November 07, 2013

Jujur, Terbuka, Transparan, Telanjang



Belakangan ini beberapa kata ini sering aku dengar, aku baca, aku liat di media cetak maupun media elektronik. Kok begitu gampang orang mengatakannya? Apa sebenarnya hal ini benar-benar dia inginkankah? Apakah hal ini ingin diterapkan untuk orang lain kepadanya semata atau dia juga secara konsisten melakukannya pada diri sendiri, juga pada orang lain?

Nyinyir kah aku? Ya jelas dong, lha wong aku melakukannya aja teman, juga keluargaku protes. Apalagi orang lain yang ndak dikenal.

Jujur, apa sih yang dimaksud jujur. Dalam bahasa dan pengertianku, jujur adalah menyampaikan apa adanya, tanpa dibumbui, tanpa diubah intonasinya, juga tanpa dikurangi. Just it. As is. Coba aku jujur pada istriku, kalo aku punya pacar lagi. Pasti dia akan murang moring marah-marah ndak karuan. Sebelum minta penjelasan, pasti dia akan mutung, ngambeg.  Kedua, coba aja, aku jujur pada perusahaan tempatku bekerja kalo aku juga masih bekerja untuk perusahaan lain. Maka aturannya menjadi bingung. Mau dihukum, dia jujur, ndak dihukum karena sudah ngaku dan self-declare, kok ndak sesuai dengan aturan. Maka semuanya serba bingung, jengah malah susah.

Jadi maunya apa sih?

Apa iya jujur itu tuntutan ku (enaknya pake istilah sendiri kan? Daripada pake istilah orang lain?) hanya untuk orang lain padaku? Atau memang aku juga jujur pada orang lain? Hayoooo ini kan timbal balik. "Mau ndak"? Maafkan ya, aku ndak tanya "mampu atau ndak"?  Lha orang itu pasti mampu, tapi mau atau ndak itu yang selalu menjadi masalah.

Terbuka; nah ini aneh lagi. Orang sering teriak-teriak minta keterbukaan, disclosure, itu bahasa kerennya, transparansi.  Nah kalo terbuka ngablak? Telanjang? Semua orang boleh meniru? Coba dipikir dulu, maksudnya terbuka itu opo?

Misalnya: dulu waktu kecil aku sempat pake uang ibu untuk beli permen. Sebab sebelumnya kuminta dibelikan permen (terbuka kan?), tapi ibu ndak setuju (juga terbuka kan?). jadi saat ibu memintaku beli minyak di warung depan, kembaliannya kubelikan permen (ndak jujur). Lalu kubagi-bagikan pada mbak ku dan adik ku. Sore hari, baru ibu tanya, Le.. (asal kata Tole), kembalian beli minyak tadi kemana? Kujawab,"he he he, bu tadi kubelikan permen (jujur setelah ditanya), kumakan dan kubagi ke mbak dan adik." Oalahhh Le... itu kan sebenernya buat tabunganmu (blessing in disguise... tapi sudah telat).

Halaaaah. Waduh...

Ini yang namanya jujur, ndak terbuka tapi malah bikin nyesel sebab artinya ndak jadi deh tabunganku nambah. Lha wong sudah dimakan dan dibagikan. 

Jadi apa iya kita masih menuntut orang lain untuk jujur, terbuka, transparan, dan telanjang, sementara kita sendiri ndak mau melakukannya pada diri sendiri apalagi buat orang lain secara sukarela, yang tanpa diminta? (baca: dipaksa sebab kepergok...)

Monggo.....



Jakarta 10:54, 7Nop2013

November 04, 2013

Mimpi Jadi Pemimpin



Tadi malam, aku bermimpin mewakili negeri tercintaku dalam forum internasional, diisi oleh para pemimpin negara besar, yang cenderung sombong, norak sekaligus pro status quo.  Diisi oleh meja melingkar dari suatu ruangan yang sangat besar, serba putih, juga sangat senyap. Semua menunggu giliran untuk bicara. Tapi lucunya yang dibicarakan adalah ketahanan pangan, ketahanan energi serta ketahanan lainnya yang mendukung kemampuan bumi tempat perpijak ini untuk lebih mengarah pada kesejahteraan dengan dasar pertukaran antar negara sehingga masing-masing lebih berdaulat. 

