Showing posts with label kuasa. Show all posts
Showing posts with label kuasa. Show all posts

April 08, 2013

Jabatan

Apa yang dirasakan kalau kuasa hilang?

Kuasa adalah kumpulan antara tanggung jawab, wewenang, keputusan serta konsekuensi yang menyatu dalam atribut jabatan.

Jadi kalau jabatan dicabut, diminta, atau dihilangkan, maka yang ada adalah person tanpa jabatan. Hal ini tentunya akan menimbulkan pertanyaan, apakah orang tanpa jabatan akan hilang bersama dengan jabatan tersebut atau mati?

Bila person hadir, exist dan disamakan atau diejawantahkan dengan jabatan yang diembannya, maka bila jabatan tersebut diminta, diganti atau ditiadakan, maka person tersebut tentu akan “hilang” atau tidak hadir dan tidak exist lagi.

Apakah person hanyalah “orang” yang hadir secara fisik? Bagaimana dengan roso rasa serta energy yang ada? Apakah juga turut hilang bersama dengan jabatan yang hilang yang membuat orang tersebut seolah kehilangan kehadirannya? Kehilangan energy-nya?

Bukankah orang, dengan body-mind-soul yang ada, lebih besar dari jabatan tersebut, jadi bila jabatan adalah “baju”, atribut yang membuat orang “punya kuasa”, maka saya akan terkungkung dalam bentuk, aura, energy, environment sesuai baju tersebut. Sehingga kalo saya ikut hilang bersama dengan jabatan tersebut, maka saya mengecilkan diri saya (body-mind-soul) sesuai dengan atribut pakaian saya tadi.

Bukankah bila atribut, baju, pakaian, kuasa yang “sempit” tadi diminta, diganti, dihilangkan, membuat saya lebih lapang, lebih bebas, lebih loose, lebih longgar, lebih luas dalam berekspresi?

Pertanyaannya menjadi: kok saya senang/bahagia/happy dengan pakaian yang kesempitan tersebut, yang sebenarnya membatasi gerak badan-pikiran-jiwa saya? Bukankah saya justru selama ini minta-minta untuk dibebaskan dan diberi ruang tanpa batas untuk berkreasi?

Lho jadi bingung ya?

Monggo…..

Jakarta 5 April 2013

June 09, 2012

Takut vs Kuasa

Dalam perbincangan kemarin ada yang menarik untuk diperhatikan. Saat seorang karib menyatakan ketakutannya akan apa yang menimpanya dalam waktu dekat. Disampaikan bahwa dalam kurang dari sebulan dia akan melepaskan atribut pimpinan usaha. "lalu aku gimana ya Dik? Apa "anak-anakku bisa hidup"? Apa jalannya nanti mulus lagi ya?" dan seterusnya dst dst. Banyak yang sudah karib ini buat, bahkan hatinya pun ada di sana, yang kalo disebut, full hearted deh. Panutan. Yang bahkan saking dekatnya dengan tim dan anak2nya, bisa "beradu" dengan rekan lain yang berseberangan. Takut apa yang belum terjadi dapat membuat kaku, hilang, lost, feel nyasar bahkan, disorientasi. Sebagai kompensasi sesaat dan "kliatannya" butuh adalah "obat bius" atau analgesic yang bisa langsung menhilangkan rasa "hilang" tadi. Ato kalo perlu obat yang masih bisa membuat kita merasa "tetap berkuasa selamanya" (apa ada tuh obat nya...?) Pernah ada buku yang menyebutkan, dimana kita merasa kuat karena memiliki kuasa (untuk apa aja), tak tergoyahkan, ndak akan ada yang mencopot, bahkan di mana kita berkarya hebat, maka (tenyata) disitu pula letak kelemahan terbesar kita, tempat paling rapuh. Apakah ini karena hati kita berada di situ ya? Monggo, silakan dicermati. Semoga Gusti Allah mencerahkan rekan-rekan sekalian. Phuket, 05.05 am, 9Juni2012