February 15, 2012

Lho kok begitu...

Menarik bila kita di posisi tidak berkepentingan....

Sebagai contoh, kemarin saya bertemu dengan teman2 lama yang meminta nasihat karena mau mengadakan event besar (baik nilai uangnya juga jumlah pesertanya, juga tempatnya jauh di negeri lain)

Ingat saya, beberapa tahun lalu ada peristiwa yang lebih kurang mirip. Maka beberapa sabahat dekat saya mengatakan demikian....

"Kok baru ketemu kita kalo ada perlunya"
"Kok baru sekarang ketemu kita? Bukannya waktu hari H nya tinggal 2 minggu?"
"Nanti kalo dibantu, apa kita juga di update (baca: diikutsertakan, diberi "terima kasih", atau dijadikan anggota kehormatan??)
Dst dst dst

Nah lho...

Dengan tanpa pretensi, saya forward pesan teman lama tadi siapa tau ada yang nyangkut.

Maka, pesan terkirim dengan diiringi doa. Maka seperti yang lalu bahkan lebih "seru" ternyata komentarnya makin seru dan meriah... Ha ha ha

So, let be it.

Mau mbantu monggo, mau komentar monggo, mau apa aja ya monggo.

Siapa tau. Monggo....

Tuhan memberkati sahabat pembaca sekalian...

Jakarta, 14.10 14Feb2012

Sehat itu.....

Karena pernah sakit ato sedikitnya melihat orang sakit atau membantu kel yg sakitlah maka sehat menjadi hal yang begitu kita dambakan dan perlu dijaga.

Sehat? Wah berarti perlu olah raga, isi dengan makanan sehat serta cukup istirahat. Itu fisik. Bagaimana dengan dengan mental ato jiwa?

Banyak pikiran membuat kita "capek" ato exhausted atau loyo atau ngedrop. Maunya apa? Istirahat? Maunya dilarang atau maunya di"marahin" atau dinasehati?

Saat ada orang lain yang menasihati atau memarahi, eh eh eeh kok malah seneng, "merasa diperhatiin", katanya...

Lho jadi sehat itu untuk siapa sih? Kok perasaan jadi "out-in thought"

Bukankah itu namanya minta perhatian? Cari perhatian... Wah wah wah...

Kok hidup tergantung orang lain? Katanya penjoang freedom.. Aliran kebebasan, kok "feel great" aja tergantung orang lain, malah "label" dari orang lain...

Di alkitab dan sejumlah kitab suci atau "karangan" filsuf terkenal mengatakan, bahwa,"cukup lah sudah berkatKU padamu. Jadi apa yang kau tunggu?"

Independent yang dependent...

Nah lho...

Jakarta, 13:58 14Feb2012

January 06, 2012

this is great

watch this folks
http://vimeo.com/couchmode/user8416895/videos/sort:newest/33562874

December 09, 2011

Pengin berbeda...

Pengalaman ini ternyata bukan hanya dialami oleh kaum dewasa saja, monggo kita mulai dari masa kanak-kanak.

Dulu sewaktu masih tinggal di Jawa Timur, sudah sejak kecil senang sekali dengan mainan mobil-mobilan matchbox atau merek tomica. Karena menurut ibu, saya penyakitan, dan gampang sekali sakit, maka setiap kali pergi berobat, ibu selalu mampir di Pasar Pacar Keling untuk beli mainan. Toko kelontong apa aja ada, mulai dari mainan, alat tulis, alat masak dan bahkan alat rumah tangga lainnya, jadi kalo mampir ke situ bukan hanya keperluanku aja yang dibeli ibu.

Hampir setiap bulan, mainanku tambah satu. Sehingga kalo mampir ke pasar, aku selalu sempatkan mampir, apa yang baru di toko, sehingga kalo sakit dan dibelikan ibu, sudah ada inceran.

Menarik sebab, tetanggal di rumah, ada teman bernama Kempong, Sari, Medhek, dan beberapa lainnya juga senang dengan mainanku. Dan akupun juga melirik apa yang baru mereka punya. Biasanya kami berbeda selera, sehingga jarang ada yang sama.