Ngeri lihat judulnya. Tetapi saat dimulai jam sembilan waktu setempat, ternyata pembicaraan hanyalah melulu kemauan negeri kaya raya untuk lebih bisa mengeduk sumber daya alam dan kemampuan negeri lainnya yang dilihatnya lebih rendah dan kurang berdaulat, serta dianggap lebih rendah kemampuan tawarnya.  Terlihat dari cara bapak-bapak terhormat tersebut mengemuka pendapatnya, hanya dinyatakan satu arah dan gerak pola badan atau sering disebut gesture tidak mensyiratkan inginnya jawaban atau bahkan sanggahan. 

Wakil negeri Amerika Serikat, negeri-negeri dongeng Eropah dan Kerajaan Inggris serta negeri bawah yang mengaku dirinya bermartabat Australia menunjuk-nunjukkan jarinya pada negeri yang ber-indah dan bersumber daya alam melimpah, seperti negeri ku Indonesia, sang zambrud khatulistiwa, negeri-negeri indah di Amerika Selatan, juga negeri-negeri beralam luar biasa dan budayanya yang luar biasa seperti China, Mongolia, Vietnam, dan Jepang serta Korea. 

Dalam mimpiku, arah pembicaraan yang mulai tidak seimbang tersebut, memakan waktu lebih dari tiga hari tiga malam, dan pada gilirannya setelah negeri yang merasa diri kaya tersebut tidak ada bahan untuk mencela serta menunjukkan gigi nya, maka diberinyalah kami kesempatan untuk bicara.

Saat menunjuk pada Indonesia, kebetulan aku sebagai anak bawang, sebab dibanding mereka, bapak-bapak itu sudah berumur dan maaf mulai bau tanah, tapi masih mengagungkan tata nilai Barat yang sebenarnya mulai luntur, luluh serta menguap.

Mulailah kusampaikan pandanganku, dengan sura lirih, pelan, sopan, tanpa banyak basa-basi, serta tetap mengemukakan pandangan keutuhan bumi dan hubungan saling mendukung kedaulatan demi kesejahteraan masyarakatnya. Ku sampaikan ide tentang bagaimana saling respect, dan memberi, yang didasari kasih yang tidak berperhitungan. 

Ide tersebut antara lain:
  • ·         terbuka yang bukan telanjang
  • ·         mendengar untuk memberi
  • ·         barter karena kebutuhan
  • ·         nilai tukar adalah kasih

Belum selesai ku sampaikan, baru mau masuk pada penjelasan, walaupun sudah kusampaikan bahwa tidak akan memakan waktu lebih dari sepuluh menit, bapak-bapak terhormat itu sudah memotong pembicaraan dan ingin diganti oleh pembicara berikutnya.....

Bahkan disampaikannya,"apa yang kamu tau anak muda yang masih bau kencur ini? Menulis saja baru bisa kemarin sore, sudah ingin meng-kuliahi kita. Berapa banyak yang bisa negerimu hasilkan, usahakan dengan dana sendiri, tanpa perlu mengganggu kami. Anak muda yang sombong, pongah dan tak membaca sejarah, Ganti.....!!!!"

Hanya diam dan senyaplah balasanku. Tidak ada senyum tidak ada dendam dan kesal. Hanya rasa kasihan yang ada padaku karena mereka tidak tahu apa yang mereka pikir, perbuat apalagi katakan.

Monggo.........

Jakarta, 09:05, 4 Nop2013


Ratapan atau Keriaan Besar


(saduran menarik ini saya ambil dari buku "Death without Fear"-nya Tonny Stubbs. Luar biasa, dan menurut hemat saya penting untuk kita ketahui dan pelajari kebiasaan dan perasaan orang yang meninggal dan yang ditinggalnya). 

Beberapa kontrak kunci  pada fase rencana kehidupan (di bumi):
  • ·         Kontrak utama pengasuhan orang tua
  • ·         Permohonan pada sesama, sepenanggungan dan permintaan kelahiran
  • ·         Teman-teman dan musuh permusuhan
  • ·         Kontrak transisi - orang yang akan melepasmu ketika kita siap untuk meninggalkan (dunia)
  • ·         Penyambut - orang yang akan menemuimu saat kita meninggalkan (dunia) dan kembali ke alam baka.
  • ·         Kontrak-kontrak kecil, seperti peran yang akan dimainkan atau diperankan dengan orang lain selama kita hidup (di dunia fana)
  • ·         Exit points:  yakni saat kita secara sadar telah merasa secara komplit telah menyelesaikan tugas, misi atau tujuan hidup kita (di dunia).  Exit points dapat berupa sakit yang sangat serius (berat) atau kecelakaan fatal, dan jiwa (soul) akan merespon nya dalam 3 cara berikut ini:

