Setelah kejadian kemarin, dan diputuskan untuk tidak
memegang jabatan, terasa ada yang tidak biasa. Mengenang kejadian 4 tahun lalu,
tepatnya April 2009, dimana juga diputuskan untuk tidak menjabat lagi, bahkan
saat itu juga tidak memperoleh meja bekerja, ada beberapa perbedaan yang saya
alami.
Pertama, rasa kehilangan terjadi saat tahun 2009 lalu,
dimana secara sepihak dan tidak diperkenankan untuk melakukan appeal, saya
dicopot dari jabatan dan dijadikan pesakitan, serta dituding melakukan penggelapan
dana perusahaan serta diaudit. Walaupun hasilnya justru diluar perkiraan dan
bahkan selama menjabat membuahkan hasil pada perusahaan, nama saya tidak
direhabilitasi, juga tidak dilakukan apapun untuk menyebutkan hasilnya. Yang
terjadi saat itu adalah terjadi 3 tahap, pertama, adalah tahap berjuang, denial,
marah dan bahkan defensif. Bila dirunut kembali, tahap itu adalah pengakuan
adanya tahap kehilangan. Dari tadinya diberi kewenangan, lalu dicabut ,
diganti, digulingkan, apapun namanya. Tahap kedua terjadi saat mulai dapat
mengalihkan, dengan kegiatan yang dirasakan dapat menggantikan “rasa
kehilangan” tersebut.
Saat itu mungkin
memang sudah dirancang oleh Tuhan dimana saya disibukkan dengan membantu perusahaan
daerah dan mengambil kegiatan ekstra kurikuler belajar flute dan trumpet. Puji
Tuhan ternyata perusahaan tersebut semakin berkibar, juga ternyata trumpet
dilanjutkan oleh anak kedua. Tahap ketiga adalah tahap reda dan bahkan tahap
bersyukur, dimana sejak dapat berserah, memperoleh manfaat, dan sudah tidak
defensif bahkan tidak menuntut adanya rehabilitasi (it didn’t matter anymore-bukan
mutung lho…), maka anugerah Gusti Allah nyata buah dan bunganya. Bahkan saat
saya sudah memutuskan “what will be will be”, tanpa perlu direncanakan dan
terkesan sebagai hadiah (sebenarnya saat ini saya liat sebagai ujian dan cobaan
naik tingkat lagi) adalah tawaran menjadi dirut di perusahaan di sektor riil.
Betapa luar biasanya.
Saat dibandingkan dengan kejadian dan pengalaman tahun 2009
lalu, pada saat kemarin bertemu dengan bapak dirut, dan saat mendengar
keputusan untuk penugasan saya berikutnya (yang kalo dijabarkan adalah “tidak
ada tugas”nya) masuk dalam jajaran asistennya beliau dan pengurus perusahaan,
dengan tugas nanti akan dipikirkan dan disampaikan (kalo ada); yakni saya tidak
merasa kehilangan.
Bagaimana dapat merasakan kehilangan, lha wong saya tidak
memiliki? Bagaimana dapat kemrungsung, wong tidak ada pada saya. Semua ini
pinjaman, semua ini titipan, sehingga kapan waktu dipinjamkan dan dititipkan,
kapan waktu diminta kembali. Kecewa? Kok ndak terasa begitu ya? Tidak terima
kalo diminta, ya ndak begitu wong Gusti kalo menyerahkan dapat melalui orang
lain, tetapi memintanya kembali dari orang lain.
Jadi kalo tidak memiliki, selama ini saya melakukan apa?
Buat siapa? Mengapa mau? Apa untungnya? Bagaimana melakukannya? Waduh kok makin
banyak pertanyaannya?
Lucunya kok ndak perlu dijawab ya? Lho kok ndak fight? Ndak
melawan? Ndak kliatan jago bahkan kok ndak kliatan berjuang? Apa ini wujud
manusia yang pasrah? Berserah? Wis pun terserah Gusti mawon.
Makin menarik saat saya semakin merasa bahwa menjadi asisten
pengurus itu adalah saatnya belajar/introspeksi, tempat kawah candradimuka, mau
belajar lagi, untuk tugas yang lain. Apa itu penting?
Apa perlu?
Lha akan dijawab apa yang penting dan perlu tadi juga wajib
dijawab?
Ampun Gusti, saya ikut, nunut, manut dan nurut mawon.
Jakarta, 2 April 2013