Showing posts with label pindah. Show all posts
Showing posts with label pindah. Show all posts

November 21, 2013

Memandang Migrasi Umat Manusia di masa lampau dan kini, sebuah model umum tentang pemahaman Perpindahan Manusia


saduran dan cuplikan dari tulisan menarik P. Nick Kardulias dan Thomas D. Hall

Pendahuluan
Isu banjir imigran selalu menjadi berita yang menarik; seperti imigran Hispanik ke dalam AS, yang selama ini menjadi bahasan dari Kongres AS, selama ini menemui jalan buntu. Demikian juga adanya isu pekerja Turki di Jerman; juga isu adanya imigran muslim di Perancis, Belanda dan Inggris; sementara di Inggris sendiri adanya pergerakan bebas masuknya masyarakat Persemakmuran (Commonwealth) adalah isu yang selalu hangat.  Memang diskusi mengenai hal imigran ini selalu hangat, walau banyak negara kelihatannya enggan untuk menyelesaikannya secara tuntas.  Tetapi jelas-jelas, pergerakan manusia di dunia dari negara satu ke negara lain juga dapat disebabkan karena kondisi negara asalnya tidak aman secara politik; sehingga kita dapat menggolongkan jenis perpindahan yang sukarela vs terpaksa.  Juga ada isu mengenai migrasi dalam suatu negara, dari daerah pedesaan menuju perkotaan. Dicatat dalam sejarah migrasi manusia, antara lain adanya perpindahan cukup besar di daratan China (dijelaskan oleh Wang dan Zuo 1999).

Kita dapat bincangkan diskusi ini disebabkan oleh suatu kebutuhan vital penting dalam perspektif jangka panjang dan beberapa isu lainnya.  Maksud dalam jangka panjang tersebut, mohon tidak diartikan hanya puluhan tahun, berabad-abad, tetapi juga ribuan tahun.  Manusia menyebar dari asalnya yang di Afrika ke seluruh dunia.  Sehingga bila dipandang dari sisi skala periode waktu, pergerakan pindah populasi manusia ini dapat dikatakan normal, tanpa kecuali -bahkan bila dikatakan pada suatu waktu tersebut mereka memutuskan untuk menetap.  Lebih jauhnya, kemiripan bentuk bahasa dan budaya juga dapat menunjukkan perpindahan ini, sehingga terjadinya tentu bukan karena adanya pilihan individu melainkan karena adanya kelompok yang berproses. 

Tapi, apakah pergerakan pindah ini sama dengan imigrasi? Imigrasi terjadi bila ditinggalnya satu unit sosial untuk kemudian masuk nya unit sosial lain. Misalnya, saat manusia menemukan negara (state) pertama kali di Mesopotamia sekitar 5000 tahun lalu, kemungkinan juga beberapa kali terjadi pergerakan pindah seperti imigrasi, atau juga invasi (pendudukan). Tentu saja kita dapat menggolongkan invasi sebagai imigrasi dalam arti besar-besaran! Jadi, akan selalu terjadi migrasi dalam sejarah umat manusia.  Banyak memang dikenal, tapi beberapa yang dikenang sebagai pelanggaran (wilayah) dengan kekerasan ekstrim. 

Kembali, apanya yang baru nih untuk saat ini?  Istilah "globalisasi" seringkali terucap oleh mulut kita, tapi tidak pernah didefinisikan dengan jelas apa maksudnya (Albert 2007; Chase-Dunn 2006; Gills dan Thompson 2006; Robertson 1992, 1995; Robertson dan Scholte 2006; Rosenberg 2005; Sklair 2002, 2006) selain dari sesuatu yang mirip dengan "semua hal perubahan yang terjadi dalam beberapa dekade belakangan ini lho".  Argumen kami di sini adalah bahwa beberapa proses globalisasi dan terutama imigrasi adalah bukan hal baru.  Benar, beberapa hal kelihatan baru.  Bagaimana kita mengenali hal tersebut sebagai hal baru? Apanya yang baru? Manfaatnya apa?

Debat mengenai globalisasi dan analisa dalam sistem dunia meninggalkan diskusi panjang tentang berapa lama proses ini telah berlangsung. Dalam hal apa dapat diaplikasikan?