o   "baiklah, saya telah selesai. Saya akan Pulang."
o   "saya belum menyelesaikannya, dan berniat untuk memaksakan misi saya sesegera mungkin!". Pada kasus ini, anda akan sembuh pulih dari sakit berat atau kecelakaan tersebut, dengan energi baru menjalani hidup dan menyelesaikan misi.
o   "saya ndak yakin (apakah ini pintu saya), jadi saya akan menunggu pintu keluar berikutnya."  Dalam kasus ini, anda akan ditarik dari sakit yang mengancam hidup atau sembuh/pulih dari sakit, dan hidup anda berjalan kembali sampai pintu keluar berikutnya.

Sangat penting, bahwa mereka yang ditinggalkan tahu tentang pintu keluar (atau jalan kematian) karena dengan mengetahuinya akan sangat memberdayakan untuk lebih mengetahui bahwa kematian bukanlah sesuatu yang "dikenai" pada orang yang kita cintai, melainkan sesuatu yang sudah direncanakan jauh hari bahkan sebelum kita lahir; serta memang kita setiap orang atau orang yang meninggal yang kita cintai tersebut telah memilih caranya.  Juga bukan sesuatu yang Tuhan timpakan atau tarik kita dari hidup kita.  Atau, juga bukan karena malaikat maut memutuskan jalan hidup kita.  Ini sesederhana, bahwa orang yang kita cintai mengatakan,"Baiklah, saya telah memperoleh banyak sekali suka duka, asam garam dan pengalaman hidup ini, dan sekarang saatnya saya Pulang."

Dari berratus bahkan berjuta kali orang-orang yang telah dilakukan channeling melalui medium cenayang yang telah saya baca, tidak seorangpun mengatakan demikian,"sebenarnya saya diambil terlalu cepat. Dan juga ini sebenarnya belum waktu saya meninggal." Tidak seorangpun, justru mereka tanpa perlu disebutkan satu persatu mengatakan,"Saya telah merencanakan untuk meninggal sejak lama (sebelum lahir) dan ini merupakan waktu nya."  Sekarang, saat anda meninggalkan dunia fana, mungkin merasa dirampok, atau dicampakkan atau ditarik, dan mungkin akan melalui masa ratapan, ketidakterimaan, atau kesakitan karena terputus. Secara alternatif, anda dapat memfokuskan diri pada masa-masa indah bersama, daripada mengharapkan masa bersama, yang memang tidak mungkin terjadi lagi. 

Ketika seseorang yang kita cintai belajar kemungkinan untuk menyongsong kematiannya segera, atau justru telah terjadi mendadak, maka kepergiannya telah meninggalkan lubang dalam hidupnya, dan berikutnya melakukan penyesuaian dalam "lubang" tersebut.  Baik terjadi dalam bayi yang lahir langsung meninggal atau seseorang yang telah meninggal karena usia tua, penyesuaian yang terjadi dapat memakan waktu beberapa hari, beberapa minggu, bulan atau bahkan tahunan. Tidaklah ada periode pasti atau lama waktu yang baku berapa lama kita dapat menyesuaikan diri. Pengalama tiap orang akan berbeda satu dengan yang lainnya.  Mungkin saja anda tidak memerlukan penyesuaian dalam "lubang" tersebut sampai anda meninggal dunia dan dapat bersama dengan orang yang anda sayangi tersebut. 

Jadi mari kita lihat lebih dalam, proses apa yang terjadi dalam penyesuaian di hidup anda tersebut. 

Siklus Ratapan Orang yang ditinggalkan.
Pada bahasan sebelumnya, kita telah memperhatikan siklus seseorang yang akan mengalami kematian.  Bagi orang yang ditinggalkan, terdapat 5 tahapan Ratapan, sebagaimana diidentifikasi oleh Dr. Elisabeth Kubler-Ross pada bukunya On Death and Dying.  Model yang cukup terkenal ini menunjukkan proses ratapan yang dilalui oleh orang yang ditinggalkan orang yang dikasihinya.  Tahapannya adalah sebagai berikut:

1.       Kejutan Awal, Penghindaran dan Isolasi (Initial Shock, Denial and Isolation), dimana anda merasa sangat kehilangan mendadak.  Menolak untuk menerima kenyataan bahwa orang yang kita kasihi pergi meninggal atau meninggalkan kita. Dan anda mungkin mengisolasi diri dari teman dan saudara. "Ini ndak bener. Tinggalkan saya sendirian."

