Setelah memperingati peringatan (pribadi) lima dasa warsa, setelah menjalani perjalanan sedemikian, kok menyisakan satu rasa..... kosong
Nothing, ndak terasa apa-apa
betapa indahnya nyanyian burung tekukur punya tetangga pagi ini, nikmatnya guyuran air hangat dan air dingin mandi tadi, pulasnya tidurku, nikmatnya makan pagi, dan mulai membaca buku Robert Greene barusan.
hening, sebentar kecewa, sebentar mengerti, sebentar semangat, sebentar santai. Luar biasa
Apa lagi yang ingin ku buktikan? Untuk apakah gerangan? Mengapa masih menyimpan dan memendam seolah ada yang ditunggu?
Seperti mas Adji rekan paduan suaraku menyampaikan, bikinlah,"...bikinlah nyanyimu nanti seolah sedang tampil dalam Festival Paduan Suara. Berikanlah yang terbaik, penonton menunggumu..."
Monggo...
Jakarta, 24 April 2017
Showing posts with label rasa. Show all posts
Showing posts with label rasa. Show all posts
April 24, 2017
Apa feeling itu penting?
Membaca buku di pagi hari, menggugah hati, membangunkan jiwa dan menyadarkan diri bahwa rasa itu bukan apa-apa. Ndak penting.
Suatu waktu pengin menjadi sorotan dan dianggap penting, ternyata ada konsekuensi bahwa tanggung jawab serta perintah yang mengikutinya. Saat lain berperan menjadi anggota dan siap membantu dan mensukseskan program, tetapi kok jalannya ndak sesuai dengan tujuan yang disampaikan.
Kembali pada feeling dan rasa serta peran apa masih penting?
Kok kliatannya ndak perlu dan ndak penting lagi ya
Monggo....
Jakarta, 24 April 2017
Suatu waktu pengin menjadi sorotan dan dianggap penting, ternyata ada konsekuensi bahwa tanggung jawab serta perintah yang mengikutinya. Saat lain berperan menjadi anggota dan siap membantu dan mensukseskan program, tetapi kok jalannya ndak sesuai dengan tujuan yang disampaikan.
Kembali pada feeling dan rasa serta peran apa masih penting?
Kok kliatannya ndak perlu dan ndak penting lagi ya
Monggo....
Jakarta, 24 April 2017
Labels:
feeling,
konsekuensi,
penting,
peran,
rasa,
tanggung jawab
November 28, 2013
Sepinya Pasar
Tadi pagiku diberkahi rasa roso ada di tengah pasar tumpah
di Ciputat.
Becek, ramainya penjual dan pembeli, semangat, terangnya
matahari menyinari serta bau keringat orang lalu lalang membuatku bangun, sadar
dan segar.
Hayuk jalan....demikian suara seseorang yang merangkulku
untuk mengajak berjalan. Hijrah. Migrate, migrasi. Pergi dari sini. Bisiknya....
Monggo......
Jakarta 08:11, 28Nop2013
Nah kan akhirnya
Selama ini rasa ini yang kutakutkan. Hal ini yang kalo bisa dihindari. Cerita dan informasi ini malah kalo bisa ndak
usah sampe ke telingaku.
Kupikir dulu begitu disampaikan, pasti aku lemas, aku lemah,
aku pingsan, aku marah, aku benci, aku dendam, aku pasrah, dan juga aku
berontak.
Ternyata saat memang hal ini kudengar sendiri walau bukan
dari beliau orisinalnya, tapi sudah disampaikan oleh pejabat yang
berwenang. Bukan pula karena kebetulan,
tapi memang selama ini hubunganku dengan beliau-beliau cukup dekat, santun, dan
profesional.
Tadinya kata-kata itu kulihat, kupandang dan kupikirkan
seperti pisau guilotine yang tajam
sampe-sampe leher orang saja putus saat dieksekusi... tus tus tus.....
Tapi indahnya dan eloknya saat kudengar sendiri. Puji Tuhan ternyata kata-kata vonis yang
keluar itu bagaikan jabat tangan erat dari dua sahabat yang sepakat untuk
berpisah karena berbeda prinsip saat ini di sini.
