Showing posts with label kurang. Show all posts
Showing posts with label kurang. Show all posts

February 14, 2014

Keuangan = Berkah?



Sejak diberi kesempatan untuk menjadi pembicara sharing dalam acara membagi pengalaman untuk mengatur keuangan dalam keluarga untuk besok, maka sejak seminggu lalu, saya menjadi pemerhati diri sendiri, istri, anak, juga beberapa kecenderungan rekan kerja dalam hal keuangan. 

Apakah keuangan dianggap sama dengan pengeluaran? Apakah keuangan malah sama dengan dengan penghasilan? Atau justru pengeluaran kita tetap aja karena pemenuhan “ego” diri dan keinginan (wants) untuk dilihat, dikomentarin juga dipuji atau justru dicela oleh orang lain (pihak diluar diri) yang menjadi dorongan kita? Sebab hal yang belakangan ini justru dapat membuat jebol keuangan, yang disadari maupun tidak disadari pada “saat”nya akan membuat sengsara diri ini. 

Padahal semua ini bermula dari konsep diri tentang berkah. Tentang diri, juga tentang diri yang bahagia. Yang pada gilirannya akan menggelontorkan gengsi dalam perilaku kita karena mengejar nafsu diri untuk dipuji disenangi atau justru untuk memenuhi harapan orang lain. Yang sebenarnya adalah wujud diri karena ingin dihargai lebih dari orang lain. Egois banget kan? 

Sebab pada tingkatan tertentu, terlihat baik, elegan, anggun, terlihat menjadi panutan karena ok sekali dalam tindakan dan pikirannya. Tetapi bila digali lebih jauh, apakah pemikiran, intensi, juga tindakannya ini karena dorongan diri untuk baik atau justru ingin dilihat baik? Nah lho…… Apa bedanya sih? 

Pertama, baik karena memang semata-mata mau berpikir baik karena kita sudah memperoleh berkah cinta Tuhan. Sehingga “mau aja” bertindak baik. Tanpa alasan lain apapun. Dan tanpa ingin dikomentari apapun. Just as is. Do it. 

Yang kedua, nah ini yang menarik. Dimana dalam beberapa hal pun penulis, gue nih…masih sering juga terserang hal ini. Misalnya, mau melakukan tindakan baik karena sudah pernah dibantu oleh si anu, atau inginnya melakukannya supaya mbesok (kapan-kapan, lain waktu) dia atau keluarga, atau siapapun dapat membalas membantu kita.  Nah kan, jelas bedanya. Ini yang disebut dagang, trading, pamrih.

Ingat kan, kalo kita merasa Tuhan, Gusti Allah kita mustinya (baca sekali lagi, mustinya) memberikan berkahnya ke kita karena kita sudah berbuat baik, sudah berdoa minta mohon ampun, sudah berdoa bersyukur dst dst dst. Lha wong Gusti Allah Maha Pencipta kita kok malah diatur-atur. Lha kan ndak cocok. BerkahNya pun kan gift, ndak bisa diatur-atur, terserah yang ngasih. 

Lalu apa hubungannya dengan kita, karena sudah bekerja, maka kita menuntur gaji kita sesuai UMR, menuntut atasan bos kita memberikan bonus, karena sudah bekerja lebih dari yang diminta. Dst dst dst.
Bukankah semua pikiran, tindakan, dan semua kejadian ini sudah ada jalannya. Kalo sudah mengerti ya berarti sudah meninggal. Justru indahnya kan karena belum tau. 

Ndak perlu juga ndak penting menyesali tindakan kemarin,  barusan, yang baru lewat. Juga ndak penting memiliki kekhawatiran nanti, sebentar lagi juga besok atau tahun depan tentang kita. Kalo mau menyisihkan, lakukan. Ndak cukup, ya upayakan. Masih kurang, ya stretching. Masih kurang juga? Mosok mau korupsi, mengambil yang bukan “bagiannya”? 