2.       Marah, Muntab, Marah Besar dan tidak terima kenapa orang terkasih "dipilih" untuk meninggal mati sementara orang lain atau kita ndak.  Kemarahan ini bisa ditujukan pada Tuhan, keluarga, dokter, yang menyebabkan putusnya hubungan karena kematian ini.  Dapat saja anda berargumen pada Tuhan, menjanjikan anda akan menjadi baik sebagai pertukaran karena orang terkasih kita meninggal. "Biarkan orang terkasih saya hadir di pernikahan putri kami Juni mendatang." atau "Mohon biarkan dan lepaskan cucu saya dibaptis bulan depan."

3.       Depresi, yakni saat anda meratapi kematian kehilangan dan bingung kenapa hal ini terjadi? Biasanya rasa ini dibarengi oleh rasa kesepian yang luar biasa, panik, sangat bersalah, terutama jika anda merasa sebenarnya anda dapat membantunya menghindari (kematian) nya.

4.       Penglepasan, mundur diri, isolasi dan apatis

5.       Penerimaan.  Dengan bekerjanya proses penglepasan, mundur diri dan apatis, akhirnya berserah diri pada hal yang tidak dapat dihindari.  Hal ini tergantung pada keyakinan kepercayaan anda masing-masing, anda diharapkan mendarat pada kondisi penerimaan, optimis dan harapan yang sunyi.

Lima tahapan tersebut di atas - penghindaran, kemarahan, tawar-menawar, depresi dan penerimaan - adalah bagian proses mutasi atas kehilangan anda menjadi rasa syukur.  Hal-hal tersebut menbantu anda untuk (lebih) mengerti apa yang mungkin anda rasakan, tapi bukan merupakan tahapan baku yang berjalan sesuai dengan urutan dan linear.  Dan tidak semua orang mengalaminya sama atau sesuai. 

Penghindaran (denial), sebagai tahapan awal dari ratapan ketidakterimaan, bukanlah ungkapan rasa kehilangan, tapi justru membantu anda bertahan hidup dengan cara membuat kebas (tidak terasa). Hal ini merupakan cara yang dilakukan agar semata-mata bertahan hidup.  Penghindaran membantu anda mengelola ratapan dengan mengukur seberapa saat ini tingkat yang dapat kita tanggung.  Jadi penghindaran merupakan mekanisme proteksi kita untuk menjaga agar emosi kita tetap terkelola, sebab untuk membiarkan hal ini terjadi semuanya pada tahap ini akan menjadi sangat berat dan beban yang luar biasa.

Penghindaran atas apa yang telah terjadi pada orang yang kita kasihi meninggal, yang dapat menyebabkan anda berada di situasi buruk yang dapat terjadi antara lain; Pertama, anda ketakutan akan apa yang terjadi saat dia terkasih meninggalkan tubuh fananya. Lalu, apa yang akan terjadi, tidak satupun dari anda mengetahui.  Kematian ini akan menarik anda dengan sangat kuat, dan menjadi ratapan yang amat sangat pada orang-orang yang ditinggalkan.  Mereka akan "tergantung" pada alam fana ini, tapi kita dan anda tidak dapat mendengar suara mereka, atau melihat mereka.  Dan hal ini akan menambah melipatgandakan rasa frustasi dan kebingungan orang terkasih kita. Dan jiwa tergantung tersebut tidak mengetahui mengapa mereka tergantung.  Sementara anda tetap meratap, berdoa, menangisi makam, nisan dan apapun peninggalan mereka, dan tetap menahan mereka melekat pada alam fana ini.  Jika saja, sekali lagi jika saja mereka tahu dan mencari Pemandu Penerima mereka di alam baka sana, yang akan bersama melalui lorong tersebut menuju sinar di alam baka sana, maka akan membuat situasi mereka sangat berbeda. 

Kapanpun anda, sebagai orang yang ditinggal oleh orang terkasih yang telah meninggal dunia, dan mengunjungi jasad yang telah ditanah di pemakaman, menabur bunga, berdoa dan berpikir kasihan pada terkasih yang meninggal tersebut, akan membuat mereka yang telah berjalan duluan tersebut ditarik ke dunia fana ini.  Jadi pemikiran absurd dan ndak jelas bahwa jiwa-jiwa yang telah terbebas di alam baka tersebut masih terhubung dan bahkan masih menetap di alam baka, dan bersatu dengan jasadnya yang sudah pasti sudah rusak tersebut.  Dan ratapan emosional kita yang ditinggalnya tersebut akan menariknya dengan kuat saat kita berkunjung ke makam. Rasa sedih yang tidak perlu, bila tidak dilepaskan, akan anda alami bahkan bertahun-tahun, apalagi saat anda mengunjungi makan saat ulang tahun kematiannya.  Pemahaman sederhana ini adalah menganjurkan bagian peran anda untuk segera memutuskan dan meninggalkan kebiasaan yang merusak tersebut. 

