August 13, 2013

Mencari sound (alam) yang dicari...



Darah seni apa yang mengalir di dalamku? Seingatku dulu, ibu suka menyanyi, bapak suka mendengarkan musik yang ok punya deh. Saking senangnya dengan Koes Plus, pernah aku nonton konsernya di Gelora Sepuluh Nopember Suroboyo.

Iya, aku pernah tinggal di sana. Seingatku, ini yang aku sebut numpang lahir. Sebab besar di kota lain.
Menyambung kesenanganku dengan Yok Koeswoyo, kuingat pernah nyanyi sambil bergaya main gitaran dengan gagang sapu, lenggak lenggok maju munjur (inget gaya Soneta Grup nih).

Sampai suatu ketika, sukaku dengan musik terasah lagi saat di kelas 4 SD, guruku memang suka menyanyi. Sehingga saat kelas sudah klar, selalu ada pelajaran menyanyi. Murid lain ndak suka, tapi ndak demikian denganku. Buatku ini menambah perbendaharaan lagu baru. Dia suka mengajarkan lagu daerah dan lagu perjuangan.

Di kelas 5, diberitahu kalo nanti kelas 6 ada ujian memainkan alat musik. Maka jadilah aku les gitar, karena kesengsem oleh Benny sobatku yang belajar gitar les di YMI jalan Bumi, Mayestik. Sekarang sekolah itu ndak ada lagi. Apalagi, saat itu sobat ku yang lain, Sandy putra dari Bp Suwanto Suwandi, kakaknya juga les gitar di YMI dan sudah grade 6, jago banget main gitarnya. Senang aku melihatnya. Dan mulai berkayal nanti kalo bisa main gitar akan seperti Michael Gan (sekarang mungkin mirip dengan Om Jubing Kristianto, malah lebih jago kaleeee).
Tapi aku juga belajar harmonika, pianika, recorder, sehingga suatu waktu 3 minggu menjelang ujian di kelas 6, aku ditegor dimarahi oleh guru, karena setiap minggu aku diminta tampil ke depan kelas (seperti murid lainnya) untuk memainkan alat musik, lagunya selalu berubah-ubah. Dikatakan, kamu mau ujian ato pamer?
Sejak itu aku persiapkan hanya 2 lagu, 1 wajib dan satunya lagi lagu bebas. Kupilih yang ku suka saja. Nilai bagus dong....

Saat ke SMP, dimana kelas 1 masih les gitar, dan grade sudah 8, klasik mulai bosan. Sebab memainkan gitar musti baca not, dan sekaligus aturan tanda dinamika dst dst. Jadi kalo aku pengin main gitar dengan kord-nya, gagu dan kelu, bingung.

Sampai suatu ketika, bapak pulang kantor membeli kaset Rolling Stone dan Deep Purple. Kata bapak, ini dari temen bapak, katanya,"pasti anakmu seneng model anak muda ini..."

Dan benar, sejak saat itu aku putuskan main gitar listrik dan tertarik dengan Keith Richard saat memainkan Lady Jane dan Brown Sugar. Nah mulailah.....

Semua jenis musik, jenis aliran, jenis penyanyi, apa aja deh.... Ndak ada batasan, ndak ada pantangan. Yang enak didengar, ada yang enak dimainkan, ada yang enak dilihat (aksi panggungnya).

Maka mulailah main band di kelas 2 SMP, bareng sobatku Oong, Rocky, Benny, Bayu . Juga Eddy Yanto, dan Bowo.  Malah saat kelas 3 SMP, main 2 aliran dalam 2 band, ditambah, Rudy dan Hanung.

Malu? ya ndak lah... itu kan bagian dari perjalananku.

Selama SMA hanya kelas 3 aku main band, itu dengan Bayu, dan beberapa teman dari kompleks SekNeg Cileduk. Jadi ini band di luar teman SMA.

 Setelah itu kuliah, aku pindah ke nyanyi. Ternyata bisa juga ya? Eh...ndak juga sih. Wong tujuan masuk paduan suara itu dulu cari jodoh. he he he (mbuka rahasia nih). Bonusnya bisa nyanyi sedikit-sedikit, malah sempat dijorokin kecebur organisasi juga sih...