  • ·         zaman Neolitik; sekitar 10.000 - 12.000 tahun lalu (Chase-Dunn and Hall 1997; Chase-Dunn 2006)
  • ·         ditemukannya negara; 5000 tahun lalu (Frank and Gills 1993; Gills and Thompson 2006)
  • ·         zaman prasejarah dari sistem modern dunia; 1000 tahun lalu (Abu-Lughod 1989)
  • ·         terjadinya sistem modern dunia; 500 tahun lalu (Wallerstein 2004)
  • ·         abad 19 (Chase-Dunn et al 2000; Boswell and Chase-Dunn 2000)
  • ·         akhir abad 20 menjelang milenium baru (Sklair 2002, 2006)


Jawaban kami adalah, ya semua zaman tersebut!

Faktanya, adalah bahwa, ya itulah globalisasi. Banyak diskusi menerangkannya adalah sebagai "global babble" atau "globaloney". Jika diartikan sederhanya adalah interaksi antar masyarakat yang saling membentuk sejarah dan sebalinya, maka Chase-Dunn and Hall (1997) memiliki penjelasan yang "benar".  Jika diartikan bahwa adanya kecenderungan suatu negara berkembang dan berinteraksi serta membentuk sejarah antarnya, maka Frank and Gills (1993) menambahkan penekanannya, dengan menjelaskan bagaimana kapitalisme kuno terbentuk.  Jika ada yang mengatakan bahwa meningkatnya volume perdagangan internasional dapat memberikan dampak penting dari sejarah tiap negara, maka penjelasan ini diusung oleh hasil analisa Janet Abu-Lughod (1989).  Jika tambahan globalisasi militer dan politik maka ini disampaikan oleh William Thompson (2000a, 2000b, 2000c; Gills and Thompson 2006). (Wallerstein 2004; Hall 2002) memperingatkan adanya perdagangan kapitalis pada sistem dunia modern. 

Pencarian jawaban atas pertanyaan tersebut di atas terjadi karena minat para orang zaman sekarang -tapi jika dikembangkan pada beberapa abad kebelakang, tentu akan ditemukan jawaban yang melenceng. Sebab sejarahnya, dalam beberapa abad ke belakang memiliki jalan yang ndak biasa dalam sejarah umat manusia.  Era moderen atau industrial adalah salah satu karakteristik yang mempercepat adanya perubahan sosial dibandingkan dengan perjalanan sejarah sepuluh milenium atau sebelumnya.  Orang-orang zaman sekarang (disebut presentist) memiliki pendekatan bahwa adanya negara dengan batas negara itu normal, dan ini adalah penemuan dalam beberapa abad belakangan.  Bila menggunakan pandangan abstrak, semua hal yang bersifat konstan akan menjadi variabel atau dapat berubah dalam jangka waktu panjang.  Bagian dari argumen kami adalah bahwa beberapa dari hal sosial, politik, budaya dan permasalahan ekonomi yang dihubungkan dengan imigrasi dapat digolongkan dalam kondisi jangka panjang di era moderen ini.  Jadi batasan negara dalam era moderen ini justru mengundang permasalahan. Nah lho....

Jadi dapat dilihat jelaslah bahwa pandangan proses globalisasi saat ini adalah hal yang selalu dan  terus (konstan) berubah, jadi tentunya ini tetap variabel yang terus berubah.  Komponen kunci di sini adalah kecepatan komunikasi, transportasi, dan perjalanan. 

Ilustrasinya adalah berikut ini.  

Neneknya Hall beremigrasi dari Polandia ke Amerika Serikat di awal abad 20.  Selama masa hidupnya, beliau telah dua kali pulang ke Polandia, hal ini dilakukan karena mahalnya biaya dan sulitnya (perjalanan) waktu itu.  Coba bandingkan dengan, para emigran dari Filipina di abad 21 ini, dan tinggal di AS, yang dengan mudahnya mereka pulang kampung dengan naik pesawat, baik untuk kepentingan nikah, pemakaman, juga baptisan bayinya atau hanya kunjung mampir ke sanak saudara.  Biaya dan lama perjalanannya yang lebih nyaman dan terjangkau membuat meraka dapat melakukannya untuk satu atau dua kali dalam satu tahun.  Kembali bandingkan kemudahan ini dengan awal abad 20 lalu. Hal ini tentunya mempermudah dalam memelihara dan mempertahankan budaya asli mereka dan menghalangi terjadinya asimilasi, atau proses terjadinya identitas antar-budaya/multikultur.  Apalagi zaman sekarang dengan mudah, murah dan tersedianya komunikasi instan seperti telpon, internet, skype, yang mana memastikan kelangsungan budaya asal tetap terjaga yang tidak terjadi di masa lampau.  Inilah HAL BARU tersebut. Tetapi tidak semuanya baru.

