Showing posts with label alasan. Show all posts
Showing posts with label alasan. Show all posts

April 09, 2013

Minta maaf = bersalah?


“Say, aku minta maaf ya…”

“mas, bapak minta maaf ya…”

“Pak Ketua, nuwun sewu mohon maaf kalo saya lancang…”

Nah ini semakin menarik karena dalam hidup yang saya hadapi, bila kita meminta maaf, coro Londo-nya adalah “apologize”, artinya kita telah berbuat salah.

Lha kalo budaya Jowo yang diajarkan oleh almarhum ibu saya, nuwun sewun, nyuwun sewu, nyuwun pangapunten, dan seterusnya, itu adalah minta maaf karena suatu hal yang sudah terjadi, atau sedang terjadi, atau akan terjadi yang mungkin dapat mengganggu lawan bicara. Tapi bisa jadi belum tentu mengganggu juga apalagi membuat orang lain terluka, atau tersiksa. Justru sering, malah dibilang berlebihan karena, kok selalu minta maaf…..

Saya dipesan oleh pimpinan. Apapun yang kamu lakukan. Jangan sekali-kali kamu minta maaf apalagi mengaku salah. Jadi ada 2 kejadian sekaligus, tetapi dihubungkan dengan kata dan, “and”. Minta maaf pasti bikin salah. Dan sering dikonotasikan kesalahan itu biasa, dan bisa terjadi kapan saja. Tetapi ndak perlu minta maaf. Buat saja alasannya, “reasons”…. Apapun itu orang akan menerima (baik suka atau tidak suka).

Karena ndak perlu meminta maaf, juga sekaligus ndak perlu ngaku salah, juga penting untuk disampaikan (dalam hati tentunya) bahwa tidak perlu menyesal. Kalau dalam ajaran Yesus, ya ndak perlu bertobat….

Wuih top banget yak….?

Jadi sebaiknya? Mosok sekarang tanya baiknya? Bagaimana kalo buruknya….?

Sumonggo…..

Jakarta 9 April 2013

June 12, 2012

Pencerahan

Pencerahan atau enlightment, adalah suatu tahap kita "mulai" mendalami hidup. Ilustrasi, saat orang kehausan, kita berpikir bahwa dengan minum beberapa teguk air bahkan gelas akan menawarkan dahaga kita. Saat kehausan, malah lebih jauh kita merasa, begitu air masuk dalam mulut, lalu ke tenggorokan kita, maka hilanglah haus kita. Perhatikan kata "hilang" di atas. Kebanyakan orang berpikir bahwa kita ndak akan haus lagi. Kok naif banget yak? Pernah saya alami, bahwa suatu saat saya begitu menginginkan sesuatu misalnya jam tangan Rolex. Coba lelaki mana yang ndak menginginkannya. Saat terindah ada saat mencari informasi, membandingkan jenisnya, mampir dari toko ke toko, bertanya pada orang yang sudah memilikinya. Nah, saat kita sudah punya dana, sudah manteb akan membelinya, bahkan sesaat baru memakai di pergelangan kita. Lho......rasanya kok lain? Hilang.... Apa yang hilang? Kok ada bagian dari kita yang hilang? Ya jelas selain duit yang sudah bertukar dengan arloji tadi. Tapi jelas2 ada yang hilang? Kenapa ini? Apa ini? Rasa apa ini? Terpenuhi tapi kok sekaligus ada yang hilang? Monggo....apa kita perlu cari rasa itu? Apa perlu cari jawabnya? Bisakah kita terima tanpa perlu dan penting cari jawabnya? Jakarta 16:51 12Jun2012