Yang paling berkah adalah aku dapet jodoh, wanita istimewa dan sampai saat ini sudah 20 tahun menjalani hidup rumah tangga dengan 3 anak2 berkah Gusti Allah...

Di tahun 2009, saat di kantor menunggu penugasan baru, berjalan bulan ke-4, mulailah aku disarankan oleh sobat kentalku, kalo ini mungkin mulai masuk puber kedua. Jadi musti disikapi dengan bijak. Dia menyarankan coba mencari kegiatan alternatif, syukur-syukur akan membuka wawasan dan kebijakan. Disarankan untuk memilih minimal 1 dari 3; yakni, belajar bahasa (sama sekali yang baru, bukan bahasa jawa, apalagi Inggris); belajar agama (ini ada bahayanya, sebab bisa makin dalam, bisa terpanggil dengan benar ato jadi gila beneran) atau belajar alat musik sama sekali baru (bukan gitar, recorder, harmonika, pianika). Ternyata aku pilih yang ketiga.

Mulailah aku mampir ke Wijaya Musik PangPol, cari-cari alat musik apa nih untuk belajar baru. Ketemu dengan mbak Ika dan Mbak Narsih di situ, disarankan, flute aja atau trumpet aja, atau malah saxophone?
Setelah menimbang suka ku dengan musik latin, seperti Dave Valentin dan Herbie Mann, juga Arturo Sandoval, maka aku pilih pengin belajar 2 alat sekaligus. Flute dan Trumpet. Disarankan beberapa guru dari situ, ketemulah aku dengan guru-guruku yang ok, funky dan luar biasa (sabarnya).

Untuk sabar ini kuketahui belakangan, setelah 3 bulan ikut les. Disebut, bahwa biasanya guru itu menolak murid yang sudah umur (diatas 20 tahun) sebab katanya itu jenis murid yang gampang patah arang, kapok, cuma modal bisa beli, dan juga ndak sabar dalam belajar, banyak bicara, juga sekaligus ndak nurut kalo diminta latihan.   Makanya baru ku sadar, sebab sarannya sama di kedua guru tersebut, yakni,"yang penting pak Didik senang aja dulu, suka, jatuh cinta dengan alatnya, nanti akan pengin tahu dan belajar lebih banyak.  Juga sejak awal aku diberitahu bahwa latihan mulut (embouchure) trumpet dan flute berbeda bahkan saling melemahkan. Tapi karena penasaran, ya kujalani keduanya. Emang nekad ya...

Bisa menyanyikan dengan alat musik baru, wuih senengnya.... mulailah pencarian sound yang enak, yang bulet, yang mellow tapi ok dah pokoknya...

Masuk tahun 2010 sampai Maret 2013 lalu, alat musik ndak pernah kusentuh lagi. Eh siklus "menunggu penugasan" muncul lagi.... Maka bulan kedua masa tunggu ini ku lirik lagi lah alat musik ku. Bahkan kuhubungi lagi guru flute ku, Mas Harry, dengan lembut, dia tolak, katanya," sudah pak Didik main aja dulu, suka dulu, jatuh lagi dulu aja... nanti kan ketemu.."

Ya sudah, wong kadhung jatuh cinta, ya aku peganglah sang flute tadi tiap hari minimal 15 menit. Bahkan biasanya jadi 40 menitan.

Belakangan, setelah mulai bisa cari lagu dengan not dari flute, karena diajarin anakku, Krisna untuk main kromatik, maka makin besar lah pencarian sound tadi.

Awalnya kupikir sound itu "dull" tapi ternyata nada rendah, mellow, bisa nada tinggi juga tapi tetap merdu merayu. Seperti penari tango Argentina atau penari samba Brazil.

Kupikir bahwa aku akan dapatkan dengan flute dari kayu, atau dari bambu DiZi, atau Xiau, atau suling Sunda, atau Saluang dari Batak, atau Shakuhachi Jepang, ternyata belum juga ok...

Sampai suatu ketika kau dikenalkan oleh mas Nino (aku dapet flute bagus darinya), untuk coba clarinet aja. Itu kan dari suara kayu, atau ebonit (untuk student).  Dan aku menyukainya.