Ku hanya pandangi bahwa ini pun hanya sementara. Lho maksudnya bagaimana sih? Lha iya lah, lha
wong semua kejadian di dunia kan sementara. Sebentar senang, lalu biasa lagi.
Sebentar susah sedih, lalu biasa lagi. Demikian sebentar pisah lalu biasa lagi,
juga sebentar ketemu lalu biasa lagi. Jadi kembali ke makna kata sementara ini
adalah bahwa ndak ada kejadian yang pasti, dan tidak berubah. Lha wong kita
tetap di sini saja, satu menit lalu, kejadian nya segera usang, segera berubah,
baik tempat kita satu menit lalupun sudah ndak sama. Kondisi kitapun satu menit
lalu juga ndak sama.
Kembali lagi, jadi akankah kita bertemu dan bersama lagi
serta bersepakat lagi? Hanya Tuhan yang tahu.
Hasta la vista my dear.
See you in another world.
Doaku menyertaimu selalu.
Jakarta 19:13, 27Nop2013
November 25, 2013
Kedekatan yang menjauhkan atau Jauh yang mendekatkan?
Menarik, lucu dan miris nih rasa yg ada. Sebab semakin dekat kita merasa, mengira makin dekat ternyata justru digoda dan diminta utk dilepaskan, sekaligus dijauhkan.
Rasa dekat itu semu, tapi rasa jauh juga ndak nyata. Sebab makna jauh ini adalah keikhlasan untuk melepaskan. Kemilikan, juga kerelaan.
Aneh. Itulah yg menarik dari dunia dimensi keempat dan kelima ini.
Bila dunia dimensi ketiga apa yang tertangkap oleh inderawi itu yang nyata, di dimensi ini justru yang tidak tertangkap inderawi itulah yang nyata.
Kembali, ungkapan ojo rumongso biso, tapi biso rumongso. Itulah yang mengemuka.
Edaaaaan
Jakarta 17:55, 24Nop2013
Rasa dekat itu semu, tapi rasa jauh juga ndak nyata. Sebab makna jauh ini adalah keikhlasan untuk melepaskan. Kemilikan, juga kerelaan.
Aneh. Itulah yg menarik dari dunia dimensi keempat dan kelima ini.
Bila dunia dimensi ketiga apa yang tertangkap oleh inderawi itu yang nyata, di dimensi ini justru yang tidak tertangkap inderawi itulah yang nyata.
Kembali, ungkapan ojo rumongso biso, tapi biso rumongso. Itulah yang mengemuka.
Edaaaaan
Jakarta 17:55, 24Nop2013
November 14, 2013
Semangat Pagi
Sejak bangun pagi ndak terasa semangat begitu menggebu
karena lanjutan kemarin, dimana terjadi beberapa peristiwa yang membangun,
mengejutkan, juga menggugah sehingga menimbulkan semangat maju seolah aku
terlempar pada posisi umur 24 tahun. Dimana saatku berada di persimpangan
jalan, baru punya pacar, kuliah sudah selesai, tetapi belum lulus, sementara
masih ingin mengabdikan di kegiatan mahasiswa untuk menimba ilmu lebih banyak.
Bersamaan dengan semangat karena secara fisik yang sedang mengarah ke kondisi
prima. Pekerjaan banyak, potensi lebar
luas di depan mata, tinggal diputuskan kapan, dan mau apa.
Wow.....
Rasa batin seperti ini tumbuh sejak kuputuskan untuk keluar
dari kerutinan kantor dan menemui sahabat lama yang selama inipun tidak
kuhubungi.
Terutama sejak jumat lalu dimana ternyata rasa berada di
ujung tanduk karena dalam hitungan detik aku bisa terlempar dan keluar dari
lingkungan kantor yang selama hampir empat tahun ini membesarkanku belajar
pertambangan. Apalagi hal ini sudah kubicarakan dengan pasangan dan anak, dan
kamipun sudah melakukan hitungan bila saat itu terjadi. Dan menarik serta ndak
dapat dikatakan kebetulan karena memang hal ini sudah aku yakini terjadi dalam
hidupku belakangan ini.