Pantes kan kalo korupsi, atau mengambil yang bukan bagiannya dicela orang banyak. Tetapi bagian yang mencela tersebut apa iya itu pantes juga buat dia? Hayo…. Apa iya pantes? Apa juga ndak bersyukur sudah dikasih berkatNya. 

Lha kalo masih ngurusin rezeki orang lain atau menghalangi orang lain memperoleh rezekinya itu namanya “jahat”. Saya ingat diberi nasihat oleh Pak Sofjan Jalil mantan Menteri BUMN, saat beliau menjadi Komisaris kami, mengatakan,”…kalo ndak bisa membantu orang lain, kan setidaknya tidak menghalangi jalannya orang tersebut.” 

Monggo…… 


Jakarta, 10:31; 14Feb2014

April 10, 2013

Menerima Paketnya


Seringkali saya melihat, mendengar dan membuat komentar atas suatu hal hanya melihat sesuai dengan persepsi dan kacamata (baca: mau saya saja). Kalo pas penginnya dilihat positifnya ya hanya melihat positifnya aja. Ato saat mau melihat (dan men-judgement) yang negatifnya saja ya hanya dilihat serta difilter yang negatif saja.

Contoh, saat saya kelas 2 SMP, dimana saya masih tinggal dengan orang tua, jelas dong kalo saya musti nurut apa yang dinasihati beliau. Lha wong tinggal dengan orang tua. Nunut ya musti manut. Sekolah dibayarin, makan diberi, tidur disediakan, apalagi yang diminta dan ndak diberi? Bukankah ini merupakan berkah Gusti Allah melalui beliau sebagai orang tua. Betapa nikmat dan enak kan. Tetapi apa yang saya minta saat itu? Kebutuhan sudah diberi dan disediakan, saya mulai minta “seperti” orang lain; teman-teman yang lain. Yang mana? Ya yang diperbolehkan main sepeda kemana suka, ya yang boleh naik sepeda motor (padahal untuk mperoleh SIM belum umur dan waktunya), ya yang boleh main band setelah pulang sekolah. Juga ikut tanding tenis kapan saya mau…

Coba para sahabat perhatikan. Ternyata saat kebutuhan (dalam bahasa Inggeris disebut needs) sudah dipenuhi, masih kurang terus…. Dan ini kalo boleh disebut adalah “kemewahan” atau “wants”. Contohnya adalah kalo biasanya makan sepiring, ya apa aja selama 1 piring kan membuat kenyang. Ternyata panca indera kita menuntut yang enak (di lidah), yang manis, yang gurih, yang kliatan menarik untuk dipandang, wuih….

Lho kok sekarang panca indera yang disalahkan?

Ternyata tingkatan pemenuhan terus, dan bila saya ndak bisa mengendalikannya (manage) akan terus membumbung.

Tadi malam saya baca buku karangan OSHO (monggo dicari dan dibaca sendiri, kapan waktu akan saya bantu untuk mengulas ya…). Bahwa saya hidup di dunia dengan segala keterbatasan, (dalam ruang dan waktu) ternyata dibekali ego untuk belajar. Sebab kalo saya hanya dibekali spirit (baca: ruh dan jiwa; sengaja saya pisahkan), maka segala yang ada di dunia menjadi ndak menarik wong segalanya sudah baik adanya dan wong di dunia ini “cuma” sandiwara kok….. jadi ya hanya titipan, sadar terus, tapi jadi ndak belajar……

Jadi saya hidup dengan bekal ego (yang maunya enaaaaakkkkk terus itu) musti diseimbangkan dengan “spirit” untuk “tali kekang”nya….. Paketnya ya musti diterima dua-duanya. Ada malam ada siang, ada terang ada gelap, ada manis ada pahit ada asam, ada sakit ada sehat, semuanya indah sekali. Dan saya dapat belajar dari semuanya, swing bandul bisa ke mana saja, tapi akan melewati titik tengah seimbangnya.

Monggo…..

Jakarta 10 April 2013