Sampai tadi malam, dari penulusuranku mencari sound tadi, aku ketemu di website membincangkan tuning untuk alat musik, bahwa Giuseppe Verdi menyarankan pindah dari A=440hz ke 432hz. Situs itu menyatakan bahwa itulah vibrasi atau suara alam semesta ini dibuat. Sehingga pada frekuensi yang tepat akan membuka healing, cakra dan seterusnya. Wuih...makin seru nih.

Bahkan di situs lain, Schiller Institute, dan La Rouce, membongkar hal lain yang menyatakan bahwa Ilmuwan Keppler menghubungkan penemuannya tentang Astronomi dengan Phitagoras, tuning alat musik ini, juga dengan letak planet lain terhadap bumi dan matahari serta bilangan indah Fibonacci.

Nah lho......

Sementara ini dulu deh, nanti disambung lagi.


Jakarta, 13Aug2013, 12:21

Pertumbuhan ekonomi melambat

Apa sih ini maksudnya? Kita makin miskin? makin ndak punya harga diri? makin susah makan? atau yang bagaimana yak?

Di koran dan media cetak maupun media elektronik disebutkan bahwa harga-harga meningkat, ini disebabkan oleh naiknya harga BBM? Sehingga transportasi atau pemindahan barang dari daerah satu ke tempat lainnya meningkat. Walau barang atau jasa yang kita terima tidak secara langsung dipengaruhi BBM, maka semua menyesuaikan diri karena peningkatan BBM yang meningkat?

Ada juga pengusaha besar yang menyampaikan bahwa biaya produksi juga meningkat, karena memang meningkat setiap tahunnya. Tanpa perlu memperincikan dari mana sumbernya. Diterjang lagi oleh arus, bahwa harga komoditas dan harga energi yang meningkat sementara kita masuk tergantung oleh ekspor. 
Sedangkan tujuan kita berjualan sumber daya alam dan energi tersebut adalah ke China dan India yang saat ini sedang lesu alias mengurangi konsumsinya membeli dari ekspor Indonesia kita ini.

Sementara berita yang lain, investor-investor Jepang memimpin membeli perusahaan-perusahaan lokal yang mulai terseok-seok (tadi diatas) tapi (sebenarnya) menguasai pangsa pasar di Indonesia atau pasar Asia Tenggara dengan cukup meyakinkan. Ditambah lagi, bahwa investor (the big boys) private equity besar KKR terlihat mulai menyelesaikan transaksi membeli perusahaan Tiga Pilar yang selama ini cukup berkibar di Indonesia.

Nah lho.... di setiap kesulitan ada kesempatan yang tersembul. Dan di setiap kesempatan ada kesulitan yang mendampingi. Pemenang memilih opsi satu, sementara pecundang memilih opsi dua.

Monggo pilih yang mana?

Kok rasanya ndak salah ya, kalo bapak besar kita Dorojatun Kuntjoro Jakti, pernah menyampaikan pada saya,"...saudara, jadi Indonesia saat ini diisi oleh orang-orang yang merasa dirinya seperti (ini ilustrasinya...) tikus yang mati di lumbung padi...."

Hayuk aaaah......


Jakarta 13Aug2013, 11:25

August 12, 2013

Kamu orang asing


Pertanyaan ini sungguh-sungguh menyengatku dengan tajam, dan dalam. Sakit seperti ditusuk duri di telapak kaki.

Ya, aku dulu orang asing di keluargaku, lahir dari ibu, dinantikan selama 9 bulan, dan pada lahirnya, nangis, minta diperhatikan, lalu besar dalam keluarga, merasa menjadi bagian dalam keluarga. Tetapi saat besar, menginjak SMA, susah diatur, merasa bahwa orang tua musti dan pasti membantu dan memfasilitasi semua yang diinginkan (baca: bukan dibutuhkan) ku dong.... Dan saat menikah, terkejut ku dibuatnya, ternyata keputusan menikah, keputusan memiliki anak, membesarkan, menyertai dalam kebersamaan keluarga. Yak ampuuuuun.....ternyata tindakan, perasaan, upaya, doa, dan semua hal yang melingkupi diri ini dulu, benar-benar ndak tau diri....take it for granted.... sak enak'e dhewe...

Menyesal? Ndak. Sebab ndak ada gunanya. Bersyukur aku sempat merasakan ini. Sebab dengan sengatan "peringatan" itu membuatku hidup, bangun serta berjalan kembali menapak di tanah.