Kejadian kita adalah argumen yang cukup rumit dan kompleks, sebab terjadi banyak perubahan waktu dan perubahan itu sendiri.  Banyak dari kejadian yang ada cukup mengejutkan.  Referensi yang dilakukan penulis mencoba untuk memandu ketertarikan pembaca menuju pada sumber-sumbernya. 

Setelah melihat penjelasan dari istilah yang berhubungan dengan mobilitas perpindahan, kami akan menunjukkan gambaran kronologis migrasi umat manusia, diikuti dengan diskusi tentang bagaimana perpindahan tersebut terjadi di daerah tersebut.  Lalu kami akan menggali model untuk menemukan pengertian migrasinya, dan fokusnya pada analisa sistem dunia (world-system analysis -WSA), dan menyimpulkan dengan pernyataan, bagaimana WSA menyediakan pemikiran dan gambaran yang kumplit dan jelas, tentang hubungan antara migrasi dengan globalisasi sebab hal ini membutuhkan pemahaman tren sejarah yang mendalam.  

Pengertian tenang Mobilitas

Bagian ini lebih mengarah pada diskusi kerja saja, dimaksudkan untuk menciptakan pikiran yang mengajak, tidak dimaksudkan sebagai ditentukannya definisi pasti.  Bagian yang kami penting kami sampaikan adalah bahwa umat manusia selalu berpindah. Sudah barang tentu, bentuk nomaden dalam variasinya adalah keadaan normal bagi manusia itu sendiri, sebab bukan suatu yang pasti.  Kami akan mencoba untuk membedakan apa itu nomaden, mobilitas, migrasi, juga imigrasi.  Berikut ini adalah pengertian yang kami ajukan:
·    nomaden: yakni perpindahan dalam area tertentu, tanpa menjadi penduduk permanen dalam jangka panjang;
·     mobilitas: adalah perpindahan dari area tertentu ke area lainnya, atau dari area nomaden ke tempat lainnya, atau bahkan pindah ke teritori lainnya. 
·    migrasi: adalah pindah dengan perencanaan ke lokasi baru, biasanya berkelompok, daerah teritori barunya bisa siap atau bahkan tidak siap dengan kedatangan mereka;
·       imigrasi: adalah pindahnya individu atau kelompok ke daerah baru secara terencana, biasanya ke lokasi yang punya suatu kelebihan (dibandingkan daerah asalnya), dengan rencana menetap untuk jangka waktu panjang atau justru permanen menetap.

Jelas sekali, dengan diagram Venn, terdapat beberapa hal yang saling bertumpuk istilahnya, yang mungkin membedakan atau bahkan membuat pijakan baru. 

Beberapa alasan dikemukakan bahwa imigrasi adalah terlarang di zaman moderen ini, apaladi pada abad terakhir.  Sehingga sedapat mungkin penulis menjembatani diskusi mobilitas ini agar nyambung dalam periode milenium.  Musti dapat mengartikannya secara bebas dari kekangan pindah historis secara ke hulu, atau ke hilir, misalnya dari masa kini ke masa lampau atau sebaliknya masa lampau ke masa kini. 

Dikatakan oleh beberapa tulisan (misalnya Trager 2005a, 2005b; Wang 1997a,1997b) ditemukan bahwa mobilitas memiliki konsep multidimensi.  Dan metodologi penulis adalah menggunakan kesinambungan waktu bukan jenis pindah dua kutub. Sehingga tidak menutup kemungkinan, konsep kesinambungan ini akan mengakibatkan overlapping. Kami menyarankan titik akhir dan memperkirakan titik tengahnya. Kami juga mencatat ketika titik tengah berbeda, maka zona tengahnya berkesinambungan. 