Babe dari kantor lama lewat sekretarisnya menghubungiku
jumat kemarin untuk pertemuan hari selasa kemarin, dan luar biasa beliau
menjelaskan kondisi dan meminta saya stay
calm dan membumi saja. Sementara bertemu dengan rekan sahabat dari kantor
lama yang baru bergabung di kantor baru menebarkan semangat sebab
mengingatkanku untuk siap-siap refresh
dan terjun ke dunia baru dan nyata yang exciting.
Luar biasa.
Bertemu teman lama yang juga aktif bodybuilding kelihatan
kurus membuatku takjub karena ternyata dia pindah aliran dengan telah melakukan
olah raga lari selama 1 jam untuk target enam sampai tujuh km. Dilakukan
beberapa kali dalam seminggu untuk mengejar sport
cardio nya. Sementara selama empat
bulan lebih katanya, dia melakukan diet no
carbo at all. Wow. Sharingnya
adalah ndak makan nasi, mie, roti, gorengan, kue juga apapun yang mengandung
gula. Wuih apa bisa tuh?
Jadilah Rabu kemarin saya mulai olah raga 45 menit, dan
berupaya ndak karbo. Olah raga 45 menit,
dapet 5,4 km dan 400 kal, mantabs.... Ternyata sampai malem, kepala mulai
sakit, kayak migrain. Jadilah kuminta coklat hangat. Ternyata inget anjuran
dokter Cindy kalo memang biasa karbo ya makan aja, tapi ndak berlebihan. Dan
benar, setelah coklat hangat, sakitnya kepala langsung hilang.
Berikutnya, dengan bertemunya aku dengan sobat lama, yang
tadinya kukhawatirkan akan minta akses project
ke tempatku bekerja. Sudah langsung kujawab, maafkan saya sebab sudah ndak
punya wewenang. Ternyata dia curcol
sebab pekerjaan dia untuk mendanai projectnya sebenarnya sudah memperoleh
investor sejak awal tahun. Alhamdulilah...., nah ini yang mau ditanyakan.
Bagaimana dana investor tersebut masuk sebab masih dari luar negeri. Nah ini
suatu tantangan buatku. Dan ternyata godaan, ujian, serta akses yang selama ini
kutinggalkan, mau ndak mau musti dibangun kembali. Maka kutelponlah beberapa
rekan untuk menyambung cobaan ini.
Betapa ternyata Gusti Allah memberikan jalanNya untukku. Dan
benarlah,seolah ada bagian dari badanku yang merespons aktif dan positif.
Seolah jalan yang tadinya jalan kecil setapak, musti menyeberangi kali kecil creek, ternyata di seberang kali
tersebut ada jalan beraspal, lebar 4 jalur, dua arah, lengkap dengan lampu
jalanan,serta kiri kanan sudah ada trotoar dan jalan khusus sepeda. Wow....
Memang Gusti Allah ini luar biasa..... Menunjukkan jalan indah dan tepat pada
saatNya.
Ditambah, sejak kemarin sudah tiga CD sharing N21 ku
dengarkan, makin terbakarlah semangat ini. Seolah jalan lebar, terang sinarNya,
dan matahari menyinari dengan indah seolah pagi jam 7, dengan hangat yang
sangat lama terasa. Boleh dikatakan rasa di badan ini seolah kembali pada usia
20-an atau awal 30-an.
Wow..... Siap menyambut
Dimana dalam salah satu CD-nya dikatakan pak Jo Simatupang,
kalo mau semangat, KERJA, sebab
dengan bekerja kita akan makin SEMANGAT.
Dan kalo sudah semangat akan MENULAR. Wow....
Kalo MENUNGGU,
maka akan MATI. Doug Wead
mengatakan, delay is death.
Monggo...
Jakarta 12:05; 4Nop2013
July 10, 2013
Wong Edan kok Diikutin....
