatu atau mendengar atau kesenggol sesuatu lalu bagian badan fana ini mulai sakit.   

·          Kedua: Burden Syndrome: ini juga termasuk banyak tapi ndak sebanyak Conflict di atas, sebab ini justru terjadi bila kita punya ambisi menjadi orang yang terlihat baik, bagus, benar, indah, cantik, keren, yang terkuat, yang terkaya, yang paling mampu, dan banyak lagi....  Menyitir media menyebutnya program "tampilan" saja, tanpa menyentuh esensinya.  Hanya image saja.

o   Dimana syndrome ini dimulai dari tampilan kita maunya terlihat paling "sempurna" di mata masyarakat, di mata orang tua, atasan, atau bahkan desakan mau kelihatan unggul di bidang yang kita geluti.  Karena kalo menjadi nomor dua saja, artinya sudah ndak masuk hitungan. Hayooooo ngaku....  Seringkali ngakunya sebagai perfeksionis, yang sebenarnya bukan karena perfeksionis, melainkan karena ndak berani melakukan delegasi atau ndak rela diri atau kelompoknya "jatuh" di mata penilaian orang lain. Takut salah, takut ditinggal orang lain, takut dicerca,  dan takut-takut yang lain.

o   Bagian badan yang sering dikeluhkan: punggung, terasa berat, terasa ada beban, pegal yang amat sangat; atau dapat pula pinggang, seolah abis mengangkat beban berat sekali, atau setelah memindah barang berat sekali. 

o   Monggo diperiksa lagi, apa pernah mengalami gangguan ini? Yang sebetulnya kita merasa beban karena kita mau ikut mengambil beban orang lain, entah karena kasian, entah karena ndak sabar atau justru ndak rela nilainya jelek, sok perfeksionis. Sambil mengambil "backpack" beban orang lain tapi nggerundel, ngomel, dan bahkan ndak terima, tapi justru tetap dilakukan. he he he

·         Ketiga: Achievement Syndrome atau Reachment Syndrome.  Ini berbeda dengan penyakit psikis di atas, dimana hal ini terjadi saat kita mengimpikan suatu hal tapi belum atau justru sulit untuk tercapai.  Peribahasanya adalah punguk merindukan bulan. Jadi bukannya ndak mungkin sama sekali tapi sulit terjadi. Hanya mukjizat atau keajaiban atau kalo istilah orang Betawi mengatakan,"ye udeh jalannye dah..."

o   Bagian badan yang diserang adalah tangan, kaku-kaku, atau pegal, seperti semutan; jari-jari tangan kaku, seperti kena asam urat, sakit kalo menggenggam; telapak tangan berkeringat; atau bisa terjadi punggung tangan seperti kering dan mengeras.

o   Terjadi misalnya: pernah suatu waktu sahabat saya bekerja pada bosnya sudah lebih dari 5 tahun. Karena sudah merasa dekat, sudah merasa bekerja baik, sudah merasa pantes, dan bahkan sudah merasa berprestasi, maka terbitlah keinginan untuk memperoleh priviledge berupa pinjaman yang nilainya diluar dari aturan perusahaan. Kembali lagi, karena sudah merasa dekat, maka diberanikanlah dirinya untuk bicara informasi tentang keinginannya tersebut. Sang bos tidak menjawab. Tidak mengiyakan, juga tidak mentidakkan. Cuma dikatakan, coba bicarakan dengan bagian HR terlebih dulu. Maka karena merasa mendapat angin, maka keesokan harinya bertanya ke HR, dan dijawab belum ada fasilitas dan arahan dari bos. Maka kecewalah dia dan sempat demotivasi selama 2 minggu. Mutung, ngambeg. Kecewanya sempat ditumpahkan ke saya. Sang bos memang bijak (menurutku), ibarat seorang bapak pada anaknya, tidaklah langsung mengatakan iya atau tidak. Tapi melihat dan meneliti kebutuhan, niat serta kesungguhan.

Dan selama masa penantian tersebut, kecewa dan ngambeg, tapi merasa berhak atas priviledge yang belum tercapai tersebut, sang sahabat tersebut sering semutan tangannya, atau malah berkeringat. Dan kadang-kadang, seperti kena asam urat, dimana kalo bangun pagi jari-jari tangan kaku sukar digerakkan atau bahkan sukar menggenggam.

·         Keempat: Escape Syndrome: ini paling menarik sebab terjadi bila kita merasa ingin sekali meninggalkan arena, meninggalkan suasana yang sudah sangat mengganggu hati, meninggalkan lingkungan yang tidak cocok, konflik atau bahkan merasa tidak diperlukan atau tidak dibutuhkan.  Tapi konflik terjadi karena misalnya ndak bisa pindah, sebab anak-anak sekolah di lingkungan tersebut dan sudah betah.  

o   Atau bisa terjadi, misalnya suasana kantor yang tidak bergairah lagi, tidak bersahabat lagi, sementara penghasilan kita satu-satunya dari gaji berkantor di situ.  Tapi untuk memulai bekerja di luar, sudah merasa tua, merasa tidak siap, merasa akan lebih parah dan gelap kondisinya di luar. Ibarat tawanan yang ingin keluar dari penjara, tetapi kakinya dirantai sehingga tidak dapat keluar.  Dan setiap hari menerima siksaan yang luar biasa. Ingin keluar, ingin menyerah, tetapi ndak bisa. Seolah ndak ada jalan keluar.  

o   Bagian badan yang sering diserang adalah: kaki, mulai dari jari kaki, yang terasa semutan, atau kaku seperti kena asam urat, dimana seperti ditusuk-tusuk ndak bisa berjalan dengan normal; atau pergelangan kaki sakit seperti reumatik; atau lutut, yang sakit seperti kena reumatik; juga dapat paha yang tiba-tiba kaku, atau sakit sekali.

Nah sobat sahabatku sekalian, apakah ada dari teman yang mengalami penyakit tersebut di atas? atau pernah melihat keluarga, atau sahabatnya sendiri mengalami, jangan-jangan memang bukan penyakit fisik saja tetapi bermula dari psikis pikiran rasio yang dihubungkan dengan kondisi hati. Bukan konspirasi hati lho.  
Monggo...


Jakarta 11:24; 8Nop2013