Sejak sekolah, ternyata "mainan"ku berubah, mulai mengumpulkan tempat pensil yang ditutup dengan magnet, dan biasanya bentuk macam-macam, kalo ndak salah bentuknya ada mirip radio, mesin, robot, mobil, juga ada yang dari kayu mirip laci lemari. Saya ndak suka yang berbentuk kain dan lembek. Harus bentuk kaku, mirip "mesin". Kalo ada teman yang punya tempat pensil baru, biasanya aku memperhatikannya, pinjam untuk liat2, tapi seringkali tidak boleh. Katanya takut rusak. Atau takut saya beli yang sama. Hal ini saya ketahui, sejak saya tanya beli di mana? Dia jawab,"ndak tau." Artinya kan takut disaingi.

Penting terlihat bahwa, kalau kita punya yang tidak dipunyai orang lain, itu baru keren. Kalaupun hanya sedikit yang punya, itu eksklusif. Gejala apa ini?

Sekarang, saya mulai mengumpulkan beberapa hal, syukur-syukur berbeda dengan yang lain. Gimana ndak, wong selera saja sudah beda. Pengin berbeda. Kembali, pertanyaannya adalah kenapa musti berbeda? Kenapa kok ingin dikomentari oleh yang lain?

Bukankah, yang kita gunakan (terlepas kita miliki atau kita nikmati) adalah penting untuk "mengolah roso" di dalam hati? Spiritual healing.... Apa lagi ini?

Kok healing, apa yang kita obati dan kita terapi? Hati kita? Kenapa diobati? Apa ini bukannya gejala kompensasi adanya "rasa kekurangan" tadi?

Kok rasanya kita akan haus terus dengan "pandangan orang lain"? Gejala apa ini?

Rasa "kepenuhan" kok dipenuhinya dengan "air dari tetangga"? Apa ini salah satu ciri manusia yang diciptakan oleh Gusti Allah?

Apa ndak puas kita hanya dipenuhi dariNya?

Waduh, semakin banyak pertanyaan yang ndak terjawab. Monggo, pembaca sekalian bila memiliki pendapat. Matur nuwun.

Jakarta 12:36 Des09, 2011


December 07, 2011

Retro nih...

Belakangan ini saya keracunan dengan hal-hal yang serba retro, itu tuh semua hal, termasuk pemikiran yang serba jadul. Kuno, dan nyeleneh.

Hal ini semakin aneh saat beberapa teman di kantor makin tergila-gila menggunakan gadget terbaru, sementara saya sejak bongkar-bongkar isi lemari bawah TV di kamar ketemu gameboy, nintendo serta beberapa mainan punya istri yang beredar kira-kira tahun 1980-an.

Tak terasa, saya mampir kembali ke almari yang selama ini ndak tersentuh, berdebu dan lembab itu. Wuiiiih, ternyata kaset-kaset barat dan Indonesia masih banyak ya.... Jadi ingat salah satu sobat di SMP mengatakan bahwa kalo kaset mau diperdengarkan lagi, sebaiknya dimasukkan ke kulkas dulu... (ndak tau untuk apa).

Lagu-lagu lama disetel lagi, ndak terasa ada rasa "ser" di hati ini, rasanya mirip saat jatuh cinta pertama kali. Hi hi hi... Jadinya senyum-senyum sendiri.

Jadi ingat saat itu jadi ketua kelas di SD, beberapa teman kemana ya? Penelusuran dimulai dengan membuka daftar nama di hp deh.... Sekedar memori kecil.

Disambung lagi, mulai membuka (dan rencananya membereskan) laci di dekat tempat tidur, wow begitu banyak foto-foto lama.... Aku masih kurus, jelek, cungkring, lho kok ndak punya foto saat gondrong ya? Ha ha ha ......

Sebetulnya mengingat waktu itu sempat gondrong hampir sepinggang di SMA, membuat tersipu. Kok mau-maunya ya? Apalagi kalo sekedar naik bis "gratis"...

Udah dulu ah, kalo kelamaan jadi keterusan. Matur nuwun sudah mampir. Tuhan memberkati sahabat selalu.

Jakarta 15.45 Des07,2011

Konsumsi listrik, apa sih maunya?

Setelah baca koran harian tadi pagi, dimana beberapa topik memberitakan bahwa sekelompok orang di kalangan atas sana, menginginkan kita "seragam" dalam maksud memahami apa yang diinstruksikannya.

Contohnya adalah bahwa sebaiknya kita secara serempak mengurangi konsumsi kita terhadap listrik. Hal ini dimaksudkan untuk penghematan energi demi kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Wuiiih, betapa mulianya tujuan dan maksudnya.

Sementara beberapa kalangan dengan semangat tidak kenal lelah, mencari alternatif energi untuk dapat menggantikan minyak bumi yang katanya hampir habis ini.