Jadi anda bayangkan, bila nanti anda sendiri yang meninggal dunia, anda bahkan akan ragu untuk kembali mengalami alam fana dengan segala ratapannya; dibandingkan menjalani pilihan hidup dengan penuh kebebasan di alam baka.  Sehingga akan menjadi sangat berguna kita mengetahui dan mempelajari hidup di alam baka sana, sehingga saat inipun dapat segera memiliki pemahaman bahwa orang terkasih yang meninggal tersebut segera dan dengan cepat hidup dalam cinta dan suka cita. 

Mungkin ini terdengar ndak berperasaan, bahwa melakukan ratapan yang berkepanjangan adalah egois dan hanya menyenangkan hati sendiri saja; anda tidak benar-benar berpikir kebahagiaan orang yang meninggal dan keberuntungan mereka, melainkan hanya memikirkan kehilangan yang anda alami saja. Jadi laluilah kehilanganmu dan kembali jalankan misi jiwa anda.  Karena mereka meninggal dan bukan anda, mereka akan menjalani peran mereka, tapi anda tetap berlari di lintasan anda, jadi tetaplah berlari.  Yakinkan bahwa ndak memerlukan waktu lama, anda akan bergabung dengan orang terkasih anda.  Rayakanlah hidup....

Pikirkan betapa egoisnya anda.  Saat orang terkasih berangkat menuju alam baka menyambut sinar kasih dan keriaan dengan segala keajaiban, eh....justru anda menahannya dengan ratapan.  Padahal hal ini justru akan membuat orang terkasih anda merasakan sakit yang amat sangat karena melihat anda orang terkasih yang ditinggalnya sedih yang amat sangat.  Jadilah mereka yang sudah meninggal tersebut datang lagi untuk mencoba menghibur anda.  Padahal mereka justru musti berangkat dan berjalan menuju sinarNya untuk menjalani evolusi di alam baka menuju fase selanjutnya.  Jika anda benar-benar benar menyayanginya, mencintainya, lepaskan, relakan, ikhlaskan orang terkasih tersebut.  Alternatif lain yang mungkin dapat disampaikan mereka yang telah meninggal untuk tetap mendekati alam fana ini adalah dengan mencoba menarik perhatian anda untuk menyampaikan,"saya baik-baik saja.  Saat ini saya sudah bebas, sehat kembali dan sangat ringan luar biasa, jadi mohon ikhlaskan relakan saya Pulang."  Ada kasus ratapan yang panjang dan dalam, yakni saat seorang ibu yang belum merelakan anaknya yang meninggal. Dan hal ini dapat memakan waktu puluhan tahun.  Dengan penjelasan di atas, jadi jelaslah, bahwa kondisi situasi ini tidaklah sehat untuk keduanya. 

Orang tua akan terkena pukulan hebat sekali bila anak kecilnya memerlukan penanganan khusus dan mereka meninggal mendadak.  Masalah terbesarnya adalah rasa bersalah, dalam hal ini, sang anak akan merasa bertanggung jawab karena ditinggal orang tuanya (meninggal), dan akan berusaha untuk menawar (pada Tuhan) agar orang tuanya kembali ke rumah (alam fana) dengan melakukan ritual sekitar rumah.  Anak-anak ini harus dipandu melalui proses ratapan, dan saat yang sama orang tua (yang meninggalpun) dipandu di alam fana sana.  Sedikitnya bila sang orang tua yang meninggal melalui sakit terlebih dahulu, baik orang tua dan sang anak masih dapat melakukan rekonsiliasi hati masing-masing, dan kedua belah pihak dapat memahami bahwa mereka masing-masing tidak perlu bertanggung jawab atas kelangsungan selanjutnya untuk pihak lainnya.  Dan pada saat-saat sulit tersebut, diharapkan teman dan anggota keluarga lainnya ikut mendukungnya. 