·         sukarela <-- disebabkan oleh kelaparan --> dipaksa/terpaksa (perbudakan, dijajah bangsa lain, pengungsi, dll)
·         menetap permanen <-- niat pindah tempat --> sementara
·         Diaspora perdagangan : MNC (multi national corporations) transfer <-- perpindahan ekspatriat --> seluruh komunitas
·         satu arah vs dua arah (misalnya sementara dan atau migrasi berbalik)
·         tempat jauh <-- menetap sementara --> daerah tetangga
·         tahun 1600an dari Eropa ke Amerika; dari Turki ke Jerman; Meksiko ke AS
·         asal: sosial <--sumber daya yang mulai berkurang, termasuk perubahan iklim --> mahluk bukan manusia, ekologi berpindah karena perubahan musim atau iklim
·         berkelompok <-- anggota keluarga dan atau migrasi berantai --> individual
·         melewati batas-batas negara <-- daerah pindah --> migrasi masih dalam satu negara

Singkatnya, mobilitas, perpindahan, atau migrasi, memang lebih rumit dari sekedar disebabkan oleh faktor pendorong atau faktor pemikat. Penulisdalam Trager (2005) menunjukkan bahwa bagaimana terjadinya dalam beberapa cara terjadinya, baik sementara maupun dalam proses pertimbangan ekonomis, perpindahan dapat diturunkan dalam beberapa bagian baik membentuk atau membangun kembali beberapa jenis relasi sosial. 

Proses perpindahan ini tentunya merupakan proses dinamis, dan tidak terjadi hanya dalam satu waktu saja.  Perpindahan terencanapun juga dapat terjadi tidak hanya sekali jalan, melainkan dalam hitungan puluhan tahun, yang awalnya permanen bisa menjadi temporer. Bahkan ada yang awalnya temporer sementara malah kemudian menetap secara permanen.  Contohnya adalah pekerja asing Turki di Jerman (Harff and Gurr 2004). 




October 01, 2013

Ruang Kerja


Memasuki ruang kerja saat ini di gedung baru, membuat rasa hati ini ser-ser'an. Memasuki gedung kantor yang megah, keluar dari mobil, langsung ketemu security untuk periksa tas. Berjalan memasuki lobi yang luas, kosong, sapaan pak satpam,"selamat pagi" memecahkan keheningan dan keterburu-buruanku. Sambil membalas dan senyum, maka kuayunkan kaki menuju lift, yang tentu saja melewati pagar pembatas yang hanya bisa dilewati bila kartu magnetik ditempelkan ke permukaannya.

Kutekan tombol lift, menunggu, sambil mencari lift sebelah mana yang akan terbuka dan mengantarku ke atas. 

Ternyata lift ujung kanan yang terbuka. Masuklah aku ke dalamnya dan menekan tombol lantai menuju kantorku. Sambil menunggu, terdengar 2 orang pegawai, yang kemungkinan besar dari kantor yang sama, melempar salam,"wah saya ikut upacara nih." Teman satunya menyahut," ndak seru ya, upacara kok ndak di bawah, kan ndak terasa." Temannya menjawab,"iya sih, ndak terasa panasnya. Ha ha ha "

Lalu sampailah ku di lantai tujuan. Keluar lift, sepi. Disapa oleh mbak cleaning service. Senyumku membalasnya. Absen di pintu, kulakukan dengan menempelkan jari telunjuk kanan, sambil melihat jam. Tertulis pukul 7.40. Waduh kepagian, kecepetan nih...  Kutarik pintu terbuka, ternyata sudah ada 3 teman dari bagian keuangan sudah hadir. Sapaan selamat pagi bersahutan, sebagai salam pembuka hari yang indah tentunya.  Melangkah aku menuju ruang kerja di pojok. Mulailah terbayang aku membandingkan rekaman beberapa ruanganku selama pengalaman bekerja sejak lulus kuliah dulu......