Orang asing juga adalah aku, saat aku hidup bersama dengan istriku tercinta. Menikah, hidup bersama, tinggal bersama. Juga berkah aku boleh tinggal menumpang di rumah keluarga. Apalagi, anak-anak kami juga besar di sini. Tepo seliro, dan unggah ungguh pada awalnya. Tetapi berjalan di tahun ke 20, tahun ini, kok sudah seperti rumah sendiri, rasa respect tetap terjaga, tetapi kok ada rasa lain yang meraja di hatiku.... Mungkin juga tindak tandukku, mungkin juga kebiasaanku.....

Lho? Ya ternyata, hal ini begitu terasa...begitu ada mbak yang ikut bersama ibu. Dimana sudah berjalan hampir 1 tahun, berubah juga..... he he he....   Langsung hati, badan, pikiran ini seperti disengat listrik ribuan watt. Kalo beliau aja begitu, berarti aku (kan juga) begitu dong.....

Waduh.... sak enak'e dhewe... sak enak udel'le....

Menyesal? Ndak. Yang sudah berlalu, biar berlalu, tidak bisa dihapus. Saat ini justru saat yang tepat untuk berdiri tegak berjalan kembali. Menata diri, hati dan pikiran, mulai jalan. Menapak di tanah....

Ingat saat aku masuk  ke kantor ini, dimana tiga setengah tahun lalu, menjadi orang asing, orang baru, menyesuaikan diri. Lalu mencoba berkontribusi. Dan sekarang saat penugasan berubah, kok aku merasa rumah, rekan-rekanku jauh dariku. Lha wong aku saja asing bagi mereka, kok aku ndak merasa asing? Kok bisa-bisanya merasa orang dalam, orang lama. Apa iya ndak ngerasa....???

Hua ha ha ha ha .... meledak tawa ku (dalam hati sih...)

Jadi rasa orang asing, tapi menjadi orang dalam dan orang lama, kok iya bisa-bisanya? Itu kan namanya ge-er. Gede rasa. "ngeroso biso" kan mestinya wong jowo iku "biso ngeroso".

Nah kali ini bener-bener, duri tadi menusuk dan ditambahi listrik untuk menyengatku.   Hayo bangun...!


Jakarta, 12Aug2013; 11:00

August 02, 2013

Betapa BerkahNya......


Betapa lucunya hidup ini. Kita ndak pernah tau apa yang akan terjadi. Lha wong bukan peramal dan bukan penjudi.

Sehingga bila seperti kemarin saya ngobrol dengan sobat, tercetus dia sampaikan demikian,"coba bro kalo tau dulu saya ikut jalanmu kan, ndak jadi kayak gini kan?"

Lho kalo tau jalanku seperti ini kan juga dulu juga masing-masing kita memperoleh tawaran dan keputusan masing-masing dong..... Kalo tau begini, mustinya kan dulu memutuskannya yang seperti .... (isi dengan yang lain).

Wah jadi ingat pasar modal, pasar saham yang sudah saya tinggalkan hampir 5 tahun lalu. Setiap kali ketemu dengan teman yang berinvestasi di saham, celetukannya adalah:
- kalo tau saham X digoreng kan mustinya gue ikut...
- kalo tau (harga) sahamnya mau diangkat kan mustinya gue ikut tuh...
dan seterusnya dan seterusnya....

Atau kalo ingat sempat beberapa bulan lalu saya ikut teman yang cari-cari tau mobil antik, beberapa kali disapa oleh "pemain" lama mobil antik: " mas selama ini kemana? kan tau dong kalo mobil gini di awal tahun 2000 aja, ndak ada yang mau nengok. Apalagi dicari orang. Lha kok sekarang baru carinya..."

Hua ha ha ha .... Sempat dongkol dan kesel sih dengan celetukan begini. Tapi setelah saya resapi dan endapkan, ternyata ndak perlu juga sih merasa dongkol atau kesel apalagi tersinggung dan marah.
Lha orang kan komentar boleh aja, apa aja dan sak'enak'e dhewe. Lha wong merdeka kan...??