Menurut para ahli yang berasal dari negeri-negeri seberang, salah satu kemajuan suatu bangsa didorong oleh pembangunan fasilitas infrastruktur, salah satunya adalah ketersediaan listrik untuk industri dan untuk rakyat.

Sikap mengurangi konsumsi penggunaan listrik tersebut, apakah sebaiknya diterapkan di industri atau juga oleh konsumsi rumah tangga? Terus apa sebaiknya kita masyarakat menggunakan sumber energi lain? Contoh apa?

Sewaktu anak saya, Krisna live-in di daerang Magelang, Jawa Tengah, penduduk masih menggunakan kau bakar untuk memasak. Lha kita yang di kota apa iya musti cari kayu bakar?
Alternatif lain, pake briket batubara. Seingat saya, kita menggunakannya kalo akan barbeque. Jadi kalo memasak nasi, bikin tumis, panasin air hangat dengan apa sebaiknya?

Kalo biasanya kita tidur dengan AC, maka sebaiknya kita lakukan dengan kipas tangan, kondisi rumah mulai dirancangbangunkan supaya angin dapat masuk.

Makin bingung ya....

Jadi timbul pertanyaan...berapa sih yang dapat dihemat bila masyarakat mengurangi konsumsi listrik 10% saja? Berapa kalo kita bandingkan industri juga menguranginya 10%? Jadi berapa konsumsi listrik masyarakat dibandingkan industri?

Demikian curcol ini disampaikan, monggo kalo sahabat memiliki pendapat lain dan berbeda. Matur nuwun. Tuhan memberkati.

Jakarta 15.33 Des07,2011

Cemburu

Baru saja saya baca buku berjudul Para Guru Kehidupan, pada halaman 140 yang menyebutkan tentang cemburu disebutkan sebagai berikut cuplikannya...

"...Allah itu Maha Cemburu? padahal, buat apa Allah camburu kepada mahluknya... dan apa kecemburuan manusia itu terhadap sesamanya?

Nah ini bagian menariknya,"Allah cemburu itu, karena Allah hanya ingin supaya kita beribadah padaNya, dan tidak berpaling selain dariNya, dan itu sebagai tanda cinta kepada makhlukNya... Sementara, kalau manusia yang cemburu, lebih sering kecemburuan itu muncul karena iri, ketidakmampuan dirinya terhadap suatu hal atau keadaan..."

Sungguh sangat menarik untuk dibongkar...

Allah, Gusti Maha Pencipta kita ini begitu luar biasa, bahkan menurut kitab suci, saat menciptakan manusia, sebagai perwujudan dari kasih sayangnya, yang diberi percikan Dzat Tuhan. Menarik lagi, bahwa Tuhan tidak menciptakan kita sebagai robot yang "fungsinya" menyembahnya tetapi dengan "free-will" yang dapat dengan kemauan kita dapat melakukan apa saja, termasuk berpaling dariNya. Dan Allah tahu akan hal itu.

Dari beberapa buku yang saya baca, dinyatakan bahwa Tuhan Allah memperkenankan kita mengalami banyak hal dan memutuskan sendiri. Beliau sebenarnya tidak membutuhkan kita "membela"nya, wong Beliau adalah Maha SegalaNya.

Nah, manusia yang hanya ciptaanNya ini sering tergoda untuk menuntuk wujud kesempurnaanNya. Lha apa bisa? Monggo direnungkan.

Pagi tadi sewaktu saya bangun dan melihat langit biru Jakarta, terbetik hati ini memujiNya, Puji Tuhan atas ciptaan yang luar biasa ini. Biarpun setiap waktu kota tercinta ini dipenuhi (dengan sukarela, sadar dan tidak sadar) oleh polusi yang membuat langit berwarna abu-abu, tetapi dengan perkenanNya, pagi tadi masih dapat biru kembali.

Wong langit saja bisa bisa diubahNya, apa upaya kita (yang ciptaanNya) ini begitu hebatnya sehingga "membela Tuhan" terhadap ancaman sesama dianggap begitu berjasa. Hayoooo, monggo diendapkan dulu.

Ya sudah sepantasnya kan kalo kita ini bersyukur, dan berbuat baik. Wong kasih sayangNya selalu melingkupi kita, keluarga kita dan tempat dimana kita singgah.

Jadi? Opo ya pantes kita bermegah diri?

Sahabatku, matur nuwun sudah mampir, Tuhan memberkati selalu.


Jakarta 15.17 Des07,2011