Di awal kerja dulu, aku juga bekerja di gedung, megah, hitam, keren dan kliatan angker... Sekitar dukuh atas. Zaman itu, merupakan salah satu gedung impian banyak orang untuk bisa bekerja di sana.  Lantai dua puluh enam.  Sebagai anak baru, aku duduk di cubicle dengan meja tanpa pembatas. Tidak ada laci khusus dan lemari pribadi yang menyertai. Tetapi kebanggaan boleh bekerja, berkontribusi dan mencari sendiri apa yang bisa dikerjakan, dengan pengawasan Managerku saat itu. Luar biasa rasanya. Tersenyum aku dibuatnya, bila menilik kejadian saat itu. Kok iya mau-maunya ya....he he he.

Bos langsungku, ndak banyak bicara, malah menurut rekan sekerjaku, dia pendiam, orang pinter banget, lajang, ndak suka bergaul, tapi kesayangan bos ku yang orang Jepang. Ndak ramah, memang. Tapi ndak juga arogan. Dan senyum padaku sebagai bukti aku telah mengikuti sarannya dan berkontribusi padanya dapat kulihat pada bulan kedua ku bekerja untuknya.

Ternyata saat itu ruang kerja tersebut, cubicle juga bukan, ruangan juga privacy juga bukan. Tetapi kami merasa senang sebab kebersamaan begitu terasa. Di ruangan besar, khas perusahaan jepang, masing-masing di meja kayu yang ndak seragam. Tetapi di ruang tersebut, pernah kulihat ekspresi, pengalaman, keluh kesah, juga seru kemenangan, juga tangis sedu sedan, bahkan teriakan marah maupun teriakan penuh kemenangan ku dengar dengan jelas. Suatu pengalaman luar biasa.

Dua tahun lebih kulalui di ruangan besar tersebut. Dan sempat pindah untuk rotasi ke divisi lain, karena satu hal nyata. Aku dinilai bisa berkembang, dan mengikuti pertumbuhan divisi tetapi karena BUKAN lulusan luar negeri, apalagi lulusan Amrik, maka aku disalurkan ke divisi lain yang bisa "menampung" aspirasi lokal people. He he he. Biasaaaaaaaaa..............

Menarik, meja kerjaku, sekarang. aku duduk berhadapan dan saling menempelkan meja berlima, dengan meja ujung menghadap kami adalah bos kepala divisi kami. 

Banyak pengalaman kami tertuang bersama, di dalam kota maupun di luar kota. Menarik sebab kombinasi kami adalah dua orang lulusan dalam negeri, dua lainnya lulusan Amrik.  Sedang bos kami adalah figur yang berpengalaman di industri ini.

Masuk tahun ketiga di perusahaan tersebut, kuputuskan untuk pindah ke perusahaan sejenis. Dimana saat itu ku dengar sebuah perbankan besar akan mendirikan perusahaan sejenis. Dan aku dihubungi oleh rekanku yang telah masuk terlebih dulu.  Alhamdulilah, kantor tersebut hanya menyeberang dari gedungku saat itu.
Memandang gedungnya saja sudah membuat merinding. Itu kan salah satu gedung baru perusahaan BUMN yang saat itupun sedang membangun gedung tertinggi di Jakarta.

Memasuki gedung tersebut, memilih gedung sebelah kiri, lalu pencet lantai delapan belas. Di ruang tersebut aku bertemu dengan pejabat senior bank tersebut yang bertugas sebagai PIC perusahaan barunya.  Terlihat ruang kantor tersebut baru jadi. Singkat cerita aku diterima bekerja di sana.  Maka aku menempati cublicle, ada meja, komputer desktop, dan laci untuk menyimpan dokumen pribadi dan kantor. Hore....akhirnya aku memiliki sejumput ruang kerja dengan pembatas di depan dan kiri kanan. Ternyata privacy walau tidak sepenuhnya perlu, tapi penting untuk dimiliki. Wuih.....pengalaman baru nih. 

Dalam pengalaman bekerja di perusahaan tersebut sempat pula aku pindah lantai ke lantai dua puluh tujuh karena adanya pengembangan usaha.  Dan di sanapun aku memperoleh cubicle dengan punggung menhadap tembok. Lumayan.... sehingga aku bisa memperoleh tambahan privacy, dengan tidak mudah orang membaca dan melihat langsung apa yang aku kerjakan dan tulis, dari cara mengintip dan menyelinap tanpa sepengetahuanku. 