Tulisan kali ini kembali pada "roso" diri kok bukan pendapat ato komentar orang lain. Monggo.... Lha kalo kita tau... maka.... Nah masalahnya eh...sbentar ini bukan masalah kok.. Jadi saya ralat. Jadi halnya adalah: kita mengharapkan tau sebelum kejadian. Tapi mana ada di dunia ini yang begini. Emang kalo misalnya Gusti Allah mengabulkan kita tau, apa kita ndak pengin di dunia ini? Hayoooooo

Bukankah indahnya karena justru bisa berimajinasi, bisa mengira-ngira, tanpa tau bahkan termasuk 1% saja hasilnya ya ndak tau... Bukankah ilmu probability, asuransi, investasi, teknik, pemasaran, atau produksi juga menganut hal ini. Kan kalo ada segelintir (atau bahkan 1 saja orang) yang tau masa depan kan justru rusak dunia ini dibuatnya....

Hayo..... masih tergoda pengin tau masa depan? Hiduplah hari ini, menit ini, detik ini, nikmati, di sini, bukan di pikiran kita yang sudah menjelang libur. Ingat kembali pada lagu anak-anak, "Di sini senang, Di sana senang". Atau lagunya Oasis "Be here, now!"

Luar biasa ya Gusti Allah kita ini..... Kumohon ampunMu... Sebab berkah Itu sudah bersamaku selalu. Dan mendahului pengharapanku.


Jakarta 2 Agustus 2013, 11:19

July 29, 2013

Bencilah Perbuatannya dan Terimalah orangnya


Waduh susah amat ya saran ini. Menjadi terasa sulit dan mahal untuk dilakukan sebab rasa dongkol dan marah serta tidak terima dengan perbuatannya padaku membuat ku menjadi membenci orangnya karena perbuatannya.

Menjadi menarik saat ku baca BBM sharing dari sahabat nun jauh di seberang lautan. Bahwa aku biasanya membenci orang yang berbuat salah atau semena-mena padaku apalagi juga pada barang atau pekerjaanku.

Tidak terasa, air mata ini menetes, saat kuingat rekan seperjuanganku di organisasi lama, ternyata melakukan fitnah yang tajam padaku. Membuatku dipinggirkan dan diasingkan seolah menjadi tahanan pesakitan yang membawa aib, sehingga orang lain (baik yang tidak tahupun) tidak mau berkomunikasi ataupun bersilaturahim.  Takut tertular atau dianggap sekongkol, yang dapat berakibat ikut diasingkan atau dijauhi bahkan dihukum oleh pemimpin.

Betapa ku benci dia luar biasa, mengingat namanyapun ndak ingin, tetapi betul saran itu, sebab dibalik kebencian itu, ternyata menimbulkan kemarahan yang siap meledak. Jadi artinya energi ku terkuras dan terfokus padanya. Padahal sekarang kalo dipikir, apa dia ingat? apa dia sadar? apa dia tahu? apa dia merasa?

Ku rasa dia ndak tau tuh.... Kok aku jadi repot memikirkannya. Sayang banget energi ini dibuang percuma.

Ampunilah musuhmu. Sebab dia tidak tahu apa yang dilakukannya, demikian Yesus, Sang Nabi Isa memberi saran.

Emang gampang? enak aja..... suara ini terus terngiang. Nah inilah ego yang mengalahkan si Didik ini.
Belakangan, lewat keikhlasan, doa, serta berkah dari Gusti Allah lah yang membuat ku pelan-pelan melepaskannya.

Beruntung, belakangan ku siap dengan membenci perbuatan, tapi orangnya tidak.  Lucunya, saat ku-sharing ide ini pada sahabat2ku, disebutnyalah aku goblok, aneh, nyentrik, ndak wajar juga ndak normal.

Ha ha ha ha.... Nyeleneh dan ngawur, demikian menyitir Sujiwo Tejo, bahkan menyebutnya ji*nc****uk...

Tapi ternyata berjalannya waktu membuatku bisa berdiri ditengah kembali.  Ibarat pendulum, swing-nya diam di tengah.  Walau sebentar bergerak, ingin dan segera bergerak ke tengah.  Menuju dan memegang pusatnya, yakni Lindungan Gusti Allah. Puji Tuhan, Alhamdulilah....


