Showing posts with label spiritual healing. Show all posts
Showing posts with label spiritual healing. Show all posts

March 13, 2012

Menghargai

Hal menghargai..... Orang sana suka menyebutnya respect.

Menarik untuk ditelusuri, tadi pagi sewaktu selesai mencium putri kecilku untuk pamit mau berangkat sekolah. Tak terasa, trenyuh di hati ini... Sudah besar dia mau menyambut ilmu di sekolah TK B.

Ingat sewaktu masih di Surabaya lalu, dimana saya masih ditunggui Ibu selama jam sekolah. Beliau menunggu di luar pagar. Memastikan janjinya pada ku sewaktu mengantar di pintu untuk berbaris masuk kelas, dan memastikan Ibu ada sewaktu saya keluar kelas.

Bahkan saat aku di dalam kelas, dan terasa panjang waktu belajar, aku sudah melirik dan melihat-lihat jendela, siapa tau ibu sudah terlihat di sana. Kalo pandangan sudah melihatnya lalu senyumku melebar.....wuih.....

Saatku besar, bagaimana bisa menghargai ibu adalah hal yang sedemikian menantang... Ibu, sebagaimana orang tua pada umumnya sudah ndak mengikuti jaman, bahkan handphone, komputer, atau sejenisnya teknologi....

Awal bekerjaku, sampai beberapa tahun awal, luar biasa sulitnya. Tetapi dengan berjalannya waktu, dan mulaiku berumahtangga, ternyata menghargai atau respect atas tindakan, pemikiran, kebijakan ibu dan bapak tentunya semakin saya pahami. Matur nuwun Gusti atas berkah yang ada ini.

Ternyata mendidik anak membutuhkan iman, kepercayaan serta doa di dalam tindakan kita. Dan benar adanya bahwa orang tua mencurahkan seluruh jiwa dan raga untuk hidupnya keluarga muda dan kecil ini.

Sehingga diberjalannya waktu, menghargai menjadi menyatu dalam diri dan jiwa ini. Terima kasih ibu, terima kasih bapak dan terima kasihku pada semua orang tua yang mendampingi ku dan kami selama ini.

Jalan masih panjang, penting dan perlu untuk melihatnya secara hidup (dengan fighting spirit). Ora et labora....

Amin

Jakarta 10:11 13Mar2012

December 09, 2011

Pengin berbeda...

Pengalaman ini ternyata bukan hanya dialami oleh kaum dewasa saja, monggo kita mulai dari masa kanak-kanak.

Dulu sewaktu masih tinggal di Jawa Timur, sudah sejak kecil senang sekali dengan mainan mobil-mobilan matchbox atau merek tomica. Karena menurut ibu, saya penyakitan, dan gampang sekali sakit, maka setiap kali pergi berobat, ibu selalu mampir di Pasar Pacar Keling untuk beli mainan. Toko kelontong apa aja ada, mulai dari mainan, alat tulis, alat masak dan bahkan alat rumah tangga lainnya, jadi kalo mampir ke situ bukan hanya keperluanku aja yang dibeli ibu.

Hampir setiap bulan, mainanku tambah satu. Sehingga kalo mampir ke pasar, aku selalu sempatkan mampir, apa yang baru di toko, sehingga kalo sakit dan dibelikan ibu, sudah ada inceran.

Menarik sebab, tetanggal di rumah, ada teman bernama Kempong, Sari, Medhek, dan beberapa lainnya juga senang dengan mainanku. Dan akupun juga melirik apa yang baru mereka punya. Biasanya kami berbeda selera, sehingga jarang ada yang sama.

Sejak sekolah, ternyata "mainan"ku berubah, mulai mengumpulkan tempat pensil yang ditutup dengan magnet, dan biasanya bentuk macam-macam, kalo ndak salah bentuknya ada mirip radio, mesin, robot, mobil, juga ada yang dari kayu mirip laci lemari. Saya ndak suka yang berbentuk kain dan lembek. Harus bentuk kaku, mirip "mesin". Kalo ada teman yang punya tempat pensil baru, biasanya aku memperhatikannya, pinjam untuk liat2, tapi seringkali tidak boleh. Katanya takut rusak. Atau takut saya beli yang sama. Hal ini saya ketahui, sejak saya tanya beli di mana? Dia jawab,"ndak tau." Artinya kan takut disaingi.

Penting terlihat bahwa, kalau kita punya yang tidak dipunyai orang lain, itu baru keren. Kalaupun hanya sedikit yang punya, itu eksklusif. Gejala apa ini?

Sekarang, saya mulai mengumpulkan beberapa hal, syukur-syukur berbeda dengan yang lain. Gimana ndak, wong selera saja sudah beda. Pengin berbeda. Kembali, pertanyaannya adalah kenapa musti berbeda? Kenapa kok ingin dikomentari oleh yang lain?

Bukankah, yang kita gunakan (terlepas kita miliki atau kita nikmati) adalah penting untuk "mengolah roso" di dalam hati? Spiritual healing.... Apa lagi ini?

Kok healing, apa yang kita obati dan kita terapi? Hati kita? Kenapa diobati? Apa ini bukannya gejala kompensasi adanya "rasa kekurangan" tadi?

Kok rasanya kita akan haus terus dengan "pandangan orang lain"? Gejala apa ini?

Rasa "kepenuhan" kok dipenuhinya dengan "air dari tetangga"? Apa ini salah satu ciri manusia yang diciptakan oleh Gusti Allah?

Apa ndak puas kita hanya dipenuhi dariNya?

Waduh, semakin banyak pertanyaan yang ndak terjawab. Monggo, pembaca sekalian bila memiliki pendapat. Matur nuwun.

Jakarta 12:36 Des09, 2011