Showing posts with label salah. Show all posts
Showing posts with label salah. Show all posts

January 24, 2014

Salah





Pagi ini aku belajar banyak. Betapa ulah tingkah sebelumnya telah membuat sahabatku menjaga jarak dan berjaga-jaga kalo-kalo aku melakukan hal yang sama, yang (mungkin) dipertimbangkannya sebagai merugikan.  

Ternyata persepsi dan niat ku yang menurut ku sudah berubah dan berupaya membaik ternyata tetap dicap sama dan akan merugikannya di masa saat ini dan masa mendatang.  

Karena niatku berubah sudah bulat dan tidak kembali ke masa lalu, termasuk di dalamnya aku niatkan untuk terbuka dan langsung (straight forward) tanpa tedeng aling-aling.  Memang tetap diperlukan kaidah kesopanan dan unggah-ungguh dalam penyampaiannya.  Yang katanya masyarakat timur tetap melakukannya.  

Nah siang ini aku akan menuai hasil perubahan dan keterbukaanku. 

Siapa tau niat dan upaya ini memang ada dilihat dan ditanggapi oleh lingkunganku.  

Mohon ampunMu Gusti. Hamba berniat tetap menjalankan perubahan ini. 


Jakarta, 10:57, 24Jan2014

June 17, 2013

Goals


Tujuan, dreams, goals, destination, apapun namanya, kelihatan semua menarik, tapi kok saat ini saya sedang ndak tertarik ya? Apa yang salah sih?

Sebentar....apa pertanyaan saya salah?

Kok mesti cari yang benar dibandingkan dengan yang salah?

Apa mesti, kita berjalan untuk mencapai tujuan? Apa ndak bisa kita berjalan, ya yang penting berjalan. 

Sehingga nanti di perjalanan kita akan menentukan tujuan?

Hadeuh....


Jakarta, 17:28, 17 Juni 2013

April 16, 2013

Tanggung Jawab

Adakah jalan lain bila kita berdiri di suatu tempat dan di suatu waktu? Tapi semua kejadian buruk menimpa kita.....

Apakah kita menyalahkan ibu kita karena melahirkan kita? Apakah kita masih mau melempar kesalahan karena salah kolega kita? Apakah kita akan menuntut bos kita karena kejadian ini? Apakah kita melemparkan tanggung jawab kita karena pernah sekolah dan kuliah di tempat itu? 

Ataukah kita mau mengambil keputusan untuk bertanggung jawab atas kejadian ini, saat ini, di sini? 

Monggo

Jakart 16 April 2013, pk 13:32

February 09, 2013

Mendengarkan vs mendengar

Berikut ini bukan dari saya sendiri tetapi saya cuplik dari "Awareness" karangan Anthony de Mello yang luar biasa.....monggo..

Beberapa dari kita "bangun" karena pengalaman yang tidak menyenangkan. Karena pengalaman itu, membuat kita "bangun". Tetapi (ada) orang-orang yang terus-menerus terbentur dalam hidupnya . Mereka terus-menerus berjalan sambil tidur. Mereka tidak pernah (memutuskan untuk) "bangun". Lebih tragis lagi, mereka tidak pernah menyadari bahwa ada jalan lain untuk membuat mereka "bangun".  
Cara lain tersebut yang membuat Anda "bangun" yaitu "mendengarkan" (bedakan dengan mendengar). 

Yang luar biasa disini adalah selalu de Mello menyelipkan sepenggal kalimat, bahwa Anda tidak harus dan tidak perlu untuk setuju dan sependapat dengannya. Artinya beliau mempersilakan pembacanya untuk memutuskan sendiri apakah mau "bangun" atau tidak atau belum (mau)..

Dilanjutkan.. Yesus menyampaikan kabar baik, Nabi Muhammad menyampaikan kabar baik, Sang Budha menyampaikan kabar baik untuk kita manusia, tetapi Dia ditolak.  Dia ditolak bukan kabar baiknya, TETAPI karena kabar yang disampaikan adalah kabar baru. Kita semua benci segala sesuatu yang baru! Makin  cepat kita menghadapi kenyataan semakin baik...

Kita tidak menginginkan hal, barang atau berita baru, khususnya bila hal tersebut membuat kita terganggu, terusik, dan membuat kita harus berubah. Apalagi bila ternyata hal baru tersebut membuat kita harus mengatakan,"selama ini saya salah...."    Waduh, gubraaaakkkk!!

Padahal bila kita "mau" mendengarkan, dan sampai dengan keputusan dengan mengatakan,"anda mengatakan sesuatu yang membuat saya terbuka, dan selama ini saya telah salah." Itulah iman.  Bukan keyakinan, tetapi iman. Keyakinan memberi anda perasaan aman, tetapi iman anda perasaan tidak aman. Anda tidak mengetahui dengan pasti, anda bersedia mengikuti. Ada membukakan diri sehingga anda terbuka luas...  Membukakan diri tidak berarti anda mudah menerima dan menelan apapun yang disampaikan pembicara. Justru anda harus mempertanyakan, memunculkan tantangan atas segala sesuatu yang disampaikan. Tetapi pertanyakanlah, tantanglah dengan sikap terbuka, bukan membandel.

Jika melakukan demikian, artinya anda mendengarkan. Anda telah melangkah maju satu lagkah untuk "bangun" 

Monggo...

Tanjung Redep, 11:25, 9Feb2013

December 11, 2012

Senyum


Apakah benar-benar kita tersenyum?

Lho kok bertanya seperti ini? Apa yang salah? Apakah saat tersenyum dalam hati kita juga tersenyum? Apakah memang kita menebarkan senyum kita untuk sesama kita?

Atau...justru kita kita tersenyum hanya agar keliatan (baca: pura-pura) dan tercipta image ramah? Lalu untuk apa biar kelihatan ramah?

Nanti kalo kita kelihatan ramah, makin banyak orang mendekat, sebab ramah identik dengan baik hati....
Lalu tiba-tiba kita didatangi banyak orang minta tolong....
Urutan berikutnya kita merasa terganggu....
Dan kemudian merasa lho kok orang lain ndak mbantu kita?
Kok kita yang musti ngerti'in orang lain.....?
Lha kalo kita yang lagi down...siapa yang dapat kita temui atau telpon atau mau mendengar keluh kesah dan bahkan membantu kita?

Sebentar.......lho kok malah itung-itungan.
Jadi kayak orang dagang.
Pamrih.

Wah hidup jadi berat, sebab kita perlu ngitung, kalo kita senyum, bekum tentu kita dibalas drngan senyum. Kalo kita mendengarkan keluhan teman, belum tentu mereka akan mendengar keluhan kita...

Ndak ah.... Saya memilih untuk senyum, baik dengan otot-otot muka, hati juga.. Mu dibalas senyum ya monggo...ndak dibalas juga ndak apa-apa.
Klo satu kesempatan kita mau mendengar keluhan teman, ya ndak musti kita menganggap nanti dia musti mendengar kita. Jadi kalo mau ya monggo, atau saat tertentu kita sedang ndak mau mendengar ya ndak apa-apa....

Nanti kita dibilang sombong, ndak ramah... Ya mbok ben, biarin aja... Kalo hati dan niat kita mau lakukan, just do...., monggo. Kalo lagi ndak ma ya sudah. Mau diomongin, mau dibenci, ya biarin....

Jadi kembali ke atas, apakah kita mau senyum dengan "ringan" tanpa beban? Atau mau dengan beban yang itung-itungan? Silakan memilih, sumonggo kerso.

Jakarta, 19:56; 6Des2012