Jakarta 29 Juli 2013; 12:58

Anakku


Belakangan baru kusadari bahwa keputusan menikah merupakan keputusan yang besar. Memang dahulu aku menikah karena sudah merasa cukup. Ya cukup umur, ya cukup kekuatan untuk melangkah, juga cukup dewasa. Walaupun saat itu ku menikah dengan dukungan penuh dari orang tua.

Padahal kalo saat ini ditinjau dari sisi mental, sebenarnya belum cukup; dari sisi materi, juga belum padan; kalo dinilai dari sisi kedewasaan juga belum matang. Jadi waktu itu menikah dengan dasar apa?
Kalo boleh berterus terang, saat itu menikah karena ya merasa sudah saatnya saja. Dengan berkah Tuhan, dukungan keluarga, ja jalanlah.

Puji Tuhan, Alhamdulilah, semua berjalan baik, walau tidak sepenuhnya benar. Perjalanan saling mendukung, saling belajar percaya, saling bantu, saling berserah, juga saling menjaga, adalah proses yang luar biasa. Penting untuk selalu ditinjau adalah saling mendoakan.

Ternyata, saat mulai hadir jabang bayi, semakin membuat bingung, membuat sadar, membuat gamang sekaligus mensyukuri bahwa kami diberi kesempatan untuk dititipi oleh Gusti Allah merawat, mendidik, memfasilitasi sehingga anak kami ini menjadi mandiri. Demikian saat hadir anak kedua dan ketiga. Hanya berkah dari Gusti Allah lah yang membuat semuanya dapat berjalan dengan baik. (sekali lagi belum tentu benar menurut orang lain).

Proses ini semakin kami rasakan bukan kebetulan, kalo dipikir dengan otak ku yang hanya sebesar ini. Ya jelas ndak mungkin. Namun betapa Gusti melimpahkan berkahNya selalu dan sepanjang waktu.

Lalu......

Tiba-tiba (kok ya begini ya??) anak kami yang besar minggu depan akan berkuliah di luar kota. Anak kami yang kedua sudah masuk SMA. Wow.... ndak terasa. Beberapa hari ini, setiap malam tiba, ku pandangi mereka tidur, ternyata memang sudah besar. Sudah memiliki "mau-nya" sendiri.

Walau kadang ku menganggapnya anakku yang kecil yang selalu ingin ku peluk dan kuciumi. Dan tetap ingin selalu kupeluk dan kuciumi. Sudah besar kini kau Nak.... Mas-mas ku.

Doaku teriring selalu untukmu. Iklas dan restuku selalu untukmu Nak, mas-masku.

Lalu .....

Kupandangi anakku ketiga, si kecil yang mulai beranjak besar.... Terima kasih Gusti.



Jakarta 29Jul2013, 12:40

July 19, 2013

Runtuh

Selama ini kukira monumen yang setiap hari ku lewati, ku doakan, ku jaga, juga ku pupuk akan tumbuh, kuat, dan dapat dijadikan gantungan untuk berteduh saat musim kemarau, saat musim hujan, menahan angin agar tidak langsung mengenaiku, ataupun tempat sekedar bercengkerama di saat cuaca cerah.

Kemarin, monumen itu runtuh, remuk, lumer, meleleh, tanpa bentuk, tidak tersisa, tidak menggelegar, tidak bersuara....

Sunyi, senyap, lenyap, hilang ndak berbekas. Hanya tersisa debu, warna hijau, biru, sedikit sisa serpihan oranye.

Lantai fondasinya masih terlihat kuat, walah ada bekas pecahan tegel yang tidak diganti di masa lalu.  Batu alam, warna abu-abu yang sudah mulai menghijau, lumut, licin, bahkan ada sejumlah yang menebal di pojok-pojok nya.

Berdiri, memandangi bekas lokasi monumen tersebut berdiri. Semilir angin, membangunkanku, untuk segera berjalan kembali.

Ibuku memanggil,"Sudah Dik...segera berangkat, ibu sudah siapkan makan pagimu. Kalau ndak sempat dimakan dan minum, dibawa saja.....?"  "Njih bu, matur nuwun,"demikian jawabku.
Dengan bekal, dan kemantapan hati, ku tatap indahnya Dunia ini....

Sampai lupa aku bersyukur..... Ya Allah....


Jakarta, 19 Juli 2013, 10.41