Setelah bekerja selama tiga setengah tahun lebih. Dan situasi kerja kurang optimal, tiba-tiba ada teman yang menawarkan bekerja di tempatnya. Pertama saat kudatangi, di sekitar slipi, eh ternyata yang kutemui adalah dulu seniorku di salemba empat. Ya udah, jadinya ngobrol-ngobrol aja. Dua kali aku bertemu dan dia sangat mengharapkan aku dapat bergabung. Di saat lain, yang hampir bersamaan, aku ditelpon sobatku yang juga seniorku yang lain di salemba, untuk menggantikannya karena dia mau keluar dari perusahaan tersebut, yang menurutnya saat ini sedang berkembang pesat.  Menarik tapi juga sekaligus mencurigakan, sebab kalo perusahaan berkembang kok justru malah ditinggalkan? Pasti tawaran yang diterimanya sangat menarik dan sulit ditolak. Dia jawab ya bro, sebab aku ditawarin jadi direktur perusahaan.

Lucunya saat aku bertemu dengan pemilik perusahaan yang akan ditinggalkan sobatku itu, merupakan pertemuan yang ndak terlupakan karena ku bertemu dengan sobatku di SMU, adik kelas, yang ternyata punya usaha bareng dan saat itu sedang berkembang. Dan diceritakan, dengan pengalamanku, dia ingin membentuk usaha seperti perusahaan dengan sektor usaha seperti yang aku bekerja saat itu. 

Tanpa panjang lebar, dia langsung menanyakan kapan bisa gabung?

Ku jawab, biasa, kan one month notice. Ok, lebih cepat lebih baik ya.

Dan sejak itu, aku bergabung bekerja dengan meja, menghadap tembok, karena jumlah pekerjanya saat itupun ndak lebih dari tujuh belas orang termasuk tim support driver dan office boy.

Di kantor itu, ndak terasa aku bekerja selama sepuluh tahun lebih, mengalami berbagai kejadian baik yang membahagiakan, menyenangkan, mengejutkan, menyedihkan, membuat kecut, membuat bangga, bahkan sempat membuat hati dan pikiranku bertanya apa sih yang membuatku tetap bekerja di sana?

Pindah dari cubicle di kantor lama ke kantor ini yang berbentuk meja kayu, awalnya aku merasa ini kemunduran, tetapi suasana, pengalaman, kebersamaan dan satu tujuan membuatku tetap di sana. Bahkan saat kantor pertaman kali berkembang, dan ekspansi, aku sempat (ge er nih) ditawarin untuk posisi dan lokasi duluan, walau bukan di ruangan.  Tetapi cubicle yang lebih privacy dengan pembatas yang melampaui tinggi kepala membuat privacy sangat terasa.  I have my own space. Dan ini membuatku merasa beda, bangga dan diperhatikan. 

Sampai suatu peristiwa yang mengejutkan itu datang, yakni di tahun ketigaku bekerja di sana, atasanku yang juga sobat kentalku, juga kuanggap sebagai kakak/mas ku, keluar dari kantor. Dan bos ku menawarkan posisi itu padaku.  Luar biasa rasa ini, ndak terbayang sebelumnya, ndak pernah ge er ku dibuatnya, lha wong mimpi aja ndak pernah. Opo mau jadi kere munggah bale?

Sejak itu aku diberi kesempatan bekerja di ruangan, dengan meja dan 2 kursi untuk tamu ku. Dan lemari dengan 4 laci untuk menyimpan dokumen penting perusahaan. Oh ya perlu kusampaikan di sini, mejaku juga memiliki laci untuk menyimpan barang pribadiku. 

Pengalaman demi pengalaman, kulalui, bahkan kali ini kuhadapi pertama kali pengalaman berhadapan dengan penegak hukum. Wow....luar biasa. Ndak terasa (setelah melaluinya) bahwa tiga setengah tahun serasa dalam neraka. Eh apa aku pernah ke sana ya? Lha wong mati saja belum. Dalam suasana tersebut mejaku dan beberapa sobat sahabat yang tetap percaya dan berkenan mendampingi melalui pengalaman tersebutlah betul-betul sahabat.

