Showing posts with label telanjang. Show all posts
Showing posts with label telanjang. Show all posts

November 28, 2013

Bebas


Sejak bangun pagi ku digelendoti oleh kata yang demikian powerful, bebas, freedom, free, lepas melayang.
Kenapa sih kita pengin bebas? Bukankah bebas itu sudah menjadi bagian dari kita, manusia bebas.  Mau bebas yang gimana lagi?

Telanjang ndak ada aturan? Sepak sana sepak sini?

Ato justru bebas karena kita merasa adanya tali jerat rantai tembok laut yang menghalangi kita? Sementara ini, apa pernah mencoba bicara mendalam dari hati-ke hati dengan sel-sel tali, jerat, rantai, tembok dan laut?

Apa iya mereka diciptakan untuk menghalangi kita? Bukankah kita sendiri yang "memasang" dan "mengenakan" tali, rantai, tembok, dan laut itu sebagai batasan kita?

Lha panca indera saja bisa mencium, merasa, mencecap, melihat, mendengar, apa saja tanpa filter. Tidak perlu filter. 

Sang filter sendiri itu kan pikiran kita.  The mind, kata orang sononya.  Kalo pikiran saja sudah membatasi kita, apakah kita sendiri sedemikian manut, setuju, dan mau diatur oleh pikiran kita sendiri?

Bukan kah kita sendiri lebih dari pikiran kita? Lha kita diciptakan oleh Sang Maha tersebut sesuai dengan citraNya.  Mosok kita yang membatasi sendiri. Ya jelas sudah pasti ndak sesuai lagi dong dengan Citra Gusti Allah tersebut. 

Inget aku, saat kecil, bapak mengatakan,"Le kowe musti biso ngatur uripmu dewe." Kan artinya yang mengatur ya musti kita sendiri.  Tapi bukan berarti mengecilkan (diri) kita kan?

Kalo pimpinan kita bilang,"kamu tidak peduli dengan lingkunganmu." Apa iya dia menjelaskan bahwa yang musti dipedulikan ya omonganya saja? Lingkungan itu masyarakat yang mana? Apa iya masyarakat peduli dengan kita? Apa lingkungan ndak bisa berubah? Lha wong aku satu menit lalu bukan aku yang sekarang detik ini, di sini.  Mosok orang bisa bilang kalo kamu MUSTI BERUBAH. Padahal ndak disuruh saja memang sudah berubah.

Seperti di jalan raya, saat kita menyeberang jalan raya, saat kita menyeberang. Mobil motor yang tadi hampir menyerempet orang.  Apa bisa dikatakan bahwa itu ndak berubah dari waktu ke waktu, di tempat yang sama saja sudah berubah.

Umur satu menit lalu dan saat ini sekarang saja sudah berbeda.  Apa ini bukan berubah?  Tadi lapar, sebentar lagi kenyang, kelihatannya sudah mulai mulas ini perut, dan seterusnya.  Mosok dikatakan kamu musti berubah?

Kurang bebas apa? Kurang berubah apa? 

Jangan-jangan maksudnya berubah dan bebas dengan penuh kesadaran. Nah ini mungkin maknanya yang lebih dalam. 

Monggo....



Jakarta 07:54, 26Nop2013

Melayang


Saat pikiran membebani, bertanya, mencoba mencari jawab, saat itu pula harap dan kekhawatiran terus mengemuka.

Lepas, ikhlas, rela dan bebaskanlah yang membuat jiwa ini terbang melayang semburat.

Makin inginku akan penjelasannya sebening harap ini, makin terseretlah aku dalam terang yang ternyata kubangan lumpur itu. 

Makin ku jauhi dan ku tolak tanya penjelasan ini, makin ku terang dan lepas.

Sssssstttttt

Diamlah

Senyapku menelungkup dalam ramainya pikiran.

Sunyi, lembut, wangi semerbak seperti segarnya buah citrun yang baru terkena mata pisau pertama kali

Telanjangku bebas, selepas riang dukaku.

Datar ndak tau apa namanya.

Mungkin ini nama bila jiwa dalam pelukan sang Gusti.



Jakarta 19:17, 25Nop2013

November 07, 2013

Jujur, Terbuka, Transparan, Telanjang



Belakangan ini beberapa kata ini sering aku dengar, aku baca, aku liat di media cetak maupun media elektronik. Kok begitu gampang orang mengatakannya? Apa sebenarnya hal ini benar-benar dia inginkankah? Apakah hal ini ingin diterapkan untuk orang lain kepadanya semata atau dia juga secara konsisten melakukannya pada diri sendiri, juga pada orang lain?

Nyinyir kah aku? Ya jelas dong, lha wong aku melakukannya aja teman, juga keluargaku protes. Apalagi orang lain yang ndak dikenal.

Jujur, apa sih yang dimaksud jujur. Dalam bahasa dan pengertianku, jujur adalah menyampaikan apa adanya, tanpa dibumbui, tanpa diubah intonasinya, juga tanpa dikurangi. Just it. As is. Coba aku jujur pada istriku, kalo aku punya pacar lagi. Pasti dia akan murang moring marah-marah ndak karuan. Sebelum minta penjelasan, pasti dia akan mutung, ngambeg.  Kedua, coba aja, aku jujur pada perusahaan tempatku bekerja kalo aku juga masih bekerja untuk perusahaan lain. Maka aturannya menjadi bingung. Mau dihukum, dia jujur, ndak dihukum karena sudah ngaku dan self-declare, kok ndak sesuai dengan aturan. Maka semuanya serba bingung, jengah malah susah.

Jadi maunya apa sih?

Apa iya jujur itu tuntutan ku (enaknya pake istilah sendiri kan? Daripada pake istilah orang lain?) hanya untuk orang lain padaku? Atau memang aku juga jujur pada orang lain? Hayoooo ini kan timbal balik. "Mau ndak"? Maafkan ya, aku ndak tanya "mampu atau ndak"?  Lha orang itu pasti mampu, tapi mau atau ndak itu yang selalu menjadi masalah.

Terbuka; nah ini aneh lagi. Orang sering teriak-teriak minta keterbukaan, disclosure, itu bahasa kerennya, transparansi.  Nah kalo terbuka ngablak? Telanjang? Semua orang boleh meniru? Coba dipikir dulu, maksudnya terbuka itu opo?

Misalnya: dulu waktu kecil aku sempat pake uang ibu untuk beli permen. Sebab sebelumnya kuminta dibelikan permen (terbuka kan?), tapi ibu ndak setuju (juga terbuka kan?). jadi saat ibu memintaku beli minyak di warung depan, kembaliannya kubelikan permen (ndak jujur). Lalu kubagi-bagikan pada mbak ku dan adik ku. Sore hari, baru ibu tanya, Le.. (asal kata Tole), kembalian beli minyak tadi kemana? Kujawab,"he he he, bu tadi kubelikan permen (jujur setelah ditanya), kumakan dan kubagi ke mbak dan adik." Oalahhh Le... itu kan sebenernya buat tabunganmu (blessing in disguise... tapi sudah telat).

Halaaaah. Waduh...

Ini yang namanya jujur, ndak terbuka tapi malah bikin nyesel sebab artinya ndak jadi deh tabunganku nambah. Lha wong sudah dimakan dan dibagikan. 

Jadi apa iya kita masih menuntut orang lain untuk jujur, terbuka, transparan, dan telanjang, sementara kita sendiri ndak mau melakukannya pada diri sendiri apalagi buat orang lain secara sukarela, yang tanpa diminta? (baca: dipaksa sebab kepergok...)

Monggo.....



Jakarta 10:54, 7Nop2013