Jadi jelaslah bagi anda maupun orang terkasih yang meninggal kondisi apa yang dihadapi.  Kalaupun anda meratap, sebenarnya ratapan ini untuk anda sendiri dan bukan untuk sang terkasih.  Kitapun telah tahu dan yakin, bahwa mereka yang Pulang dalam keadaan baik-baik dan sedang bahagia menuju Sang Pencipta di alam baka itu.  Sementara jasad yang ditinggalkan dengan segala upacara dan kebiasaan adalah tidak diperlukan.  Kalau boleh menyarankan, dibandingkan dengan ziarah ke makam, lebih baik pergi ke tempat dengan keindahan alam, dimana di sanapun kita bisa bercengkerama dan berkomunikasi dengan orang terkasih yang telah meninggalkan kita.  Kedua belah pihak akan merasakan indahnya alam.

Dalam The Elusive Gift of Tragedy, Regina Murphy menyampaikan cerita lucu dan aneh tentang bagaimana anak lelakinya yang telah berpulang, membuatnya berhenti meratap dengan cara yang luar biasa.  Sejanak setelah anaknya berpulang, Regina membiasakan diri dengan menyetel video berisi kegiatan anaknya dan menangis. Suatu hari, ada kejadian janggal, saat dia ingin menyetel DVD dan mencoba beberapa tidak ada satupun yang bisa disetel. Sang ibu mulai frustasi saat hampir semua DVD tidak bisa dinyalakan.  Akhirnya, dia mencoba DVD terakhir yang isinya saat anak lelakinya tahun lalu sedang berlatih gitar untuk persiapan audisi.  Sang anak terganggu saat ibu memfilmkannya dan dengan marah mengatakan ke kamera,"Matikan Kameranya!" dan memang sesudah demikian dia matikan segera kameranya.  Akhirnya dia nyalakan DVD tersebut lewat komputer, dan tanpa sebab, dia mulai menyalakan dan terlihat di monitor sang anak bilang,"Matikan Kameranya!". Dia menyetel ulang DVD tersebut dan menyalakan kembali. Sampai empat kali dia lakukan. Nyalakan, lalu matikan. Lalu berhenti. Dan mulailah dia tertawa terbahak-bahak, dan menyadari bawah sang anak John telah mengendalikan komputer dan meminta ibunya untuk mematikannya. Sang anak tidak menginginkan ibunya menonton apapun yang ibunya sedih, meratap apalagi membuat ibunya kecanduan mengenangnya.

Ratapan adalah tentang Berubah, dan perubahan yang diinginkan adalah saat orang terkasih kita hilang, pergi atau meninggalkan kita.  Jadi, ratapan adalah kegiatan berkonfrontasi dengan perubahan dan memaksa kita untuk menyesuaikan diri, saat nanti orang terkasih tersebut sudah tidak bersama kita.  Perubahan yang besar misalnya saat pasangan kita meninggal atau pergi, angin topan menghancurkan rumah kita, anda dipecat PHK dari kantor tempat anda bekerja; maka anda menghadapi perubahan hidup luar biasa yang perlu ditata ulang.  Tentu saja, kemarahan dan penghindaran adalah pilihan, TAPI penerimaan dan menyesuaikan adalah respon yang didasari kesadaran.  Jadi saat anda memilih penerimaan dan melakukan penyesuaian, tanyalah,"Sekarang, kenapa saya harus menarik hal ini dalam hidup saya? Apa hikmahnya untuk saya? Bagaimana saya bisa manfaatkan (kejadian ini) untuk bertumbuh? "  Bagi anda, rencanakan semua hal itu sejak lama untuk memaksimalkan pertumbuhan jiwa....dan hal tersebut adalah ide yang baik.

Sisi lain dari kehilangan orang terkasih adalah, saat anda pikir kematian adalah akhir (dari segalanya).  Cinta yang anda berikan pada orang terkasih tersebut tiba-tiba terdampar di suatu tempat, berhenti.  Hal ini sangat tidak nyaman, sebab cinta harus mengalir, berjalan. Semburat. 


belum selesai................



Jakarta, 30Okt2013













October 17, 2013

Kehilangan dan Berkah


Dalam situasi kondisi saat ini, suatu pengalaman yang menarik berdatangan dan pergi. Datangnya pengalaman, berkah, bakat terpendam, keinginan, kebutuhan, teman lama, hobi lama, dan seterusnya. Ternyata semakin menarik saat pikiran diam, keinginan ditahan, eh maafkan, maksud saya dilepaskan, kebutuhan diakui.