Setelah itu, sempat mengalami zaman nyamannya duduk dan memimpin kelompok bekerja dari meja ruang kerja ku. Sampai pada suatu ketika, bos di kantor katakan, bahwa akan membangun gedung sendiri. Dan seperti biasa aku diperkenankan memilih tempat juga. Maka kupilihlah tempat di pojok gedung, menghadap dua sisi, pinggir jendela, sehingga bisa melihat dari dua sisi gedung. 

Ruanganku lumayan besar, ada meja cukup mewah, minimalis, dengan tempat duduk nyaman, dengan dua kursi tamu menghadap, dan ada sofa untuk tamu. Cukup mewah, luas dan bersofa. Satu setengah tahun ku duduk di meja ruang kerja tersebut. Sampai pada peristiwa aku mengalami terusir dari ruang meja dan lingkungan kerjaku. Fitnah membuatku dipindah, tapi ndak ada tempat duduk, cubicle atau bahkan sejumput meja apalagi kursi yang boleh aku duduki. Lha wong saat itu benar-benar aku terusir karena fitnah, yang dilakukan sahabatku sendiri. Dan sampai sekarang ku tidak pernah memperoleh jawaban nya kenapa?

Menarik kuperhatikan, ternyata meja kerja, cubicle kerja, ruang kerja dengan meja, kursi tamu, kursi makan, bahkan sofa dan lemari adalah merupakan fasilitas karena kita merupakan bagian dari perusahaan atau kantor. Tetapi saat ku terusir, ndak dikehendaki berada di antaranya, maka sulitlah memperoleh meja kerja atau ruang kerja tempat untuk berkarya, walau hanya untuk numpang duduk sebentaran. Mata, gesture, gerak tubuh, serta sas sus di sekitar membuat kita ditolak keberadaannya.

Akhirnya bos sempat memberikan ruang kosong walau sempat kukatakan bahwa aku ikhlas bekerja dari rumah, dan akan ke kantor kalo nanti ada meeting atau dipanggil. 

Sekali lagi, yang membuatku bertahan adalah dukungan keluarga, istriku tercinta dan anak-anakku yang luar biasa. Juga sahabat-sahabatku yang ternyata ada dan selalu ada di suasana apapun. Walau ku tahu pada awalnya merekapun jengah dengan kondisiku, sebab kupaham, merekapun takut nanti kena tulah, karena dekat dengan ku. Buatku, inilah bukti Gusti Allah memang selalu mendampingi ku dan keluarga juga kantor tempatku bekerja sehingga tetap memberikan berkahNya.

Sampai suatu ketika aku ditugaskan untuk duduk di anak perusahaan. Dengan medan yang belum ketahuan.
 Tetapi ku boleh peroleh ruangan luas dengan meja kerja, lemari, dan meja pertemuan di dalam. Wow mewah betul.... Dan inipun kulalui tujuh bulan. Dan berikutnya ku terusir pindah lagi dan ditampung oleh rekan sobatku di ruang kerja, bersatu dengannya dalam satu ruangan.  Kursi, menghadap meja, kembali tanpa kursi untuk tamu. Lumayanlah, meja dengan laci, dan credensa di samping. Dan kesempatan bekerja dan berkelakar dalam satu ruang.

Sampai pada kesempatan, di tahun tersebut, kita pindah gedung, bergabung dengan kelompok usaha, dan kita menempati lantai lain yang sudah di fitting.  Sobatku satu ruangan, memperoleh ruang pojok sepertiku dua tahun lalu, sementara aku juga di pojok akhirnya memperoleh ruang, lemari dan meja dengan dua kursi tamu. Kembali memiliki privacy. Dan di tahun kedua setelah pindah gedung, aku menempati ruang juga di pojok tetapi nyempil, karena pindah tugas kembali. Tersingkir, tetapi tetap boleh berkontribusi.  Dan di penghujung tahun ketiga, aku kembali diperkenankan memperoleh tanggung jawab dan kewenangan divisi baru. Ruang tetap, di pojok nyempil.  Masuk tahun keempat di kantor ini, masuklah pengalaman luar biasa lain, bahwa aku merupakan salah satu yang diisolasi karena perusahaan kami dibeli oleh investor lain, sementara kami dari pemegang saham lalu yang masih tertinggal.  Maka di bulan ketiga masa isolasi, kami pindah ke ruang dengan meja kerja dan lemari, tetapi rekan-rekan kami sudah pindah ke lain gedung kembali, masuk kawasan impian para pekerja yakni di kawasan segitiga emas. Dan pada bulan ke enam masa isolasi kami, akhirnya kami diberitau akan memperoleh ruangan dengan meja kerja dan kursi untuk tamu dan almari.