Ora dhuwe udel. Urip
sak enak'e dhewe. Ra eling karo liyane.... Sak uni ne....
Terserah deh mau dibilang apa. Emangnya mau nunggu orang
lain komentar. Emangnya mau nunggu negara ini ganti presiden, ganti pemimpin.
Lha kalo ganti pemimpin emangnya lalu ganti suasana?
Lha ndak kejadian tho?
Lha ndak sesuai dengan janji tho?
Terus, mau kecewa? Mau protes? Mau demo? Mau teriak-teriak?
Hua ha ha ha ..... Urip kok nunggu orang lain?
Tadi pagi sambil cross-training (olah raga semacam
treadmill), saya baca tulisan Romo Sudriyanta. Lupa nama bukunya, juga halaman
berapa? Cuma ingat segelintir rentetan kata:...Subyek dan Obyek.
Kita adalah Subyek, hal yang kita pikirkan (akan
terjadi, atau harapan untuk terjadi atau dimiliki atau dialami) adalah Obyek.
Lha kalo Subyek merasa menderita, frustasi, mau meledak, lha
ya monggo meledak saja. Kalo mau tertawa lha iya monggo tertawa saja.
Dhuaaaar.......!!!! Hua ha ha ha .....
Itu kan (hanya) rasa. Sementara rasa kan dapat dikendalikan.
Teman saya, mbak Nana (bukan nama sebenarnya) bilang,"lha mas tapi kan
ndak gampang... Emangnya mudah kita menerima kejadian ini? Emangnya gampang
kita lepaskan rasa kecewa? Apa iya kita ndak boleh protes?
Lho mbak, kan rasa frustasi, kecewa, senang, mau protes, iya
boleh dong.... Pertanyaannya, mau berapa lama kita simpan rasa itu? Emangnya
ada gunanya? Emangnya kejadiannya bisa ilang sendiri? Apa maunya (sak enak'e
dhewe ini) orang lain yang mengambilkan putusan.... (lihat kembali tulisan : Memutuskan
atau Mengendalikan)
Kalo mau disimpan, eman-eman, ya monggo. Dirasakan. Wong
hidup-nya sendiri, wong badannya sendiri, wong ndak enak juga rasa-nya sendiri.
Tapi....apa perlu "minta!!!" (dengan tanda seru) orang lain musti
merasakan juga?
He he he, wong edan, kok diikutin..... Mau berubah kok
mintanya yang lain yang berubah? he he he
Jakarta, 10 Juli 2013, 8:25
April 23, 2012
Prejudice
Beruntung hari sabtu kemarin, istri tercinta mengajakku untuk kunjungan dan melakukan misa di penjara.
Satu perasaan yang langsung terungkap adalah, apakah kita lebih baik, lebih suci, atau lebih pantas dari mereka tersebut? Atau bila pertanyaannya dibalik, apakah mereka lebih berdosa dari kita yang di luar penjara?
Misa berlangsung lancar, awalnya agak kaku, tetapi saat liturgi dikombinasi dengan lagu, telah mencairkan suasana. Bahkan saat bersalaman-salam (salam damai), yang semula ragu, kaku, berakhir dengan cair dan senyum kehangatan.
Terima kasih Gusti, hamba boleh mengalami lagi kehangatan sesama.....
Sepulang dari kunjungan tersebut, pertanyaan....apakah rasa bersalah itu selalu diidentikkan dengan dosa? Apakah melanggar aturan negara akan selalu sama dengan melanggar aturan agama?
Biarlah tetap menjadi "tanya"....
Jakarta 18.57 23Apr2012
Satu perasaan yang langsung terungkap adalah, apakah kita lebih baik, lebih suci, atau lebih pantas dari mereka tersebut? Atau bila pertanyaannya dibalik, apakah mereka lebih berdosa dari kita yang di luar penjara?
Misa berlangsung lancar, awalnya agak kaku, tetapi saat liturgi dikombinasi dengan lagu, telah mencairkan suasana. Bahkan saat bersalaman-salam (salam damai), yang semula ragu, kaku, berakhir dengan cair dan senyum kehangatan.