Tubuh fisik, pikiran, mental, kelihatannya hanya merupakan proyeksi dorongan dari dalam yang terus membuncah. Bila tekanannya dilepaskan, memang ada saat meletup sebentar, lalu normal, lalu keluar tanpa ditahan, stabil, halus, lembut.

Hambatan terjadi saat kita memfokuskan diri pada  keinginan yang membuncah, yang kemarinan, yang biasanya, yang wajarnya, yang sebaiknya, yang idealnya kita terima. Lho kok membandingkan? Lho kok memaksakan?

Di saat ikhlas adalah berkah, diperkenankan berada di dalamku. Betapa indah. dalam, tenang, biru, biru kehijauan, hijau pupus. Tourqouis. Dengan angin semilir, diterpa panas siang hari, seakan mengajak tidur dan bermimpi.

Indahnya.

Apakah ini bukan berkah namanya. Betul, benar, inilah berkahNya. BerkatNya.

Apalah hamba ini... prajurit yang hanya mengetahui dan menjalankan perintah Atasan. Terima kasih atas penyertaan selama ini. Tuhan mberkati.


Jakarta 14:10, 17Okt2013

October 16, 2013

Meeting dalam Diam



Terbayangkankah bila kita masing-masing diperkenankan untuk bertemu dengan pimpinan kita. Dalam kelompok kecilnya. Dalam inner-circle-nya yang hanya terdiri dari 7 orang. Hayo...pernah terbayangkan bila kita diundang oleh Yang Terhormat Gubernur kota kita.

Monggo apa yang akan disampaikan? Apa yang ingin didengarkan langsung dari beliau? Atau justru kita hanya mau mendengar "kalimat" atau "penghiburan" atau "janji" dari beliau bahwa masalah kita sudah didengarkan dan besok akan diselesaikan?

Pada hari yang telah ditentukan, misalnya dua hari dari sekarang. Diminta hadir sendiri. Pada waktu hari kerja....

Sekitar 1 jam dari waktu yang ditentukan tentunya kita telah hadir di tempatnya. Ruangan masih kosong. Ajudan belum hadir, sekretaris belum hadir. Pintu ruangan malah belum dibukakan. Tetapi sudah bersih, rapih dan siap untuk digunakan.

Kurang dari 10 menit, beliau dan tim sudah siap di ruang dan siap mengadakan pertemuan, meeting, demikian kita menyebutnya. 

Sekretaris beliau menemui kita, dengan memberikan pesan 2 hal; pertama, monggo ikuti aturan meeting; kedua, improvisasi saja.

Pada saatnya, dua menit menjelang jam-nya dipanggillah kita untuk ikut dalam meeting.

Lucu, ternyata dalam meeting, semua bersila, duduk di lantai, tanpa diperkenankan bersender.  Beliau yang memimpin langsung.  Diam....menunggu, waktu terus berjalan, lho kok ndak ada pengarahan? Lho kok ndak ada aturan? Lho ini gimana sih?

Sang waktu berjalan terus, lho kok semua diam, menekur, semua siap dalam posisi masing-masing. Semua menatap lantai yang kosong. Tadinya saya celingak-celinguk melihat sekeliling, tetapi Pak Gubernur dan semua tim diam, menatap lantai. Diam tidak bergerak, tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Gimana sih?

Padahal saya sudah siapkan berratus dan bahkan berribu pertanyaan, atau bahkan sebaliknya ingin mendengar langsung arahan beliau.

Ternyata, ndilalah'e kok ndak ada gerak, bunyi ataupun apapun yang lazim dalam meeting.

Ya sudah, ikut saja.

Setelah berjalan setengah jam, tiga perempat jam, bahkan satu jam sudah lewat. Tidak ada gerakan, suara.  
Kupendam saja keinginanku untuk bertanya, atau mendengar. Kutahan...malah yang terjadi adalah senyum, senyum sendiri.

Menjelang waktu satu setengah jam, Bapak Gubernur beranjak, berdiri, dan pas waktunya, beliau mempersilakan hadirin untuk memulai pekerjaan hari ini. Dan keluar ruang tanpa salaman, tanpa sapa, tanpa suara....

Wow

Menarik juga sih.

Meeting dalam Diam. Mau coba?



Jakarta 14:35, 16Okt2013

Left and Right


Merujuk pada kata di atas tersebut, maka terbetiklah dalam pikiranku yang ngawur dan terbang ke sana ke mari.  Kok baru terpikir sekarang mengapa ada orang menamakan diri sebagai golongan kanan, dan satunya lagi yang merasa jadi oposan, disebut sebagai golongan kiri.