Menarik di sini, babak baru kami akan pindah gedung, bersatu dengan rekan yang lain.  Pada suatu akhir minggu menjelang kepindahan, dimana barang dokumen dan hal penting sudah masuk packing, dan siap dikirim mover, rekan terhormat dari HR division mendatangi ku dan menyampaikan bahwa kami nantinya akan dikumpulkan di satu tempat dalam satu ruangan, tanpa pembatas, tetapi tetap memiliki meja, kursi, tanpa almari. Tentu saja ada laci untuk menyimpan dokumen atau barang baik kantor maupun pribadi.

Nah sampailah ku di sini. Sejak minggu lalu. Dan ini hari ke tujuh hari kerja boleh berkantor bersamai dengan rekan-rekan, tetapi tugasnya yang tidak ada.  Kami berkantor, hadir di kantor, tetapi tidak diperkenankan berkontribusi. Atau malah kontribusi kami adalah hadir dan ndak ada tugasnya.  Betul sekali, teman kami adalah rekan satu ruangan, tanpa pembatas privacy, juga sobat kantor kami yang berkenan mampir dan bercengkerama walau sebentar di ruang ini. 

Suatu pengalaman luar biasa, ternyata, kerelaan, keikhlasan, menghadapi dan berkantor dengan apapun bentuk bukanlah apa-apa. Ndak menunjukkan apa-apa, juga bukan merupakan fasilitas yang wajib dipenuhi perusahaan.

Sebentar memperoleh kemewahan fasilitas, sebentar menikmati meja dan kursi untuk meletakkan badan dan menulis apapun yang hati dan pikiran rasakan.

Akankah ku merasa bangga, merasa senang, merasa sedih, merasa "I am the man", atau justru merasa tersisih?

Apa sih arti meja kerja atau ruang kerja buatmu? Mau menunjukkan privacy? Lalu buat apa?


Jakarta 1 Okt 2013, 10:39

April 23, 2012

Pindah.....

Menunggu adanya kepindahan, merupakan suatu yang luar biasa, bila kita mengalaminya.

Ada rasa bingung, senang, sedih, menyesal, bahagia, menerima, tidak rela, mau cepat-cepat dilalui, atau bahkan ada saatnya ingin menundanya saja. Wuih...seperti gado-gado atau Nano-nano. Rasanya asem, manis, asin. Campur aduk.

Awalnya rasa ini, tidak dapat menerima, sehingga pertanyaan di kepala adalah kenapa? Apa yang salah? Seberapa besar dampak kesalahan ini? Bagaimana bisa terjadi?

Sempat pembicaraan di hati kecil adalah, bagaimana bila semua pertanyaan tersebut tidak perlu ada jawabnya? Apa perlu dijawab? Apakah saya akan menyesal bila memperoleh jawabnya?
Sampai pada pertengahan minggu lalu, saya memutuskan untuk tidak (perlu) mencari jawabnya. Biarlah tetap menjadi misteri. Life goes on...

Bukankah hidup semakin menarik bila kita menerima misteri tersebut, tanpa ditelan, tanpa dikunyah, tanpa berdampak.

Enak saja!.....ternyata alam bawah sadar saya melawan, dengan semakin blunt saya berkomentar (baik dalam hati maupun berpikir). Sempat atasan saya menegur dengan mengatakan,"...kamu stress ya...?"
Awalnya dalam hati saya tidak mengakuinya, tetapi akhirnya saya akui bahwa sedikit banyak saya terpengaruh juga....

Malu...? Tidak... That's life.

Terima kasih Tuhan, saya boleh mengalaminya. Inilah berkah hidup.

Jakarta 18.40 23Apr2012