Terima kasih Gusti, hamba boleh mengalami lagi kehangatan sesama.....
Sepulang dari kunjungan tersebut, pertanyaan....apakah rasa bersalah itu selalu diidentikkan dengan dosa? Apakah melanggar aturan negara akan selalu sama dengan melanggar aturan agama?
Biarlah tetap menjadi "tanya"....
Jakarta 18.57 23Apr2012
Pindah.....
Menunggu adanya kepindahan, merupakan suatu yang luar biasa, bila kita mengalaminya.
Ada rasa bingung, senang, sedih, menyesal, bahagia, menerima, tidak rela, mau cepat-cepat dilalui, atau bahkan ada saatnya ingin menundanya saja. Wuih...seperti gado-gado atau Nano-nano. Rasanya asem, manis, asin. Campur aduk.
Awalnya rasa ini, tidak dapat menerima, sehingga pertanyaan di kepala adalah kenapa? Apa yang salah? Seberapa besar dampak kesalahan ini? Bagaimana bisa terjadi?
Sempat pembicaraan di hati kecil adalah, bagaimana bila semua pertanyaan tersebut tidak perlu ada jawabnya? Apa perlu dijawab? Apakah saya akan menyesal bila memperoleh jawabnya?
Sampai pada pertengahan minggu lalu, saya memutuskan untuk tidak (perlu) mencari jawabnya. Biarlah tetap menjadi misteri. Life goes on...
Bukankah hidup semakin menarik bila kita menerima misteri tersebut, tanpa ditelan, tanpa dikunyah, tanpa berdampak.
Enak saja!.....ternyata alam bawah sadar saya melawan, dengan semakin blunt saya berkomentar (baik dalam hati maupun berpikir). Sempat atasan saya menegur dengan mengatakan,"...kamu stress ya...?"
Awalnya dalam hati saya tidak mengakuinya, tetapi akhirnya saya akui bahwa sedikit banyak saya terpengaruh juga....
Malu...? Tidak... That's life.
Terima kasih Tuhan, saya boleh mengalaminya. Inilah berkah hidup.
Jakarta 18.40 23Apr2012
Ada rasa bingung, senang, sedih, menyesal, bahagia, menerima, tidak rela, mau cepat-cepat dilalui, atau bahkan ada saatnya ingin menundanya saja. Wuih...seperti gado-gado atau Nano-nano. Rasanya asem, manis, asin. Campur aduk.
Awalnya rasa ini, tidak dapat menerima, sehingga pertanyaan di kepala adalah kenapa? Apa yang salah? Seberapa besar dampak kesalahan ini? Bagaimana bisa terjadi?
Sempat pembicaraan di hati kecil adalah, bagaimana bila semua pertanyaan tersebut tidak perlu ada jawabnya? Apa perlu dijawab? Apakah saya akan menyesal bila memperoleh jawabnya?
Sampai pada pertengahan minggu lalu, saya memutuskan untuk tidak (perlu) mencari jawabnya. Biarlah tetap menjadi misteri. Life goes on...
Bukankah hidup semakin menarik bila kita menerima misteri tersebut, tanpa ditelan, tanpa dikunyah, tanpa berdampak.
Enak saja!.....ternyata alam bawah sadar saya melawan, dengan semakin blunt saya berkomentar (baik dalam hati maupun berpikir). Sempat atasan saya menegur dengan mengatakan,"...kamu stress ya...?"
Awalnya dalam hati saya tidak mengakuinya, tetapi akhirnya saya akui bahwa sedikit banyak saya terpengaruh juga....
Malu...? Tidak... That's life.
Terima kasih Tuhan, saya boleh mengalaminya. Inilah berkah hidup.
Jakarta 18.40 23Apr2012
Labels:
alam bawah sadar,
berkah,
berkat,
blunt,
hati kecil,
misteri,
pindah,
rasa
Subscribe to:
Posts (Atom)