Padahal maksud dari Right adalah kanan, tetapi Right juga dapat berarti Benar, atau selalu dalam kondisi dan situasi benar, sebab dalam kondisi yang memimpin atau memerintah dan kuasa ada ditangannya.   Sehingga membuat aturan baru (yang cocok untuknya), dan menabrak aturan lama (yang sudah tentu ndak cocok dengannya). 

Lho kok bisa-bisanya kalo golongan yang memerintah saat ini adalah The Right? Ya jelas dong, sebab selalu benar dalam bertindak, dalam pergunjungan, dalam perjalanan. Dengan catatan, bahwa mereka ini sedang berkuasa. Ndak janji kalo sudah ndak memerintah lho... he he he

Lalu Golongan Kiri (The Lefties), kok menurut saya bukan golongan kiri, karena merupakan kebalikan, atau oposan dari Golongan Kanan, melainkan karena merasa ditinggalkan, The Lefted (eh ada ndak ya kata ini dalam bahasa ibunya di sana). Biarin deh, kan kalo marah ya monggo diprotes dan dibetulkan lah....

Golongan yang merasa ditinggalkan ini adalah golongan oposan, yang kebalikan dari yang sedang berkuasa. 
Lucunya, dan menariknya, kedua golongan ini sebenarnya memiliki energi yang sama kuatnya. Padahal belum pernah ku mengukurnya. Yang satu energi untuk mempertahankan kuasanya, yang satunya lagi energi untuk mengalahkan yang sedang berkuasa. 

Saat yang satu dianggap pahlawan, maka yang lain menganggap pemberontak.  Demikian juga saat yang The Lefted tersebut berkuasa, maka pemberontaknya dijadikan pahlawan.  Dan pahlawan sang kuasa yang telah jatuh dianggap sebagai pemberontak. Ha ha ha balas-balasan ya...

Nah kita sebagai pemerhati, mau menganggap dan menempatkan diri kita sebagai Golongan The Right atau The Left? Monggo......

Ato seperti sekarang, musim lagi menjadi Non Blok, ya seperti jaman perang dingin, di luar NATO, di luar Russian Connection adalah Non Blok. Kalo para anak muda kita memilih Golongan Putih, yang suka diselewengkan menjadi Golongan Putri. Atau pendukung Kursi Kosong.

Monggo.......



Jakarta 13:09, 16Okt2013

October 01, 2013

Menipu Diri?


Tadi pagi, begitu bangun pagi hari terasa berat. Penuh dengan luka, ku berjalan menuju kantor. Bahkan untuk mengusirnya kulakukan olah raga selama 30 menit untuk membuat diriku bersemangat. Dan benar dengan kucuran keringat, begitu pula diriku mulai terselimuti rasa hangat dan panas dari dalam yang membuncah keluar.  Masih dengan rasa ndak enak yang ndak tau berasal dari mana?

Ataukah ini muncul dari cerita mbak ku sepulang dari tasyakuran keluarga bos ku, dimana kutanya mengapa acara syukuran kok sampai tangis-tangisan. Maka disampaikanlah bahwa itu merupakan keikhlasan untuk melepas diri dari berbagai keterikatan, termasuk keluarga, anak, suami, juga berbagai kepenuhan duniawi.  Maka seperti prajurit yang berperang syahid meninggalkan semuanya untuk menghadap Tuhan.

Ini menarik, sebab bukankah kita lahir di dunia ini dengan meninggalkan semuanya yang enak di dunia baka sana untuk menuju perjuangan selama di dunia fana? Lha kok perjalanan ini dianggap bukan ibadah?
Lha kok terbalik, kita malah menikmati dunia, dan takut kembali ke Gusti Allah, malah disebutkan apapun dilakukan untuk tetap hidup di dunia. Opo ini ndak terbalik.

Malah ada yang pake dukun, jin, atau kekuatan yang ndak kliatan, malah terbalik dan bukannya menjunjung Gusti Allah yang telah mengutus kita dan memberkati kita untuk berjuang dan menuntut menimba ilmu di dunia fana ini.

Jadi sebenarnya siapa sih yang kita tipu? Jiwa kita yang kita tipu atau kita yang ditipu oleh dunia ini?

Semuanya dibalik, terbalik dan malah ndak mau balik? Kan ini yang namanya edan, ngawur, ndak inget, ndak sadar dan ndak eling...


Jakarta, 16:28, 1Okt 2013